Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Most Wanted


__ADS_3

"Kak Rasya jahat," Ara memukul-mukul kasurnya lalu membenamkan wajahnya di bawah bantal.


"Awas aja nomornya gue blokir biar dia gak bisa ngubungin gue lagi," Ara pun beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Ara menekan layar pada ponselnya kemudian mencari kontak Rasya lalu memblokir nomornya.


"Rasain lo," Ara berbicara pada ponselnya lalu membuangnya ke atas kasur.


Seharian makan seblak itupun hanya satu suapan membuat perutnya keroncongan. Ara mengelus perutnya yang lapar. Setelah itu ia berjalan keluar kamar dan memasuki dapur. Ara mencari-cari ibunya. Tak menemukan ibunya di ruangan tengah ia pun menghampiri ibunya di dalam kamar. Ara membuka pintu perlahan dan menyembulkan kepalanya.


"Bu hari ini masak apa?" tanya Ara pada ibunya.


"Tinggal ikan teri sama sambal, tapi tenang aja kamu bisa tambah lalapan kerupuk," Bu Mia berjalan ke dapur dan memberikan kaleng kong guan kepada Ara.


"Ni kaleng nipu banget, luarnya biskuit dalemnya kerupuk," gumam Ara sambik geleng-geleng.


Bu Mia mengambilkan piring dan sendok untuk Ara lalu menyuruh putrinya untuk makan. Ia juga mengambilkan Ara nasi dan ikan teri yang dimasaknya.


"Ibu tidur duluan ya," Bu Mia mengelus rambut Ara dan tersenyum pada sang putri.


"Iya ibu istirahat saja," seru Ara sambil menyendok nasi.


Duduk sendirian sambil makan makanan seadanya tidak membuat Ara lupa bersyukur. Sejak kecil Ara selalu hidup dengan sederhana. Ibunya mengajari untuk tidak mengeluh dengan keadaan. Meskipun kehidupan mereka dijalani tanpa seorang ayah namun Ara tumbuh menjadi gadis yang baik dan patih pada ibunya. Tidak pernah sekalipun Ara menyakiti hati seseorang yang merawatnya dari kecil.


"Alhamdulillah kenyang juga ni perut," ucap Ara selesai makan.


...***...


Seminggu sebelum acara pemilihan ketua BEM berlangsung Lulu sibuk mempromosikan dirinya.


"Eh foto gue udah terpampang nyata di apapn pengumuman," gumam Lulu saat fotonya dicetak di sebuah kertas lembaran yang bertuliskan nama-nama kandidat calon ketua BEM yang baru.


Dengan membawa tumpukan lembar foto berisi promosi diri, Lulu menghampiri Rasya ke gedung fakultasnya.


"Kak Rasya," Lulu menghampiri Rasya di tempat duduknya.


"Kakak janji mau bantu aku promosi kan?" Lulu mengingatkan.


"Promosi apa Yang?" tanya Didu yang ada di samping Rasya.


"Nih," Lulu memberikan salah satu kertas pada Didu.

__ADS_1


"Weh mantap jaya calon pacar abang mau nyalon jadi ketua BEM," ledeknya.


"Lo muji apa ngledek?" Lulu memicingkan matanya.


"Kak Rasya bantuin!" rengek Lulu yang melihat Rasya tidak merespon ucapannya. Ia sampai menghentakkan kakinya karena kesal pada Rasy.


"Gue gak mau ah nyebarin brosur lo, norak tau gue bantu promos di medsos gue aja," tolak Rasya yang bergidik ngeri ketika membayangkan betapa malunya dia saat membagi-bagikan kertas unfaedah itu.


"Gak mau tahu pokoknya harus disebarin gue kan udah nolongin kakak kemaren, atau gue suruh Ara buat ngejauhin kakak,mau?" ancam Lulu.


"Atas dasar apa lo nyuruh Ara menjauh dari gue?" Rasya sedikit geram.


"Atas dasar kakak selingkuh, kemaren jalan sama siapa hayo?" selidik Lulu.


"Serius lo bray?" Didu menatap selidik ke arah Rasya."Ckck gak nyangka gue," imbuhnya.


"Gue cuma makan sama temen gue, lo lihat kan pas di parkiran kemaren, gue emang sengaja meluk temen gue biar Ara cemburu.Tapi Ara cuek aja pas peluk temen gue," kekuh Rasya ada rasa kecewa dalam wajahnya.


"No no no anda salah, Ara kemaren nangis gara-gara lihat kakak peluk tu cewek, sayangnya dia gak nunjukin secara langung," ungkap Lulu.


"Maksudnya?" tanya Rasya.


Rasya tersenyum tipis. Berarti apa yang dia lakukan kemaren berhasil.


"Terus?" tanya Rasya antusias.


"Terus terus, bagiin brosur gue biar gue gak keberatan," Lulu memindahkan tumpukan kertas yang dibawanya ke tangan Rasya.


"Oke gak masalah segini doang?" Rasya mulai beranjak dari tempat duduknya dan menyanggupi kesepakatan yang mereka ucapkan kemaren.


"Lo juga bantu ngabisin ni brosur," Rasya memberikan setengah lebih brosur yang dipegangnya pada Didu.


"Lah ko jadi gue," protes Didu.


"Bantuin lah itung-itung amal, ntar gue traktir deh di kafe gue," bujuk Lulu sambil merapatkan tangannya bermaksud untuk memohon.


"Kuy lah demi Ayang kenapa enggak, ntar kalau jadi abang juga yang seneng, lo bagi sebelah sana gue sebelah sini," perintahnya pada Rasya.


"Kenapa jadi lo yang ngatur ogeb," umpat Rasya. Bergaul dengan Didu semakin menambah kosakata Rasya yang tidak seperti awal-awal ketika dirinya sampai di Indonesia.


Lulu mengembangkan senyum di wajahnya melihat teman-temannya membantu.

__ADS_1


"Gak sia-sialah sampai gue dimarahi Ara kemaren," gumam gadis yang sedang menenteng tasnya di bahu sebelah kanan.


Rasya dan Didu mulai membagikan brosur promosi yang berisi foto Lulu dan nomor pencoblosan. Persis seperti acara promosi calon kepala daerah.


"Hai bisa minta tolong gak, jangan lupa pilih Lulu ya saat pemilihan ketua BEM nanti," ucap Rasya secara halus pada segerombolan mahasiswi yang sedang berkumpul sambil menyodorkan brosur pada mereka.


Mereka malah berteriak karena bisa melihat Rasya dari dekat. Wajahnya yang tampan dan blasteran Indonesia-Jerman membuat Rasya menjadi most wanted di kampusnya.


"Rasya foto dulu dong," ajak salah seorang mahasiswi yang sudah menerima brosur tadi.


Salah seorang dari mereka mengambil foto secara bergantian. Mereka asyik berselfie ria bersama Rasya. Rasya hanya bisa pasrah meladeni gadis-gadis yang mengidolakannya itu.


"Foto-fotonya udahan dulu ya, gue mau bagiin brosur ini," sebelum pergi sebuah ide melintas di pikiran laki-laki tampan itu.


"Kalian mau bantuin aku gak, nanti aku traktir deh," bujuk Rasya supaya gadis-gadis itu mau membantu. Dengan mengulas sedikit senyumnya saja sudah membuat gadis-gadis itu menuruti kemauannya.


Kelima gadis itu bersorak kegirangan. Ada yang sampai menutup mulutnya dengan tangan saking terkejutnya mendengar tawaran Rasya.


"Bagiin itu kan?" tebak salah satu di antara mereka.


Lalu dia mengambil brosur dari tangan Rasya kemudian membaginya menjadi lima. Kelima mahasiswi tersebut menyebarkan brosur hanya dalam waktu yang singkat.


Setelah mengucapkan terima kasih Rasya memenuhi janjinya untuk mentraktir kelima mahasiswi yang telah membantu dirinya menyebarkan brosur Lulu.


"Kalian pesan aja nanti aku yang bayar," ucap Rasya sambil tersenyum ke arah kelimanya.


"Aaaa" gadis-gadis itu berteriak seperti orang gila.


Di sisi lain Didu masih berdiri sambil menyebarkan brosur milik Lulu.


"Set dah harga diri gue jatuh kalau gini, perasaan dari tadi ni brosur gak habis-habis," Didu memandang dengan wajah frustasi karena jumlahnya yang belum berkurang.


"Gue balik duluan ya," Rasya menepuk pundak Didu sembari tertawa meledek.


"Sialan lo bray, ni gimana caranya ngabisin?" teriak Didu pada temannya yang sudah. semakin jauh.


"Gini amat dah nasib gue, perjuangan cinta, deritanya tiada akhir," keluh Didu.


...***...


Maaf upnya lama, dukung terus ya karya aku boleh komen-komen dan kasih saran supaya karya aku ini bisa lebih uwuw.

__ADS_1


__ADS_2