
Aku ingetin lagi ya bestie buat kasih dukungannya. Jangan pelit-pelit bagi poinnya buat karya aku dari pada mubadzir ini.
...❤️❤️❤️...
Sebulan kemudian
"Lulu," Ara berlari ke arah temannya yang sengaja datang ke kampus walau bukan jadwalnya kuliah.
"Apaan nih?" Lulu kaget ketika Ara tiba-tiba memeluknya.
"Video tok-tok yang elo bikin viral, pengguna jasa ojek online juga makin banyak, thanks ya bestie," Ara kembali memeluk Lulu dari samping.
"Duh duh jangan kenceng-kencenglah meluknya remek nih badan,"protes Lulu.
"Betewe elo gemukan ya sekarang, perut elo juga udah keliatan buncit," Lulu melihat Ara dari atas sampai ke bawah. Ia tak tahan untuk tidak mengelus perut Ara.
"Iya kan udah masuk 17 minggu," Ara mengusap-usap perutnya.
"Gue harap kehamilan elo lancar sampai persalinan nanti," kata Lulu dengan tulus.
"Oh ya jenis kelaminnya apa?" tanya Lulu penasaran.
"Belum tahu, terakhir kita USG belum nampak alat reproduksinya," jawab Ara.
"Eh elo ke sini mau ngucapin terima kasih doang?" tanya Lulu basa-basi.
Ara sudah mengerti maksud sahabatnya itu."Gak lah gue bawa bonus buat lo, nih dari kak Rasya," Ara menempelkan amplop berwarna coklat pada muka Lulu.
"Wih baik bener bu bos," jawab Lulu sumringah. Ia tahu isi dalam amplop yang lumayan tebal itu.
"Bagi ya sama Didu," kata Ara.
"Eh apaan neng?" sahut Didu yang baru datang.
"Bonus ya?" tanya Didu,tangannya hendak menyahut amplop yang ada di tangan Lulu tapi sayangnya tidak berhasil.
"Dih ogah," Lulu menyembunyikan amplop tersebut ke belakang punggungnya.
"Eh ko gitu Yang, kita kan kerjanya bareng-bareng, abang juga butuh kali buat beli kuota," protes Didu.
"Kalian lanjutin aja ributnya gue mau balik," pamit Ara meninggalkan keduanya.
Sementara itu Ara kembali ke kantor ojek online.Setelah memasuki semester kedua di kehamilannya, ia tak lagi mual terutama saat menaiki mobil. Tapi Rasya tetap tidak memperbolehkan Ara untuk menyetir sendiri. Kemanapun Ara pergi selalu ada sopir dan dua pengawal yang menyertainya.
__ADS_1
"Selamat datang bu bos," sapa Hana yang berdiri menyambut kedatangan istri pemilik saham terbesar di perusahaan tersebut.Meski cuma sebentar Mutiara selalu menyempatkan diri untuk visit ke kantor suaminya.Sedangkan Rasya sekarang lebih sibuk di kantor ayahnya.
"Bu bos saya mau nyerahin CV pelamar yang mau daftar jadi driver," Hana membawa setumpuk kertas yang lumayan tinggi.
"Ya ampun sebanyak itu?" tanya Ara.
"Punggung gue bisa sakit kalau kelamaan duduk buat nyeleksi ini semua," batin Ara yang merasa malas karena perutnya yang semakin membesar.
"Tolong panggilkan Pak Rio ke ruangan saya," titahnya pada Hana.
Tok tok tok
"Pagi, bu bos manggil saya," tanya Rio.
"Tolong bantu saya seleksi calon driver yang mendaftar ya," kata Ara.
"Tapi bu bos..." Rio belum menyelesaikan perkataannya namun Ara lebih dulu menyela.
"Saya percaya dengan kamu," ucap Ara lalu pergi meninggalkan ruangannya.
Rio menghembuskan nafasnya kasar.Mungkin ia harus lembur untuk mengambil alih seluruh pekerjaan bosnya itu.
"Kalau bukan istri bos yang minta udah aku tolak nih kerjaan," gumam Rio.
Ara menuju ke parkiran mobil."Antar saya menemui kak Rasya," titahnya pada sang sopir.
"Maaf apa anda sudah ada janji dengan pimpinan?" tanya resepsionis yang belum ada sebulan bekerja di kantor Antoni Grup.
"Bilang aja istrinya yang minta," resepsionis itu tak lantas percaya pada omongan Ara. Ia melihat perut Ara yang buncit tertutup dress warna krem selutut dipadukan dengan blazer hitam sebagai outernya."Mana mungkin dia istri bos," batin resepsionis tersebut.
"Maaf pimpinan tidak bisa menerima tamu sebelum buat janji terlebih dulu," tolaknya pada Ara.
Ara menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan agar resepsionis itu percaya padanya.Wanita yang sedang hamil itu akhirnya memutuskan untuk menelpon suaminya dengan ponselnya.Namun saat ia merogoh tas yang ia bawa, tidak ditemukan ponsel yang ia cari. Akhirnya Ara meminta bodyguardnya menelepon Rasya.
Setelah tersambung dengan ponsel Rasya bodyguard itu memberikan ponselnya pada Mutiara.
"Hallo, sayang aku ada di bawah, cepat ke sini," pintanya setelah itu menutup telepon lalu mengembalikannya pada sang pengawal.
Tak lama kemudian Rasya turun dari lift menuju ke lobi untuk menemui istrinya. Dia tidak sendiri, Adli ada di belakang mengikuti langkah atasannya.
"Sayang kenapa gak naik saja?" tanya Rasya.
"Kaki aku pegel buat jalan jauh jadi aku minta pegawai kamu buat menghubungi kamu tadi tapi gak dibolehin," Ara memicingkan matanya pada resepsionis baru itu.
__ADS_1
Glek
Wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu seakan tidak bisa menelan ludahnya sendiri setelah mengetahui kenyataan bahwa Ara adalah istri bos besarnya.Ia pun menunduk saat Ara menatap tajam ke arahnya.
Adli dapat membaca situasi yang dialami oleh istri atasannya itu. Lalu ia memberikan pernyataan,"maafkan dia bu, dia baru bekerja di sini jadi dia tidak mengenali anda." Ara mengangguk pelan. Dia bukan tipe wanita yang pendendam, jadi ia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Ada apa kemari?" tanya Rasya pada istrinya.
"Aku ingin mengajak kak Rasya makan siang bersama," ucap Ara yang bergelayut manja di lengan suaminya.
Bukan tanpa alasan Ara mengajak Rasya makan siang bersama. Pasalnya akhir-akhir ini mereka jarang bersama dikarenakan kesibukan Rasya yang begitu padat. Selain harus mengurusi perusahaan ayahnya, ia juga harus membuat skripsi karena laki-laki itu sudah memasuki semester akhir masa kuliahnya.Bahkan Rasya selalu tidur di atas jam dua belas malam untuk mengerjakan skripsinya.
"Hari ini kamu makan apa?" tanya Rasya.
"Pengen makan spagetti, aku lagi kangen sama masakan Ibu Emely," kata Ara.
Di sisi lain Ernest yang baru datang dari luar kantor melihat Ara yang kini lebih berisi sedang mengobrol dengan bosnya.
Sungguh ada rasa sakit yang tertinggal di hatinya melihat gadis yang dia impikan menjadi ibu untuk Chloe ternyata adalah istri orang lain.
Ernest mengangguk untuk menyapa Ara dan Rasya saat melewatinya. Keduanya tersenyum ke arah Ernest.
"Andai saja kita dipertemukan lebih cepat pasti kamu sudah menjadi milikku Ra," batin Ernest yang tersenyum getir saat berada di dalam lift seorang diri.
...***...
"Jadi kapan kakak sidangnya?" tanya Ara sambil menyendok spagetti di hadapannya.
"Masih empat bulanan, waktu itu kamu belum masuk HPL kan Yang?" tanya Rasya memastikan sidangnya tidak berbarengan dengan waktu kelahiran anaknya.
"Gak kak, HPL aku masih 23 minggu masih lama," jawab Ara.
"Owh syukurlah, kamu sekarang udah mulai gemukan," seru Rasya seraya memegang pipi mulus istrinya.
"Iya aku kan udah gak mual muntah lagi, sekarang aku lebih berselera makan," jawabnya sambil mengembangkan senyum di wajah cantiknya.
"Aku harap baby yang ada di dalam perut kamu sehat terus ya Ra," doa Rasya untuk sang istri.
"Kakak penasaran gak jenis kelaminnya apa?" tanya Ara.
"Apa pun jenis kelaminnya yang penting ibu dan bayinya selamat saat proses kelahiran nanti," katanya dengan lembut membuat hati Ara meleleh mendengar doa tulus yang ditujukan padanya.
"Kamu sendiri kapan ngambil cuti? ingat ya kamu jangan terlalu capek," omel Rasya.
__ADS_1
"Nanti ajalah kalau udah mepet HPL, soalnya aku ngerasa gak ada keluhan sekarang, dedek pinter deh bisa diajak kompromi sama mama," pujinya pada anak yang ada di dalam perutnya.
Rasya gemas melihat tingkah Ara. Ia merasa beruntung memiliki istri seperti Ara. Ditambah lagi kebahagiaan mereka akan menjadi sempurna setelah anak mereka lahir ke dunia nanti.