Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Tertangkap


__ADS_3

Tin tin


Suara klakson itu terdengar setelah beberapa menit Rasya menginjakan kakinya di dalam rumah.


Ceklek


Rasya pun menoleh saat seseorang membuka pintu. "Anak Ibu," seru wanita yang dia kenal betul.


"Cepat sekali sampainya bu,"


"Iya sewaktu ibu mengabari kamu ibu sudah ada di perjalanan," Emely melihat ke arah tangan Rasya yang terbalut.


"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya Emely.


"Oh ini tidak sengaja tadi aku memecahkan gelas bu," bohong Rasya.


Emely menatap ke dalam mata anak sulungnya itu. Nampak kebohongan di matanya, terlebih lagi Rasya masih memakai jaket motor yang belum ia lepas.


"Kamu yakin?" tanya Emely sekali lagi.


"Iya bu Rasya tidak apa-apa, apakah kita jadi menemui ibunya Ara?" tanya Rasya yang berlayut manja di lengan ibunya.


"Ya sayang, ibu hanya sebentar di sini, mari kita ke sana sekarang saja," ajak Emely pada putranya.


"Tunggu bu aku tidak mungkin memakai pakaian yang lusuh ini," Rasya meminta izin untuk berganti baju sebelum mereka ke rumah Ara.


...***...


"Siapa bu yang datang?" teriak Ara dari dalam kamarnya.


Saat Bu Mia membukakan pintu Rasya dan seorang wanita sudah berdiri di sana. Rasya meraih tangan Mia kemudian menciumnya.


"Selamat malam bu, saya datang bersama ibu saya," Mia menatap wajah wanita bule yang berdiri di hadapannya kemudian memberi senyum ramah.


"Silahkan masuk," ajak Bu Mia pada Rasya dan calon besannya.


"Terima kasih," balas Emely dengan ramah.


"Saya panggilkan Ara terlebih dulu," Bu Mia masuk ke dalam kamar Ara.


"Kasian sekali calon menantuku ini tinggal di rumah yang tidak layak huni seperti ini," batin Emely saat mengedarkan pandangannya pada seisi rumah.


"Bu, aku harap ibu bisa menghormati pemilik rumah," Emely tahu maksud anak sulungnya itu agar dia tidak sampai mengatakan sesuatu yang bisa menyakiti hati besannya nanti.


"Ibu," panggilan itu terdengar dari gadis yang mengenakan pakaian terbaik yang dia punya.

__ADS_1


"Ara, kamu apa kabar nak?" tanya Emely sambil mengelus rambut Ara saat Ara menunduk menyalami tangan Emely.


"Baik bu, maaf rumah kami sangat sederhana," ucap Ara sendu.


"Tidak masalah sayang, ibu ke sini cuma mau menyampaikan kabar mengenai hari pernikahan kalian yang akan diadakan sebulan dari sekarang," ucapan camernya itu membuat Ara mengerjapkan mata.


Lalu Ara menoleh ke arah Rasya seolah menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.Rasya menggedikkan bahunya.


"Bu, ibu belum bilang sama Rasya sebelumnya," tanya Rasya yang juga baru tahu beberapa menit yang lalu.


"Maaf Rasya ini keputusan ayah kamu, ibu cuma mau yang terbaik buat kalian," balas Emely.


"Maaf saya menyela silahkan duduk dan makan dulu," Bu Mia membawa senampan makanan yang sepertinya merupakan makanan pesanannya yang baru datang.


"Terima kasih bu, saya merepotkan," ucap Emely pada Mia.


"Tidak sama sekali, saya yang sungkan karena keadaan keluarga kami yang sederhana ini," Bu Mia terlihat minder di hadapan Emely.


"Saya tidak mempermasalahkan status seseorang bu, saya sudah mendengar banyak tentang Ara dari anak saya Andrea, Rasya pun awalnya menolak perjodohan ini, namun lihatlah akhirnya dia sendiri yang mencintai Ara," terang Emely.


"Saya tidak bisa berlama-lama, oh ya saya lupa menyerahkan ini," Emely menyerahkan beberapa paper bag kepada besannya.


"Saya harap kalian menyukainya,saya harus kembali," Emely memegang tangan besannya sejenak sambil tersenyum.


"Ibu tunggu sebentar," Ara memanggil ibunya Rasya kemudian mengambilkan bunga yang sempat ia beli tadi.


"Terima kasih sayang, ibu pamit ya," Emely memegang pipi gadis yang berdiri di hadapannya kini.


"Kami pulang Ra," Rasya yang belum sempat duduk dari tadi sudah harus mengantarkan ibunya kembali ke bandara.


Ara dan ibunya mengantarkan mereka sampai di luar. Rasya membukakan pintu mobil untuk sang ibu. Setelah keduanya masuk, Emely melambaikan tangan kepada Bu Mia dan putrinya.


"Ibu tidak menyangka Ra akan mendapatkan besan sebaik itu," rasa haru menyelimuti dada Bu Mia.


Merasa dirinya dari keluarga tidak mampu sedangkan Rasya adalah anak seorang konglomerat membuat Bu Mia sedikit ragu saat Rasya meminta izin untuk menjadikannya calon istri.


"Bu," ucap Ara lirih yang sama berkaca-kaca kemudian berhambur ke pelukan sang ibu.


"Tuhan tahu yang terbaik buat kita bu, Ara bersyukur keluarga kak Rasya tidak mempersalahkan status kita," tutur Ara.


...***...


Keesokan paginya Ara meminta izin pada Rio untuk datang terlambat ke kantor.


"Ada apa Ra elo tumben pagi-pagi ke sini, elo kan gak ada jadwal kuliah hari ini," tanya Lulu yang melihat Ara berjalan dengan tergesa.

__ADS_1


"Elo lihat Brian?" tanya Ara sambil mengedarkan pandangannya.


"Tuh lagi jalan sama cewek barunya," tunjuk Lulu ke arah dua orang yang sedang bergandengan tangan.


Dengan nafas menderu Ara menahan emosinya sambil mengepalkan tangannya. Lulu mengikuti langkah Ara yang setengah berlari.


Ditepuk pudak Brian dari belakang. Kemudian Ara melayangkan bogem mentahnya ke wajah saat Brian menoleh. Terlihat cairan merah segar yang keluar dari sudut bibir laki-laki itu.Keributan itu menjadi pusat perhatian mahasiswa yang ada di sekitarnya.


"Heh cewek sialan ngapain lo pukul cowok gue?" Ara mengerutkan keningnya.


"Ow setelah lo gue tolak lo secepat itu berpindah ke lain hati, dasar baji*ngan," Ara hendak memukul kembali Brian namun Rasya menahannya.


"Ra gue bisa jelasin," mohon Brian. Dirinya mengira Ara memukul wajahnya karena cemburu dengan Putri.


"Jangan pakai kekerasan sayang, tanganmu ini akan terluka," Rasya mengelus punggung tangan Ara sehingga meredakan emosinya.


"Biar gue aja," Didu sok jagoan ingin memukul tapi Rasya pun mencegahnya.


"Elo sebaiknya mengakui kesalahan yang elo buat," ucapan Rasya membuat Brian gelagapan.


"Apa maksud lo?" tanya Brian sedikit panik.


"Udah gak usah kelamaan langsung serahin aja dia ke polisi bray," Didu kembali bersuara.


"Ada apa sih Du?" bisik Lulu pada Didu.


"Dia tuh yang bikin temen gue Radith celaka Yang," Didu mengeraskan suaranya sehingga orang lain mendengar.


Putri tak kalah terkejutnya mendengar pengakuan Didu. "Bener apa yang Didu bilang?" bentak Putri pada Brian.


"Gak, kalian gak bisa nuduh gue sembarangan tanpa bukti," elak Brian.


Rasya yang sudah memendam amarah sejak tadi akhirnya memukul wajah Brian.Hanya dengan satu pukulan Brian jatuh tersungkur ke lantai.Rasya lalu mengusap wajahnya kasar.


"Sebentar lagi polisi akan datang, pertanggungjawabkan perbuatanmu di jeruji besi, bahkan hukumanmu tidak bisa mengembalikan nyawa saudara kembarku," ucap Rasya penuh penegasan.


Tak lama kemudian dua orang polisi membawa surat perintah penangkapan Brian.


"Saudara Brian kami membawa surat perintah penangkapan anda karena dianggap telah melakukan pembunuhan berencana pada saudara Radith," ucap polisi tersebut sambil mengangkat surat yang dibawanya.


"Ga saya gak salah," Brian memberontak saat polisi lain memborgol tangannya.


Didu yang kesal akhirnya menonyor kepala Brian. "Tampang doang bagus kelakuan amit-amit," umpatnya.


...***...

__ADS_1


Bagi-bagi poinnya ya biar novel ini tetep ada di beranda. Seenggaknya naik level dikitlah.


__ADS_2