
Suara tepukan meriah menyambut Ara yang selesai menyanyi. Bahkan Ernest sampai berdiri untuk memberikan tepuk tangan untuk Ara. Chloe merasa malu, gadis kecil itu pun menarik ujung jas daddynya.
"Duduk dad, banyak orang yang lihat," ucapnya dengan lirih dan penuh penekanan.
Ernest pun menuruti kemauan putrinya. Ia tersenyum pada Chloe. "Dimakan sayang," ucapnya.Chloe tidak menyentuh makanana di hadapannya. Ia hanya meminum jus yang dipesan.
"Oh ya daddy punya sesuatu buat kamu," Ernest memberikan kotak berisi perhiasan pada putrinya.
"Apa ini dad?" tanya Chloe yang antusias.
"Bukalah," Chloe mengangguk.
Ia tampak senang saat anak kecil berusia enam tahun itu mengetahui isi kotak yang diberikan daddynya."Wah cantik sekali," ucapnya dengan senyum yang lebar.
Ernest bangun dari duduknya lalu memakaikan kalung emas berinisial C pada bandulnya. "Cocok sekali sayang, anak daddy semakin cantik," puji Ernest pada putrinya.
Anak kecil berusia enam tahun itu terus memegangi kalung baru pemberian daddynya. Chloe juga senang mendengar pujian dari Ernest.
Sementara itu Ara yang baru turun dari panggung duduk di depan bartender. "Kak, minum dong, ets aku gak minum-minuman keras ya kaya yang waktu itu," wanita itu ingat saat ia pulang dengan keadaan mabuk.
"Ia tenang aja, gue kasih jus mangga mau?" katanya.
"Apa aja asal jangan alkohol," jawab Ara santai.
"Elo nanti pulangnya dijemput Ra?" tanya Lulu yang baru saja bergabung.
"Iyalah,gue gak dibolehin kak Rasya make motor sendiri," Lulu mengernyit heran kenapa temannya itu tidak memakai mobil saja padahal dirinya istri sultan.
"Apa nanti mau gue anterin pake mobil?" tawar Lulu.
"Gue gak bisa naik mobil, mabok gue," jawab Ata santai.
"Wah calon anak lo emang the best, ayahnya sultan tapi anaknya gak sombong,buktinya dia milih naik motor," puji Lulu.
"Ah lo bisa aja, emang lagi bawaan hamil kali ya,kata dokternya juga gitu, semester awal emang sering mual-mual," terang Ara mengingat apa yang pernah dikatakan dokter dulu saat ia periksa kandungan.
"Gue gak ngerti gue belum ngalamin," kata Lulu.
"Permisi," suara bariton itu membuat Ara menoleh ke sumber suara.
"Kamu yang kemaren ngambil layangan anak itu kan?" tanya Ernest pada Ara.
Lulu menoleh pada Ara meminta penjelasan dalam diam.
"Oh iya anda yang nolongin saya kan waktu itu," ucap Ara yang telah mengingat laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Iya, masih ingat?" tanya Ernest.
__ADS_1
"Masih," jawab Ara singkat lalu meminum jus mangga di hadapannya.
"Kamu kerja di sini?" tanya Ernest yang duduk di samping Ara tapi membelakangi Lulu.Lulu jadi kesal.
"Eh gak, ini kafe punya temen saya," Ara menoleh pada Lulu, kemudian diikuti Ernest.
"Lulu," wanita itu mengulurkan tangannya. Namun Ernest tidak membalasnya, ia hanya mengangguk pelan.
"Sial bener seumur-umur baru kali ini gue dicuekin cowok," batin Lulu yang tidak terima dengan sikap laki-laki di depannya.
"Aku boleh minta nomor telpon kamu gak?" pinta Ernest terang-terangan.
Ara mengerutkan keningnya. Ia menangkap niat tersembunyi laki-laki yang duduk di sampingnya itu.Namun, belum sempat ia menjawab, ia terkejut saat ada anak kecil yang mendekat.
"Daddy," seorang anak kecil menarik ujung jas Ernest. Laki-laki itu pun menoleh.
Lulu dan Ara saling beradu pandang. "Daddy?" batin Ara. "Duda?" batin Lulu.
"Maaf ya Ra aku pergi dulu, ini kartu nama aku," Ernest mengajak Chloe pergi menjauh.
Ara dan Lulu kemudian terkekeh setelah melihat keduanya pergi.
"Beruntung banget si lo Ra, banyak cowok yang ngejar-ngejar lo termasuk tu daddy duda," cibir Lulu.
"Sialan lo, gue udah nikah mana mungkin gue suka sama tu duda beranak satu, mana anaknya kelihatan angkuh lagi, lo liat gak tadi dia ngeliatin gue sambil melotot gitu," Ara menggelengkan kepalanya mengingat sikap anak kecil yang pergi bersama laki-laki itu.
"Eh elo kalau nikah sama dia kaya beli satu gratis satu, udah dapat bapaknya bonus anaknya pula," ejek Ara pada temannya itu.
"Dih, ogah lo gak lihat tadi tu cowok nyuekin gue, kesel gue kalau inget sikapnya tadi," Lulu mencebik kesal.
"Alah awalnya emang gitu didiemin ntar jadi didemenin,"goda Ara sambil mencolek dagu Lulu.
Drrt Drrt
Ponsel Ara berbunyi. Ia melihat ke layar ponsel, tertulis nama suaminya yang sedang menelpon. Ia pun menggeser layar ke tombol hijau.
"Ya kak," jawab Ara.
📞 "Setengah jam lagi aku jemput ya sayang," ucap Rasya dari ujung telepon.
"Iya," jawab Ara singkat lalu menutup telponnya.
"Lo mau pulang sekarang ya Ra?" tanya Lulu.
"Nanti kata kak Rasya setengah jam lagi dia nyampe sini," ucapnya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang ia bawa.
"Ya udah lo tunggu sini aja, gue tinggal dulu ya,"Ara mengangguk pelan.
__ADS_1
Lalu tidak sengaja Ara melihat seseorang yang dia kenal sedang memesan delivery order.Ara pun memastikannya dengan berjalan mendekat ke arah orang yang dia kenal.
"Mbak Siti ya?" tanya Ara memastikan.
"Eh, siapa ya saya lupa," ucapnya seraya berusaha mengingat wajah Ara.
"Saya Ara mbak, yang waktu itu ketemu di masjid pas sholat maghrib dulu, terus nanyain kerjaan ojek online sama mbak, ingat gak?" tanya Ara.
"Oh iya saya ingat sudah lama sekali, kamu jadi ngelamar jadi driver ojek online?" tanya mbak Siti yang seakan reuni bertemu teman lama.
"Jadi mbak, tapi sebentar,"
"Terus sekarang kerja di mana?"
"Saya di rumah mbak, kuliah tapi saya ambil week end tiap minggunya,"
"Oh ya sudah kapan-kapan kita ngobrol lagi, pesanan aku sudah selesai, pergi dulu ya," pamitnya pada Ara.
"Eh tunggu mbak," Ara mengambil beberapa lembar uang lembaran merah di dalam tasnya.
"Ini uang buat mbak," Ara menyerahkan uang itu pada mbak Siti.
"Uang apa ini?" tanyannya bingung.
"Anggap aja ini rejeki buat keluarga mbak," Ara memaksa Mbak Siti menerima uang itu.
"Terima kasih banyak ya, aku gak tahu harus ngomong apa," ucap mbak Siti dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu.
"'Ya mbak,sama-sama," jawab Ara dengan senyuman.
Setelah menerima uang dari Ara, mbak Siti pun pergi mengantarkan pesanannya. Lulu yang melihat sahabatnya memberikan uang pada salah seorang driver ojek online itu jadi bertanya-tanya. Ia pun menanyakan hal itu pada Ara.
"Lo kenal Ra sama driver itu?" tanya Lulu.
"Iya kenal, dia orang yang ngasih tahu kerjaan di kantor ojek online dulu," Ara mengingat pertemuan pertamanya dengan mbak Siti.
"Oh," jawab Lulu singkat. "Tapi kenapa lo ngasih dia duit?" imbuhnya.
"Yagh gue kasian aja, udah malam gini masih kerja, kan bahaya juga perempuan malam-malam kerja," ucap Ara sendu.
"Iya juga sih, gue jadi inget pas elo masih jadi driver ojek online, pasti hidup lo menderita banget ya," Lulu merasa kasian.
"Yagh namanya juga hidup, kadang di atas kadang di bawah, waktu itu keuangan gue masih susah, jadi gue milih kerja sambil kuliah, meskipun buat bagi waktu itu sebenarnya sulit, elo bayangin aja, pagi kuliah, habis itu kerja mpe malam, nyampe rumah gue harus ngerjain tugas sampai pagi, kadang waktu tidur aja tu hampir gak ada," terang Ara menceritakan kesulitan hidupnya dulu.
"Ckckck waktu dua puluh empat jam masih kurang ya buat lo Ra, salut gue sama bestie gue yang satu ini," Lulu memberikan tepukan buat Ara.
"Elo muji apa ngeledek sih, udah ah balik dulu, kak Rasya bentar lagi nyampe," pamit Ara pada Lulu. Mereka pun cipika-cipiki sebelum keduanya terpisah.
__ADS_1