Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Insiden Kecil


__ADS_3

Sementara itu di kantor Antoni Grup, Rasya yang baru menginjakkan kaki di lobi langsung disambut oleh Adli, asisten setianya.


"Selamat pagi pak," sapa Adli dengan ekspresi wajah yang datar.


Rasya mengangguk namun masih berjalan menuju ke lift. "Ada jadwal apa saja hari ini?" tanya Rasya tidak kalah datarnya.


"Pagi ini ada beberapa berkas yang perlu anda periksa pak, nanti siang kita akan makan siang dengan klien, sementara itu saja pak," jawab Adli sambil memegang tablet yang ada di tangannya.


Ting


Suara lift terbuka. Dalam lift tersebut penuh dengan karyawan. Rasya pun urung menaiki lift tersebut. Adli yang perhatian lalu menyarankan atasannya untuk menaiki lift khusus.


"Tidak, kita bisa menunggu sebentar," tolaknya.


Lalu seseorang berhenti di samping Rasya. Ia tersenyum ke arah Rasya. Namun Rasya tidak menanggapi laki-laki itu.


"Sial gue dicuekin," gerutunya dalam hati.


"Selamat pagi pak Ernest," sapa Adli pada teman kerjanya itu.


"Pagi pak Adli," balas Ernest dengan senyuman.


"Selamat pagi pak Rasya," sapa Ernest pada Rasya sedikit canggung.


Namun belum sempat Rasya menjawab lift sudah terbuka sehingga ia buru-buru masuk ke dalam lift. Ernest dan Adli mengikuti di belakangnya.


Suasana di dalam lift begitu sunyi. Tidak ada obrolan antara mereka bertiga. Oleh karena itu Ernest berinisiatif membuka percakapan di antara mereka.


"Maaf pak, adiknya tidak ikut?" pertanyaan Ernest membuat mendapatkan tatapan tajam dari Arrasya. Adli pun menoleh pada Ernest.


"Cari mati," umpat Adli pada Ernest dalam diam.


Tak lama kemudian lift terbuka. Adli kemudian mempersilahkan Rasya untuk keluar terlebih dulu.Rasya berjalan meninggalkan Ernest. Sedangkan Adli mengikuti bosnya itu sampai ke ruangan kerjanya.


Adli menelpon bagian keuangan untuk membawakan berkas-berkas penting yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh Rasya.


Lima menit kemudian seorang wanita cantik dengan blazer hitam dan rok selutut masuk ke ruangan Rasya membawa setumpuk berkas yang harus diperiksa olehnya.


"What sebanyak ini?" tanya Rasya frustasi melihat tumpukan berkas yang menggunung.


"Ya pak, karena pak Antoni jarang ke sini jadi tidak ada yang menghandle langsung, saya tidak berani mengambil keputusan tanpa persetujuan dari pimpinan," ungkap Adli jujur.


"Baiklah, aku akan memeriksa semuanya, tolong bawakan aku segelas kopi cappucino ke dalam ruanganku," perintah Rasya dituruti oelh Adli.


Lalu Adli meminta bantuan wanita dari bagian keuangan tadi agar menyampaikan pesanan Rasya pada OB.

__ADS_1


"Saya akan ke ruangan saya pak," pamit Adli. Rasya mengangguk.


Setelah Adli menutup pintu Rasya meraup mukanya kasar.Ia tidak sanggup menyelesaikan pemeriksaan berkas dengan cepat.


"Sial kalau begini caranya aku tidak bisa pulang tepat waktu," keluhnya.


Lalu Rasya melakukan panggilan video dengan ayahnya untuk menumpahkan kekesalannya.Ia pun menghadap ke layar ponsel keluaran terbarunya.


"Ayah benar-benar menyebalkan, lihatlah berkas yang harus aku periksa ini," Rasya mengarahkan ponselnya pada meja yang berisi banyak tumpukan kertas di atasnya.


"Hei, nak jangan mengeluh dulu, mulai kerjakan dan selesaikan tugasmu," ucap Antoni.


"Ck, bisa-bisa aku lembur kalau begini, ayah tahu aku tidak bisa pisah lama-lama dengan istriku,"


"Oh ya bagaimana kabar menantuku sekarang apa dia baik-baik saja? bagaimana dengan kandungannya?" tanya Antoni.


"Ara sedang menggantikan aku Yah di kantor ojek online ku,"


"Hei kenapa kau biarkan menantuku bekerja terlalu keras," omel Antoni.


"Ara yang memintanya Yah, dia tidak suka menganggur di rumah, bagaimana kabar ibu dan Andrea?" tanya Rasya balik.


"Mereka sedang menghabiskan uang ayah, lihatlah semenjak negara ini menetapkan sistem lock down, setiap hari mereka delivery order," curhat Antoni.


Rasya terkekeh, dia jadi mendapat hiburan mendengar penuturan Ayahnya. Lalu ia pun menutup sambungan video call dan mulai mengerjakan tugasnya.


Ehem


Suara deheman Ernest membuat Adli menoleh.


"Kenapa pak Rasya datang sendiri pak, kenapa tidak mengajak adiknya lagi?" pertanyaan Ernest membuat Adli menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Ernest lekat-lekat.


"Adik yang mana?" tanya Adli yang bingung.


"Gadis cantik kemaren yang pulang bersama pak Rasya," jawab Ernest bersemangat.


Adli menyungginggang bibirnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Ernest. "Itu istrinya bego," batin Adli menjawab pertanyaan Ernest.


Adli kemudian meninggalkan Ernest tanpa menjawab langsung pertanyaan duda beranak satu tersebut.


"Sial, bos sama asisten sama-sama kaya kulkas," umpat Ernest lirih. Ia pun kembali ke ruangannya.


Tok tok tok


"Masuk," Rasya mempersilahkan seseorang yang mengetuk pintu untuk memasuki ruangannya.

__ADS_1


"Permisi pak saya mengantar pesanan bapak," ucap seorang OB yang membawa kopi cappucino pesanan Rasya.


"Taruh saja di meja," perintahnya diikuti OB tersebut.


OB tersebut meletakkan cup kopi capuccino yang dipesan di luar. Karena tidak hati-hati ia menumpahkan kopi tersebut dan mengenai berkas yang harus diperiksa oleh Rasya.


"Assial," Rasya meraup wajahnya kasar. Tangannya mengepal menahan marah. Agar emosinya tidak meledak Rasya meminta OB tersebut keluar.


Lalu ia menelpon Adli untuk datang ke ruangannya. "Ke ruangan saya sebentar," perintah Rasya sembari menekan telepon antar ruangan.


Tak selang berapa lama Adli masuk ke ruangan bosnya. "Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Adli.


"Tolong berikan salinan berkas-berkas yang baru," perkataan Rasya membuat Adli bingung. Namun ia tak lantas berfikir pendek. Adli melihat ke arah meja ternyata masih terlihat kopi yang belum dibetulkan posisinya setelah menumpahi beberapa lembar berkas penting yang harus diperiksa oleh bosnya itu.


"Baik pak akan saya minta dari bagian keuangan," Adli pamit keluar ruangan.


Kemudian ia memasuki ruangan bagian keuangan dan menemui Ernest sebagai kepala divisi bagian tersebut.


"Tolong berikan salinan berkas yang kamu kirimkan ke ruangan Pak Rasya tadi pagi!" perkataan Adli membuat Ernest bertanya-tanya.


"Why?" pertanyaan simple tapi membutuhkan jawaban yang panjang untuk penjelasannya.


"Berkasnya ketumpahan kopi, jadi Pak Rasya meminta salinan laporannya," terang Adli.


"Ck sial kenapa si bos kurang hati-hati," gerutu Ernest yang menyalahkan bosnya.


Adli tidak bisa memberi penjelasan lebih lanjut karena dirinya juga tidak mengetahui sebab yang pasti, karena dirinya tidak bersama Rasya pada saat itu.


Adli memilih untuk meninggalkan ruangan Ernest setelah menyampaikan pesan Rasya.


"Pak saya sudah meminta bagian keuangan untuk menyalin berkasnya," Adli memberi laporan.


Lalu seorang OB masuk untuk membereskan meja Rasya. Namun orang yang berbeda dengan OB yang mengantarkan kopinya tadi.


"Ada apa pak?" tanya Adli saat mengamati bosnya yang terus melihat OB yang sedang membersihkan mejanya.


"Ah tidak, oh ya berapa lama saya harus menunggu?" tanya Rasya dengan halus.


"Saya belum tahu pak," jawab Adli datar.


"Baiklah sebentar lagi makan siang apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Rasya pada Adli.


"Baik pak, saya akan menyiapkan keperluan meeting di luar," kata Adli.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


Yuk dukung karya author biar masuk banner hehe


__ADS_2