Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Pansos


__ADS_3

"Baru pulang nak?" tanya Bu Mia saat melihat Ara menginjakkan kakinya di rumah.


"Kapan sih kamu pulangnya sore, tiap hari pulangnya malem terus, bukannya kuliah kamu jadwalnya Sabtu Minggu ya sekarang," omel Bu Mia.


"Iya bu habisnya Ara banyak urusan," elak Ara.


"Heleh bilang aja pacaran sama nak Rasya," ejek Bu Mia.


"Enggak bu tadi aku emang ketemu dia tapi bentar doang ko itu juga pas di makam Radith," mendengar ucapan putrinya Bu Mia menghentikan aktifitasnya yang sedang melipat baju.


"Kamu ke makam Radith?" tanyanya meyakinkan.


"Iya bu udah lama Ara gak ke sana jadi tadi habis pulang kerja mampir bentar," ungkapnya.


"Oh" ibunya melanjutkan lagi aktivitasnya melipat.


"Ara mandi dulu ya bu," Ara menyambar handuk yang ada di jemuran.


Seusai mandi Ara mendapatkan pesan dari Lulu.


"Ra elo tahu gak da pemilihan ketua BEM baru,"


"Emang udah masanya ya?" balas Ara.


"Iya gue mau nyalon ah,"


Ara menyemburkan minuman yang baru saja diminumnya.


"Wkwkwk lo gak ada tampang berwibawa Lu, atas dasar apa lo mau jadi calon ketua BEM, bukannya lo jarang aktif di kegiatan kampus?" pesannya pada Lulu.


"Gue pengen jadi populer, seenggaknya gue ikut berpartisipasi ngeramein tu acara biar orang-orang pada kenal sama gue,"


"Dasar orang gila," umpatnya pada Lulu saat membaca pesannya.


Setelah Ara membalas pesan Lulu ia membuang ponselnya ke atas kasur. Ara kemudian merebahkan diri. Belum ada lima menit dia sudah tertidur. Maklumlah kegiatan padat setiap hari membuat Ara capek. Meskipun di kantor hanya duduk mengamati komputer sembari menerima telepon pelanggan tapi letak kantor yang lumayan jauh dengan rumahnya membuat Ara merasa kelelahan.


Keesokan harinya Ara masuk kampus. Seperti biasa dia hanya masuk di hari Sabtu dan Minggu.


"Ara," panggil Lulu.


"Ngapain lo di sini? Bukan nya gak ada kelas ya lo," tanya Ara.


"Gue ke sini cuma mau nganterin berkas buat persyaratan daftar calon ketua BEM," Lulu masih berusaha mengatur nafas.


Ara menyentuh kening Lulu dan membandingkan dengan keningnya. "Gak panas."


"Paan si lo, gue gak sakit," Lulu menepis tangan Ara.


"Lo serius mau jadi calon ketua BEM? mantap," Ara menggelengkan kepalanya sambil mengangkat dua jempol namun tertawa meledek.

__ADS_1


"Senin depan pas acara pemilihan lo dateng ya,"pintanya.


"Sibuk gue kerja mana bisa bolos," Ara beralasan.


"Yagh lu suka tegaan sama gue," rengek Lulu.


"Lo udah siapin visi misi lo jadi ketua?" tanya Ara.


"Visi misi gue..." Lulu berfikir sejenak lalu berkata "ntar deh gue pikirin belakangan yang penting gue daftar terus foto gue dipajang di papan pengumuman, auto terkenal deh gue," Ara menepuk jidatnya.


"Pansos lo," cibir Ara.


"Ntar kalo gue udah terkenal gue bakal promosiin kafe bokap gue biar jadi rame, ini namanya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui," ucap Lulu dengan girang.


"Apa kata lo dah," Ara memutar bola matanya jengah.


"Lo jangan daftar ya, gue gak mau kita saingan," ancam Lulu.


"Ya gak lah gue gak minat kan kuliah gue juga non reguler, fokus kerja ajalah gue biar banyak duit," Ara tertawa pelan.


"Eh elo hari ini bawa mobil? gue pulangnya nebeng ya sampai kafe,"


"Siip, tapi gue masuk dulu ya, bye," pamit Ara sembari melambaikan tangan.


"Kabari kalau udah selesai," teriak Lulu.


Sementara itu di rumah Ara, Rasya sengaja datang berkunjung. Berdasarkan kesepakatan dengan Ara kemaren yang akan membuatnya jatih cinta sebelum hari H pernikahan, Rasya berinisiatif untuk menggali informasi dari ibunya Ara.


"Eh nak Rasya, Aranya sudah berangkat kuliah dari tadi," kata Bu Mia dengan ramah.


"Saya ke sini bukan nyari Ara," Bu Mia mengerutkan keningnya.


...Skip...


"Jadi gitu nak ceritanya," tak mendapat respon Bu Mia menoleh ke arah Rasya.Dilihatnya Rasya sedang mengeluarkan air mata. Sesekali menatap ke langit agar air matanya tidak jatuh.


"Cerita ibu memang sedih tapi kamu gak perlu terharu sampai gitu," seru Bu Mia.


"Saya kepedesan bu," Rasya masih meneruskan kegiatannya memotong bawang merah.


Bu Mia jadi tergelak. Disangkanya Rasya menangis karena terharu akan ceritanya tidak tahunya dirinya menangis karena matanya perih terkena bawang.


"Nanti habis ini masukkan ke dalam wajan ya bawangnya," perintah Bu Mia diikuti Rasya.


Namun Rasya yang tidak pernah menginjakkan kaki ke dapur merasa kebingungan.


"Gorengnya pakai apa ya?" batin Rasya.


Kemudian dia mengambil wajan. Namun ia sedikit jijik karena wajan yang ia pegang begitu hitam legam.

__ADS_1


"Bu wajannya belum dicuci ya?" tanya Rasya yang masih memegang wajan yang gosong itu.


Bu Mia mendekat ke arah Rasya.


"Wajannya emang gini nak, udah ibu bersihin tapi nodanya bandel, gak papa masih bisa digunakan untuk menggoreng,"


Bu Mia kemudian meletakkan wajan itu di atas kompor kemudian mengisinya dengan minyak.


"Masukin bawangnya ke dalam wajan trus goreng ya," Rasya pun menurut.


Sementara itu Bu Mia mengambil jemuran yang sudah kering. Rasya mencoba memasukkan bawang dengan hati-hati. Ia merasa lega setelah bawang yang dia iris tidak sama bentuk itu masuk ke dalam minyak panas semua.


"Seumur-umur gue belum pernah goreng ginian, tapi timbang bawang doang kecil lah," gumam Rasya.


Rasya melihat Bu Mia menyalakan api kompor kecil sekali. Kemudian Rasya memutar lagi supaya apinya menjadi lebih besar. "Biar cepet mateng," pikirnya.


Sayangnya begitu dirinya memperbesar api, penggorengan berisi bawang itu tiba-tiba mengebul.


Uhuk uhuk uhuk


Rasya terbatuk saat menghirup asap yang berasal dari penggorengan.Bu Mia kaget melihat asap yang mengepul di atas kompornya. Kemudian ia segera mengambil lap basah dan menggunakan nya untuk menutup wajan yang terbakar itu.


"Ya ampun nak Rasya kenapa bisa jadi terbakar begini?" omel Bu Mia yang merasa sedih karena dapurnya terbakar.


"Maafkan saya bu, saya membuat dapur ibu jadi kacau, biar saya bersihkan bu," Rasya merasa bersalah. Ada penyesalan di matanya.


"Tidak usah nak, biar ibu saja, kamu pulang ya sepetinya kamu perlu membersihkan diri," saran Bu Mia yang malah kasian melihat baju dan muka Rasya corang-coreng.


Akhirnya Rasya pulang setelah berpamitan pada calon mertuanya itu. Tak berselang lama Ara kembali dari kampus.


"Assalamualaikum bu," tak mendapat respon dari ibunya Ara masuk begitu saja.


Setelah dicari ternyata ibunya sedang membersihkan dapur yang habis terbakar akibat ulah Rasya.


"Bu dapurnya kenapa ko temboknya pada gosong?" tanya Ara yang kaget melihat dapurnya berantakan.


"Oh mau ibu rombak jadi ibu bakar dulu dapurnya," jawaban nyeleneh ibunya itu tidak ditanggapi oleh Ara.


Ara meninggalkan ibunya yang masih sibuk membersihkan bagian-bagian yang kotor. Ia mendudukkan pantatnya di atas kasur.


Drtt drtt


Ponsel Ara berbunyi. Kemudian ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan membuka pesan dari sahabat nya.


"Gue tunggu besok di car free day,"


...***...


Makasih buat yang masih ngikutin cerita ini, author belum nemuin cara gimana caranya Rasya bisa mengambil hatinya Ara.

__ADS_1


Jangan lupa favoritkan ya.


__ADS_2