Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Bayar Pakai E-Wallet


__ADS_3

"Eh kita makan bareng yuk?" ajak Andrea.


"Maaf aku gak bisa soale ini udah waktunya jam kerja," kata Ara sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Yagh sayang banget," Andrea merasa kecewa.


"Next time ya, nih aku kembaliin Cibul bul bul ke kamu," Cibul beralih ke tangan ibunya.


"Gue duluan ya semua," pamit Ara.


Radith ingin sekali mencegah Ara pergi tapi ia tidak mau menjadi pengganggu dengan membuatnya malas bekerja. Ia tahu pekerjaan itu ia dapatkan susah payah jadi Radith tidak mau Ara kehilangan pekerjaannya. Bagi Radith uang memang tak bernilai tapi bagi Mutiara Ramadhani uang adalah segalanya. Tanpa uang ia dan ibunya akan kesulitan bertahan hidup.


"Eh gue ke toilet sebentar ya," pamit Radith.


Saat ia dalam perjalanan ke toilet Radith tidak sengaja mendengar percakapan antara Brian dengan temannya.


"Eh bray elo serius suka sama cewek tukang ojek itu? Turun level dong selera lo," ejek teman Brian.


"Lo gila mana mungkin gue suka sama dia setelah gue tahu dia hanya cewek miskin," elak Brian.


"Gue kira lo serius suka sama dia, eh gimnaa kalo kita jadiin dia bahan taruhan, gue mau lo naklukin dia, kalo lo yang menang bakal bawa nih mobil baru gue," teman Brian memainkan kunci yang ia pegang di tangannya.


"Sia lan tu cowok berani-beraninya mempermainkan Ara," gumam Radith. Setelah itu ia pun pergi.


Sementara itu saat Ara akan memakai helm ia merasakan perutnya yang lapar.


"Dugh pake nolak ajakan Andrea segala sih makanya laper kan gue, tapi kalo gue terima gengsi dong ntar dikira gue suka beneran sama Radith," Ara sibuk bermonolog.


"Agh nyari makan dulu lah sebelum ke kantor," Ara pun mulai menghidupkan mesin motornya. Ia lalu menghentikan motornya di warung sederhana yang tak jauh dari kampus.


"Bu nasi pecel lelenya satu ya minumnya es teh," kata Ara yang sesang memesan makanan.


Saat Ara akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya ia tak sengaja melihat Putri yang digandeng oleh lelaki yang usianya lebih tua darinya. Kebetulan kaca di warung itu transparan jadi Ara bisa melihat jelas keadaan di luar.


"Gila tu Putri mesra banget digandeng sama om-om,hii..." Ara pun merasa risih.


"Mbak itu temannya ya?" tanya lelaki paruh baya yang sedang duduk berhadapan dengan Ara.


"Bukan pak itu kakak tingkat saya," jawabnya malas.


"Cewek itu emang sering turun di situ mbak, biasanya bukan laki-laki itu yang mengantar," gumam laki-laki yang sedang berbicara dengan Ara.

__ADS_1


"Masak ia Putri ngelakuin hal serendah itu, kelihatannya dia anak orang kaya, apa uang yang dia jadikan foya-foya itu bukan uang halal. Agh masa bodoh hidup-hidup dia ngapain gue pusing," batin Ara. Ia pun melanjutkan makannya.


Setelah ia selesai makan Ara menanyakan jumlah yang harus dibayar kepada pemilik warung. Ia pun hendak mengambil dompet di dalam tasnya. Namun, ia smaa sekali tidak menemukan dompetnya.


"Mampus gue dompet guw ketinggalan, bego banget deh lu Ra," batin Ara yang merutuki dirinya sandiri.


Lalu Ara memiliki ide.


"Bapak-bapak siapa di sini yang mau saya antar ke tempat tujuan?" tanya Ara to the point.


"Saya neng," seseorang mengangkat tangannya.


"Boleh, tapi uangnya bayar di muka ya pak,heheh," Ara tersenyum meringis.


"Ko gitu?" tanya calon penumpang itu tidak mengerti.


"Ia pak soalnya saya gak bawa dompet buat bayar makanan ini," jujur Ara.


"Oke bayar pake e-wallet ya," laki-laki itu bersiap untuk memencet layar hpnya namun Ara mencegahnya.


"Eee yang bener aj dong pak, mana mungkin bayar makanan di warung pake e-wallet," protes Ara.


"Ya udah emang berapa yang harus dia bayar bu?" tanya orang itu.


"Ini saya bayar uang ojeknya ya tapi saya kasih ke pemilik warung sesuai permintaan kamu," kata calon penumpang itu sambil mengeluarkan isi dompetnya.


"Oke siap pak saya akan mengantar bapak sampai tujuan tenang aja," kata Ara sambil mengangkat jempolnya.


"Lain kali kalau gak punya uang gak usah makan di warung neng," sindir ibu pemilik warung.


"Yaelah bu uangnya kan udah dibayar kalau saya gak makan sini ntar jualan ibu siapa yang beli," balas Ara.


Kemudian Ara dan calon penumpangnya siap melakukan perjalanan ke tempat tujuan. Di sepanjang jalan penumpang itu terus menanyai Ara.


"Neng ko mau si jadi tukang ojek?" tanya penumpang itu.


"Terpaksa pak," teriak Ara menjawab pertanyaan orang itu.


"Emang gak dikasih orang tua uang harian neng?" tanyanya sekali lagi.


"Bapak saya sudah meninggal pak, jadi saya membantu ibu mencari uang," kata Ara.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan.


"Uangnya sudah ya neng tadi pas di warung," kata penumpang Ara.


"Oke saya jalan dulu pak," pamit Ara.


"Jangan lupa feedback nya yang bagus," teriak Ara yang semakin menjauh.


Sebelum ia menuju ke kantor, Ara memutuskan untuk kembali ke rumah terlebih dulu. Ia ingin mengambil dompetnya yang ketinggalan.


"Selamet-selamet untung ketemu," kata Ara yang memukan dompetnya di atas meja kamarnya.


"Lho ko udah pulang Ra biasanya juga malem baru pulang," tanya ibunya.


"Ara cuma mau ngambil dompet bu terua balik lagi," pamit Ara seraya mencium tangan ibunya.


"Hati-hati nak," Bu Mia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ara kembali bekerja seperti biasa. Hari ini cuaca cerah cenderung panas. Ia merasa haus setelah mengantar beberapa penumpang.


"Gila hari ini panas bin gerah euy," kata Ara sambil menyeka keringatnya.


"Mampir beli es boba enak kali ya," Ara pun membelokkan motornya di indoapril terdekat untuk membeli boba.


"Mami" suara yang rasany tidak asing itu membuatnya ngeri.


"Hah kaya suara Cibul," batin Ara kemudian ia pun menoleh perlahan.


Benar saja Andrea yang baru keluar dari indoapril sambil menggendong Cibul dan beberapa barang belanjaan. Tak peduli akan dicibir atau apalah oleh Andrea karena ia sudah mengetahui profesinya, Ara lebih memilih membantu Andrea membawa batang belanjaannya.


"Aku bantu ya," Ara mengembangkan senyum ramah di wajah cantiknya itu. Meski ia terlihat agak kusam karena terbakar matahari ia masih terlihat cantik.


"Oh makasih," kata Andrea yang masih kaget melihat Ara dengan jaket khas tukang ojek online.


"Mami mami," Cibul ingin sekali digendong oleh Ara namun Ara menolaknya.


"Cibul sayang badan mami kotor Cibul digendong sama mama aja ya," Ara pun mempersilahkan Andrea untuk pergi dan menjalankan mobilnya setelah mendudukkan Cibul pada car seat miliknya.


"Bye..." Ara berdadah dadah ria.


"Biarin deh Andrea tahu yang sebenarnya toh gue gak malu cari uang dengan ngojek, halal ini," lalu ia kembali mengambil es boba pesanannya.

__ADS_1


"Mbak ini uangku," Ara menyeruput es boba rasa permen karet itu sampai tandas.


"Hah hilang semua beban gue habis minum es permen karet," setelah membuang bungkusnya ia pun kembali bekerja.


__ADS_2