Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Oh Adek


__ADS_3

Rasya memandangi wajah cantik istrinya. Mereka selesai melakukan percintaan panas itu. Ia telah menepati janjinya dengan melakukannya dengan lembut agar Ara tidak merasa kesakitan terlebih ia harus menjaga bayi yang ada di dalam kandunganya.


"Terima kasih sayang," ucapnya lirih lalu mengecup kening istrinya.


Ponsel Rasya berbunyi. Ia mendapatkan telepon dari ayahnya.


📞 "Ya Yah" sapa Rasya.


"Ayah ingin kau mengunjungi perusahaan ayah yang ada di Indonesia, ayah tidak bisa ke sana karena isu virus yang beredar, pemerintah Jerman melarang warganya untuk bepergian ke luar negeri,"


"Baik yah," jawab Rasya singkat lalu ia memutuskan sambungan telepon.


Rasya bangun terlebih dulu. Dengan badan setengah telanj*ng ia turun dari atas ranjang kemudian berlalu ke kamar mandi. Ia membiarkan istrinya tertidur.


Tapi siapa sangka perut Ara tiba-tiba merasa mual. Ia ingin muntah. Ara kemudian bangun lalu menggedor pintu kamar mandi. Sedangkan Rasya saat itu belum menyelesaikan mandinya.


"Buka kak,aku pengen muntah," teriak Ara dengan sedikit memaksa.


Dengan terpaksa Rasya membuka pintu kamar mandinya. Laki-laki itu keluar dengan handuk yang terlilit di pinggang dan rambut yang masih dengan penuh busa sampo. Ara yang melihat penampilan suaminya itu ingin rasanya tertawa tapi ia urungkan karena perutnya lagi-lagi terasa mual.


"Kamu gak papa Ra?" tanya Rasya yang mendekati istrinya. Dengan sabar ia memijit leher bagian belakang agar Ara bisa sedikit lega.


"Udah kak udah gak pengen muntah lagi, tapi pengen ketawa boleh gak?" ujarnya.


Rasya melihat penampilan dirinya dari atas sampai bawah. Ia menghela nafasnya kasar. Taramat malu berdiri di hadapan istrinya.


"Ayo mandi sekalian sama aku," Rasya mendorong tubuh Ara sampai jatuh ke dalam bathup.


"Kak Rasya," teriak Ara namun terkekeh juga.


Setelah melakukan berendam bersama selama setengah jam Rasya mengakhiri kegiatan mandi mereka.


"Sayang pagi ini kakak ada meeting di kantor ayah, sementara waktu ayah tidak bisa mengurus perusahaannya yang ada di Indonesia, kamu dengar tentang isu virus berbahaya yang mulai menyebar akhir-akhir ini?" tanyanya pada sang istri.


"Iya, apakah keluarga kita yang ada di Jerman tidak bisa datang ke Indonesia karena itu?"


"Iya, pemerintah Jerman melarang warganya bepergian ke luar negeri sampai virus itu dinyatakan hilang," ucap Rasya sambil mengenakan kemejanya.


"Emm cukup berbahaya juga ya, kak aku bolleh ikut gak, aku bosen di rumah," rengek Ara


"Boleh tapi bawa mobil," pungkas Rasya.


"Pakai motor ajalah kakak kn tahu kalau aku gak tahan bau AC mobil," Ara mencebik kesal


"Kakak punya solusi kamu bisa pakai masker, masak iya kakak udah rapi gini pakai jas tapi pakai motor," Rasya mengungkapkan ide cemerlangnya.


"Nanti kalau tetep mabok perjalanan gimana?" tanya Ara cemas.


"Kan belum dicoba sayang," ucap Rasya seraya mengelus sayang pipi istrinya yang mulus.

__ADS_1


"Ya udah aku siap-siap dulu ya kak," ucapnya girang setelah Rasya memperbolehkannya ikut.


...***...


"Kalian pagi-pagi sekali udah rapi,mau kemana?" tanya Bu Mia melihat Ara lalu Rasya secara bergantian.


"Mau ke kantornya Ayah bu," kata Rasya.


"Kamu Ra?" tanya Bu Mia pada putrinya.


"Ikut kak Rasya kerja," jawabnya sambil mengoles roti dengan selai cokelat lalu memberikannya pada sang suami.


"Jadi apa? emang bener nak Ara ikut kerja sama kamu?" tanya Bu Mia pada menantunya.


"Ara hanya menemani saya bu, katanya dia bosan di rumah," jawab Rasya.


"Kamu kan bisa nemenin ibu masak Ra,"


"Ah ibu aku gak tahan sama bau bawang bu, bawaanya mual terus,"


"Oh iya kamu kan lagi hamil muda, ibu lupa, ya sudah kamu jangan ganggu nak Rasya kerja kalau di sana," goda Bu Mia.


"Ya gak lah bu, berangkat dulu ya bu," Ara meraih tangan ibunya untuk bersalaman.Begitu pun Rasya.


"Nanti jangan jajan sembarangan ya Ra," teriak Bu Mia yang melihat keduanya pergi.


...***...


Laki-laki tampan itu lalu membukakan pintu mobil untuk Mutiara."Makasih kak," ucapnya seraya tersenyum pada sang suami.


Rasya mengangguk lalu menutup pintu mobil dengan pelan. Kemudian ia memutari mobil untuk duduk di kursi kendali."Sudah siap?" Ara mengangguk pelan.


Sepertinya apa yang dikatakan Rasya itu benar. Ketika memasuki mobil Ara tidak merasakan mual selama ia menggunakan masker untuk menutup hidungnya.


"Wah sepertinya aku tidak akan mual kak, ini berkat saran kakak," pujinya pada sang suami.


"Iya, jangan bikin mama repot ya sayang," ucap Rasya sambil mengelus perut Ara dengan satu tangannya.


"Iya papa," jawab Ara meniruka suara anak-anak lalu tertawa bersama.


Empat puluh menit kemudian mereka sampai di perusahaan Antoni yang bergerak dalam bidang perakitan mobil.


"Wah besar sekali kak perusahaan Ayah," puji Ara memasuki lobi perusahaan.


"Iya, ada beberapa anak perusahaan yang sedang dikembangkan juga,"


"Wah kalau dikolaborasikan kakak sama ayah benar-benar raja jalanan, hebat," gumam Ara.


"Selamat datang pak," seseorang menyambut kedatangan Rasya.

__ADS_1


"Saya Adli yang akan menjadi asisten bapak selama menggantikan tuan Antoni di perusahaan ini," Adli mengulurkan tangan untuk menyapa Rasya.


"Oke dimana kita akan mengadakan meeting kali ini?" tanya Rasya secara langsung.


"Mari saya antarkan, nona?" Adli menunjuk Ara.


"Perkenalkan dia istriku," Rasya merangkul bahu Ara untuk menunjukkan kepemilikannya.


"Oh baiklah, nona bisa tunggu di ruangan pak Rasya selama pak Rasya mengadakan meeting," ucapnya dengan sopan.


"Tidak aku ingin tahu dimana kantinnya," tanya Ara pada Adli.


Adli melihat sekitarnya lalu memanggil salah seorang karyawan wanita untuk mengantarkan Ara ke kantin kantor. Ia tidak mau jenuh menunggu Rasya di ruangan yang sepi sendirian. Jadi ia putuskan untuk membeli camilan sembari menunggu Rasya selesai meeting.


Ketika Ara berjalan ke arah kantin, ia berpapasan dengan Ernest.


"Hai," Ernest menyapa Ara.


"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Ernest.


Belum sempat Ara menjawab Ernest dikejutkan dengan seseorang yang memberitahukan bahwa rapat dengan anak pimpinan perusahaan akan segera dimulai.


"Bisakah kamu menunggu sebentar, aku ada meeting, nanti akan kutemui setelah meeting selesai," ucapnya pada Ara, namun Ara tidak menanggapi.


Ernest berjalan memasuki ruang meeting. Di sana sudah ada beberapa orang penting uang menunggu. Ketika ia duduk di kursinya, ia melihat ke arah kursi yang di duduki oleh pemuda yang ia kenal.


"Wajahnya tidak asing, tapi dimana aku pernah bertemu dengannya?" batin Ernest.


"Mohon perhatian semuanya, saya akan memperkenalkan anak pimpinan perusahaan yang akan menggantikan Tuan Antoni sementara waktu," kata Antoni.


"Ya aku baru ingat pemuda ini yang telah menolongku saat aku dirampok di depan toko perhiasan waktu itu,"


"Saya Arrasya Ramadhan beberapa bulan ke depan saya akan memimpin perusahaan untuk menggantikan ayah saya,mohon kerjasamanya" ucapan Rasya diikuti tepuk tangan oleh beberapa karyawan yang hadir dalam meeting pagi itu.


Setelah meeting usai Rasya tidak langsung menyusul Ara ke kantin. Ia hanya mengirimkan pesan untuk menunggunya sebentar lagi karena ada beberapa berkas yang harus ia periksa.


Ara sabar menunggu sambil meminum jus yang ia pesan. Lalu seseorang menghampirinya.


"Lama ya nunggunya?" tanya Ernest yang tiba-tiba duduk di depan Ara.


Ara jadi tidak nyaman. Kenapa laki-laki itu terus saja mengikutinya. Ia juga mengambil kentang goreng milik Ara tanpa seizinnya. Ara jadi mengerutkan kening.


Lima menit kemudian Rasya menyusul Ara ke kantin.Ia berdiri di belakang Ernest meminta penjelasan pada Ara dalam diam.Ara mencoba mencairkan suasana dengan membuka obrolan.


"Eh udah selesai kak meetingnya?" tanya Ara pada Rasya yang membuat Ernest menoleh ke belakang.


Ia pun berdiri untuk menghormati atasannya."Kakak? jadi mereka bersaudara, jadi dia juga anak pimpinan perusahaan ini?" batin Ernest dengan segala pertanyaan yang membuncah dalam benaknya.


"Yuk balik," ajaknya pada sang istri.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan Ernest, Rasya dan Ara melewati laki-laki itu begitu saja. Lagi-lagi Ernest gagal mendekati Ara. Rasya sudah lebih dulu merangkul bahu Ara.


"Tadi siapa Yang?" selidik Rasya pada istrinya.Ara hanya menggeleng. Ia tidak mau berbicara banyak karena takut Rasya salah paham karena waktu itu Ara tidak sengaja jatuh dipelukan duda yang juga menjadi karyawan Rasya di perusahaan ayahnya.


__ADS_2