
Saat Ara melihat beberapa pemotor datang mendekat ke arah Rasya. Ia segera berlari ke mobilnya. Ara mulai menyalakan mesin dan melajukan mobilnya mendekati sang suami.
Ia tahu Rasya tidak akan mampu melawan banyaknya orang saat berkelahi dengannya nanti apalagi mereka membawa senjata.
"Kak masuk," teriak Ara dari dalam mobil.
Rasya berlari dan membuka pintu mobil dengan cepat. Saat dipastikan suaminya masuk, Ara segera tancap gas melewati para pemotor itu. Ia melajukan mobilnya kencang.
"Sayang hati-hati," Rasya sampai berpegangan agar ia tidak terbentur saat Ara menyetir.
"Kakak diam saja," ucap Ara tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Ah jangan diam saja cepat telepon bantuan," teriak Ara membuat Rasya panik.
Rasya menelepon Adli untuk meminta bantuan. Saat ia akan memasukkan kembali teleponnya ke dalam saku, ponselnya terjatuh. Rasya berusaha meraih ponselnya namun sayang kepalanya kepentok dashboard mobil.
"Ups maaf kak," ucap Ara sedikit terkekeh saat mendengar suara benturan kepala Rasya.
"Kita kemana Ra ini bukan jalan pulang," tanya Rasya saat melihat Ara membawa mobilnya di jalur yang berbeda dari arahnya menuju ke rumah.
"Maaf kak aku panik aku sampai lupa jalan pulang," jawaban Ara membuat Rasya menepuk jidatnya.
Laki-laki keturunan Indonesia-Jerman tersebut melihat ke arah belakang mobilnya untuk mengamati pemotor yang masih mengejarnya.
"Sini biar kakak ambil alih," Rasya mengambil kendali setir yang dipegang Ara
Setelah melepas sabuk pengamannya, Rasya melepas sabuk pengaman yang dipakai Ara lalu mengangkat pantat istrinya kemudian didudukkan di atas pahanya.
"Kak Rasya apa-apaan?" tanya Ara yang kaget saat pantatnya terangkat.
"Diamlah sayang nanti kamu akan membangunkan juniorku," protes Rasya.
Rasya menyetir dengan posisi Ara di atas pahanya. Ara yang hendak beralih ke kursi penumpang ditahan oleh tangan Rasya.
"Kak aku mau pindah," rengek Ara.
"Baiklah," Rasya mengalah mempersilahkan istrinya berpindah ke kursi penumpang yang ada di sampingnya agar ia bisa fokus.
Ketika Ara akan berpindah Rasya menurunkan laju mobilnya. Sialnya pemotor itu bisa mengikuti Rasya.Bahkan kini mereka memepet mobil Rasya.l Ia merasa kecolongan. Dari luar kaca mobilnya digedor-gedor oleh preman tersebut.
Rasya kembali melajukan mobilnya. Akan tetapi mobilnya tiba-tiba dihadang oleh salah satu pemotor yang berhasil mendahului Rasya.
__ADS_1
"Kak bagaimana ini?" tanya Ara panik.
"Tenang sayang, aku sudah memanggil Adli kita tunggu saja," Rasya mencoba menenangkan Ara dengan menggenggam tangan istrinya.
"Heh keluar lo," teriak anggota pemotor tersebut sambil mengacungkan tongkat baseball.
"Kak jangan turun," Ara menahan tangan suaminya agar tidak melayani para pemotor itu.
"Kamu tetap di sini, aku akan menghadapi mereka, kunci mobil, jangan keluar tanpa perintahku," Ara menuruti perintah suaminya.
Air matanya sudah menetes di pipi. Rasya mengusap air mata istrinya lalu turun. Ara benar-benar takut. Ia lalu menelpon Didu untuk memintanya memanggil polisi. Tak lupa Ara mengirimkan lokasi terkini dirinya berada.
Tak lama kemudian Adli yang mengenakan baju casual bersama beberapa orang bodyguard berpakain hitam turun dari mobil. Ara menjadi sedikit lega.
"Pak maaf saya terlambat," sapa Adli pada bosnya.
"Tidak, kau datang tepat waktu," puji Rasya.
"Anda bisa masuk ke dalam mobil dan pulang bersama istri anda, biar saya yang menangani para cecunguk ini," Adli mengarahkan tatapan tajamnya pada anggota pemotor yang masih berada di atas motor mereka masing-masing.
"Tidak, mari hadapi bersama," ucap Rasya yakin.
"Heh kalian malah reunian," ejek anggota geng motor tersebut.
"Hajar," perintahnya mengarahkan anak buahnya untuk menyerang Rasya.
Adli dan bodyguard suruhannya mulai berkelahi dengan anggota geng motor tersebut. Demikian halnya dengan Rasya. Sedangkan Ara hanya bisa menyaksikan suaminya berkelahi dari dalam mobil. Kalau saja ia tidak sedang hamil mungkin ia akan ikut membantu suami kesayangannya itu menghajar para preman yang mengganggunya.
"Agh Didu lama amat sih gak nyampe-nyampe," keluh Ara yang panik menanti kedatangan Didu dan polisi yang ia minta.
Ara melihat seseorang hendak menyerang suaminya dari belakang. Ara pun berteriak dari dalam mobil. Untungnya Adli berhasil melindungi Rasya. Ia menendang anggota geng motor yang hendak memukul Rasya dengan tongkat baseball nya.
"Terima kasih," ucap Rasya disela-sela perkelahiannya.
Adli merasa tersanjung. Tidak ia sangka bosnya selama ini dingin ketika di kantor, ternyata bisa juga mengucapkan kata terima kasih sambil tersenyum padanya.
Adli pun mengangguk dan tersenyum. Rasya tak sengaaj mengarahkan pandangan ke mobil yang ia miliki. Seseorang ingin berniat memukul kaca mobilnya. akan tetapi Rasya dengan cepat berlari dan menendang keras laki-laki itu dari samping. Sehingga laki-laki itu jatuh bersama tongkat yang ia pegang.
Tak lama kemudian suara sirine mobil polisi terdengar mendekat. Para anggota preman motor tersebut berhamburan seperti lebah yang terusik. Mereka yang masih bisa bertahan mencoba kabur dengan motornya. Namun sayang polisi lebih dulu mengambil tindakan dengan menembakkan timah panas di bagian kaki salah seorang preman.
Anggota kawanan lain jadi berfikir ulang untuk kabur dan memilih menyerahkan diri.
__ADS_1
Ara segera turun dan berhambur di pelukan Rasya. Ia menangis tersedu-sedu.
"Hei berhentilah menangis," Rasya mengelus rambut panjang istrinya.
"Bray maaf gue datangnya telat," ucao Didu yang mendekat ke arah Ara dan Rasya yang sedang berpelukan.
"Elo kemana aja sih Du, diteponin dari tadi datangnya sejam kemudian," omel Ara.
"Dih neng Ara sejam darimana gak ada setengah jam, lagian nelponin malam-malam kan abang pas lagi molor," balas Didu.
"Huu dasar," ejek Ara.
"Makasih ya Du elo udah bawa pihak yang berwajib ke sini, gue gak tahu mesti gimana ngucapin terima kasih ke elo," kata Rasya panjang lebar.
"Sama-sama bray, kita kan bestie," Didu merangku bahu sahabatnya.
"Dih belok lo," cibir Ara.
"Pak semua sudah beres, selanjutnya saya yang akan mengurus mereka di kantor polisi," ucap Adli melapor pada atasannya. Rasya mengangguk pelan.
"Kak Adli terima kasih banyak ya udah bantu kami," ucap Ara dengan tulus.
"Sudah kewajiban saya nona," jawab Adli ramah.
"Wih orang baru, tampangnya lumayan juga," batin Didu.
"Kami pulang dulu," Rasya menepuk bahu Adli. Adli mengangguk. Lalu ia membukakan pintu untuk istri bosnya itu.
"Silahkan nona," Adli mempersilahkan Ara masuk.
"Kak Adli tadi keren sekali nanti aku kenalin sama temen aku ya," canda Ara sebelum masuk ke dalam mobil.
Mendengar perkataan Ara, Didu sudah berfikir kalau laki-laki yang bernama Adli tersebut akan diperkenalkan pada Lulu. Setahu Didu hanya Lulu yang selama ini menjadi teman dekat Ara.
"Sial gue bakal punya saingan," gumam Didu.
Gara-gara sibuk bermonolog Didu sampai lupa kalau dirinya menumpang mobil polisi saat ke lokasi itu. Sialnya ia tertinggal saat semua mobil polisi yang ia lihat sudah melaju membawa para penjahat yang berhasil ditangkap.
"Oh My Dad, gue pulang naik apa? masak iya gue terbang ntar dikira kunti dong," ucapnya seraya melihat kaos putih oversize yang ia kenakan.
Adli yang melihat Didu kebingungan, mencoba menawarkan bantuan. "Anda butuh tumpangan?" pertanyaan Adli tak kantas dijawab oleh Didu.
__ADS_1
Laki-laki yang menyukai Lulu terang-terangan itu pun berfikir sejenak."Kalau gue terima gengsi, tapi kalau gue tolak alamat gue tidur di jalan,hua..." tangis Didu dalam hati.
"Kuylah," Didu masuk begitu saja tanpa disuruh ke mobil Adli. Adli hanya bisa menggeleng melihat sikap Didu yang kurang sopan itu.