Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Mabuk perjalanan


__ADS_3

"Sial bener nasib gue, habis babak belur digebukin masa," ucapnya agar berlebihan.Didu meringis saat memegang pipinya yang lebam.


"Nih coklat dingin buat lo," Lulu menyodorkan satu cup minuman coklat untuk laki-laki yang berdiri di depannya.


"Makasih," ucap Didu menerima minuman dari tangan Lulu.


"Eh neng Lulu tadi mah tega banget ninggalin abang, sumpah dagh tega beneran tega," Didu cemberut.


"Alah lo kan bisa bales Du kenapa tadi dipukuli diem aja, ogeb," Lulu menoyor kepala Didu.


"Tuh kan masih sakit nih Yang," tiba-tiba panggilannya berubah.


"Cup cup cup mana yang sakit?" tanya Lulu dengan suara manja.


"Di sini neng," Didu menunjuk pipinya yang lebam.


"Alah modus," lagi-lagi tangan Lulu menoyor muka Didu membuat Didu meringis kesakitan.


Ting


Notifikasi pesan masuk di ponsel Lulu. Lulu pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas."Eh Ara masuk rumah sakit," ucapnya memberitahukan pada laki-laki di depannya.


"Ya ampun kenapa neng Mutiara kesayangan bisa masuk rumah sakit Yang?" tanya Didu panik.


"Sialan nih cowok ngejar gue setengah mampus, tapi giliran gue nyebut nama Ara dia langsung tanggap,gue pukul juga nih pakai sepatu," ucap Lulu dalam hatinya geram.


"Udah berangkat sekarang ke rumah sakit yuk," Lulu menarik tangan Didu. Didu tersenyum-senyum melihat tangannya ditarik oleh wanita yang ditaksirnya.


Tanpa basa-basi Lulu mengajak Didu mendekat ke mobilnya.Wanita itu menyerahkan kunci mobilnya agar Didu yang menyetir.


Sesampainya di rumah sakit tempat sahabatnya dirawat, Lulu segera menghubungi Rasya untuk mengetahui tempat Ara dirawat.


"Ya ampun Ra elo ko bisa sampai masuk rumah sakit sih, gimana ceritanya?" Lulu menghujani pertanyaan pada sahabatnya yang baru sadar itu.


"Lu Ara baru saja sadar tolong berikan dia kesempatan untuk beristirahat," ucap Rasya yang peduli pada istrinya.


"Tau nih Yayang, neng abang kaget waktu dikabari Ayang, kok bisa sih masuk rumah sakit?" Didu menanyakan pertanyaan yang sama.


"Elo juga sama aja," Lulu meraup muka Didu kasar.


"Kalian tidak perlu khawatir, aku hanya kelelahan," jawab Ara dengan suara yang lemah.


"Kata dokter Ara sakit apa kak?" tanya Lulu yang menoleh pada Rasya.

__ADS_1


"Kata dokter sebagian wanita mengalami hal yang sama di semester awal," ucap Rasya yang membuat kedua temannya bingung.


Lulu berusaha mencerna omongan Rasya.Ia sedikit berfikir." Ya ampun elo hamil Ra, gue mau punya ponakan nih?" Lulu menatap Ara lalu Rasya secara bergantian.


Ara hanya tersenyum. Sedangkan Rasya mengangguk pelan.


"Gue seneng banget Ra," Lulu memeluk tubuh temannya yang masih terbaring lemah.


"Serius, kita akan punya ponakan? wah tokcer juga ya bray elo," Didu mengikuti lengan Rasya.


"Oh ya Ra gue lupa ngasih buah ini ke elo, makan yang banyak ya biar bayi dalam kandungan elo sehat," Lulu mengelus perut Ara yang masih rata.


"Iya terima kasih ya Lulu sayang," ucap Ara sedikit haru.


"Kapan kalian boleh pulang?" tanya Didu.


"Kemungkinan besok baru boleh pulang setelah Ara sehat betul."


...***...


Keesokan harinya Ara sudah diperbolehkan pulang. Radya dan Bu Mia membantu memberesi barang-barangnya.


"Sayang aku sudah siapkan mobil, sini aku gendong biar gak capek," Ara menepis tangan Rasya pelan.


"Ibu akan membawa tasmu," Bu Mia mengikuti anak dan menantunya yang berjalan menuju ke tempat parkiran.


Rasya mendorong Ara sampai di tempat parkiran. Lalu ia membukakan pintu mobil untuknya. Saat Ara mencium bau AC mobil yang keluar ketika pintu dibuka, kepalanya mendadak pusing.


"Aku tidak mau masuk," tolak Ara untuk memasuki mobil.


"Kenapa sayang?" tanya Rasya heran.


"Kepalaku pusing saat menaikinya," ucap Ara dengan jujur.


"Bukankah kau sudah sering menaiki mobil, kenapa sekarang kau baru merasakan pusing, apa kau mabuk perjalanan?" tanya Rasya lebih detail.


"Sepertinya begitu,"


"Ah ini mungkin gejala awal kehamilan nak, hidung Ara akan sangat peka terhadap berbagai macam bau," terang Bu Mia.


"Lalu bagaimana kita pulang sayang?" tanya Rasya yang bingung. Kalau ia tetap memaksa istrinya naik mobil ia akan muntah, dan Rasya tidak mau istrinya sakit lagi.


"Aku ingin naik ojek," celetuk Ara membuat Radya memijit pelipisnya.

__ADS_1


"Kamu kan baru sembuh, apa tidak apa naik motor?" tanya Rasya ragu. Ara menggeleng ia bersikeras untuk naik ojek.


Rasya memiliki ide. Ia meminta sopir nya membawakan motornya dari rumah.


"Kau bisa tunggu sebentar," Ara mengangguk.


"Apakah nak Rasya akan memesan ojek online untuk putri ibu?" tanya Bu Mia yang sedikit cemas dengan keadaan Ara apabila harus naik motor.


"Tidak bu tapi aku yang akan memboncengnya, aku sudah meminta supir mengirimkan motorku, nanti dia akan membawa mobilku," kata Rasya.


"Tidak motor kakak teralu tinggi," tolak Ara mengingat motor sport Rasya yang begitu tinggi, apalagi boncengannya mlorot sehingga Ara membayangkan tidak nyaman untuk perutnya.


"Lalu bagaimana sayang?" tanya Rasya kesal dengan drama kepulangan istrinya.


"Aku mau naik motor matic saja,"


"Oke oke aku akan menelepon Rio untuk meminta bantuannya," Rasya pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya.


📞 "Bisakah kau ke rumah sakit dengan membawa motor matic sekarang, aku buruh bantuanmu," ucap Rasya singkat lalu menutup teleponnya.


Di kantor ojek online.


Rio menjauhkan telepon dari telinganya saat Rasya menutup telponnya sepihak."Kenapa harus aku yang kesana sendiri, kenapa bos tidak meminta driver, ah sudahlah aku akan meminjam motor matic salah seorang driver," Tak mau berfikir panjang Rio meminjam motr sesuai perintah Rasya.


Setengah jam kemudian Rio tiba di rumah sakit yang dimaksud. Ia melepas helm yang dikenakannya kemudian menyapa bos besarnya.


"Selamat siang pak, maaf saya lama,"


"Kamu seperti siput bawa motor aja lama banget," bentaknya pada Rio.


"Kak Rasya kakak tidak boleh bicara seperti itu pada pak Rio, dia sudah berbaik hati mengantarkan motor untuk kita," ucapan Ara ditelaah betul oleh Rio. Namun ia masih bingung.


"Bawa mobilku pulang ke rumah jangan sampai lecet, harga reparasinya lebih mahal dari gajimu," Rasya melempar kunci ke arah Rio. Dengan sigap Rio menangkapnya.


Rasya mulai memakaikan helm untuk istrinya. Ara pun naik ke jok belakang.


"Bu, ibu akan diantar oleh Rio," ucap Rasya tegas.


Kalau bukan keinginan Ara yang sedang hamil ia tidak akan membahayakan istrinya yang baru keluar dari rumah sakit. Rasya pun mengenggeleng. Aneh sekali permintaan orang hamil. Ini tidak seberapa nanti ia akan merasakan nyidam Ara yang lebih aneh dari pada meminta naik motor.


...❤️❤️❤️...


Like like like coment comet share oke

__ADS_1


__ADS_2