
"Dugh laper, ajak mbak Sarah sama mbak Diana makan di luar agh," Ara pun menutup laptopnya kemudian berdiri dari kursi yang ia duduki.
Dengan bersemangat Ara menghampiri teman-temannya. Di tengah jalan ia bertemu dengan Rio.
"Eh pak Rio tunggu, mau makan bareng gak?" tanya Ara.
Ia lalu membetulkan omongannya agar Rio tidak salah paham. "Sama mbak Diana dan mbak Sarah juga," imbuhnya.
"Makasih bu bos, saya sudah pesan makanan delivery order," tolak Rio.
"O ya udah, kalau gitu saya duluan ya," pamit Ara meninggalkan Rio seorang diri. Ia berjalan menuju ruangan customer servis.
"Mbak udah siap?" tanya Ara yang sudah di ambang pintu.
"Yuk berangkat," ajak Diana yang sudah menenteng tasnya.
Ara,Diana, dan Sarah berjalan beriringan. Mereka berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Pakai mobil aku aja ya," kata Sarah.Ara dan Diana setuju.
Sebelum memasuki mobil Ara tidak lupa memakai masker.
"Di dalam mobil ngapain harus pakai masker Ra?" tanya Diana yang tidak biasanya melihat Ara pakai masker.
"Aku gak tahan bau AC mobil mbak, mual," kata Ara dengan mulit tertutupi masker.
"Oh wajar sih kamu kan lagi hamil muda," kata Diana.
"Sudah siap?" tanya Sarah menoleh ke arah Ara dan Diana.Kedua teman Sarah itu mengangguk.
Sarah pun kembali mengarah ke depan bersiap menyalakan mesin mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan sedang. Kebetulan restoran yang akan dikunjungi tidak terlalu jauh hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai sana.
"Kita sudah sampai," kata Sarah seraya mematikan mesin mobilnya.
Ara mencondongkan badannya ke depan untuk melihat restoran di depannya."Restoran seafood mbak?" tanya Ara memastikan.
"Iya Ra, di sini enak tahu langganan mbak," balas Sarah.
"Yuk ah turun," ajak Diana namun Ara tampak ragu.
"Kenapa Ra?" imbuh Diana.
"Aku gak yakin bisa makan seafood mbak, soalnya gak semua makanan masuk ke dalam perut aku," ucap Ara sendu.
"Coba dulu degh barangkali anak kamu suka," ucapan Diana dituruti oleh Ara.
__ADS_1
Akhirnya ia turun bersama teman-temannya. Lalu memesan beberapa menu seafood.Ara masih memakai masker. Ia takut mencium bau makanan laut yang amis.
"Maskernya dibuka dulu deh Ra," saran Diana.
"Eh iya mbak," dengan ragu ia membuka maskernya.
Saat Ara mencium bau masakan yang terhidang di depannya. Selera makannya tiba-tiba meningkat. Perutnya terasa lapar bahkan berbunyi sehingga membuat Sarah dan Diana tertawa mendengar bunyi perut Ara.
"Tuh kan laper, nih Ra mau gak?" Sarah memegang lobster yang lumayan besar lalu Ara menyambarnya.
"Ya ampun makannya pelan-pelan," Diana menggeleng melihat Ara yang makan dengan lahapnya.
Di tengah keseruannya makan bersama teman-temannya, Ara melihat sang suami datang bersama asistennya, Adli. Namun, Rasya tidak melihat Ara. Tapi Adli melihat sehingga menganggukkan kepala pada Ara. Ara hendak menyapa tapi ia menghentikan langkahnya saat Rasya menyalami seorang wanita yang berpakain rapi bersama salah seorang teman lelakinya.
Ara tidak tahu siapa itu lalu ia hanya mengamati dari tempat duduknya. Ia menatap tajam ke arah wanita tersebut.
"Mbak minta bil nya ya," teriak Sarah pada pelayan restoran tersebut. Ara jadi kaget lalu menoleh ke arah Sarah.
"Eh suami lo Ra," Diana menunjuk ke arah Rasya.
"Iya udah tahu mbak," jawab Ara ketus.
"Dia gak lihat kamu Ra?" tanya Diana hati-hati.
Rasya yang sedang mengobrol dengan klien nya tak sengaja mengarahkan pandangannya ke Ara.
"Ara? dia tidak lihat aku? kenapa dia tidak menyapa?" batin Rasya melihat kepergian istrinya. Ingin rasanya mengejar Ara tapi ia sedang meeting penting dengan kliennya tidak mungkin ia meninggalkan tempat begitu saja.
Di luar restoran, Ara memakai maskernya kembali lalu menaiki mobil. Diana bergantian menyetir mobil. Sarah duduk di sampingnya sedangkan Ara duduk di belakang.
Diana menoleh ke arah Ara lalu berpaling ke Sarah. Ia bertanya dalam diam lalu Sarah menggedikkan bahu.
"Mbak nanti turunin aku di kantor suami aku ya," pintanya.
"Iya kamu kasih tahu aja alamatnya," jawab Diana.
Seperti permintaan Ara, Diana pun menurunkan dirinya di depan kantor Antoni Grup.
"Gila bos bener-bener sultan ya Ra, kantornya segede gini?" kata Sarah yang kagum melihat kantor yang dipimpin Rasya saat ini.
"Punya Ayahnya mbak, btw makasih ya mbak udah nganter aku sampi sini," ucap Ara seraya membuka maskernya.
Setelah berdadah ria, Ara memasuki lobi kantor tersebut. Ernest tak sengaja melihat Ara datang. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya Ernest segera menghampiri Ara.
"Selamat siang anak bos," sapa laki-laki itu sok akrab.Ara mengerutkan keningnya namun masih berjalan menuju ke depan lift.
__ADS_1
"Ngapain ke sini?" tanya Ernest lagi.
"Cuma mampir," jawab Ara singkat lalu memasuki lift. Ernest masih mengikutinya.
Ara memencet nomor di lift tersebut.Ia tidak menghiraukan Ernest meskipun laki-laki itu berdiri di sampingnya.
"Udah makan siang belum? aku traktir," tawar Ernest mencoba mengambil hati Ara.
Tiba-tiba Ara menjadi pusing karena mencium bau parfum Ernest yang begitu menyengat. Badannya sampai terhuyung lalu tak sengaja tangannya menyentuh tombol turun di lift.
Ting
Pintu lift terbuka. Lift kembali ke lantai dasar. Rasya dan Adli yang berdiri di depan lift kaget saat melihat tangan Ernest menyentuh Ara. Rasya jadi mengepalkan tangannya. Ketika Ara menoleh ia pun kaget karena sudah ada suami dan asistennya berdiri di depan lift.
"Huek,"
Rasya melangkah ke depan lalu menyingkirkan tangan Ernest."Kamu tidak apa-apa sayang?"
"What? sayang?" batinnya.
"Sebaiknya bawa nona ke ruangan anda pak?" Adli memberi saran.
Ernest yang ikut naik ke lantai atas hanya diam saat melihat Ara digendong Rasya ke ruangannya. Rasya tidak menghiraukan para pegawai yang melihat dirinya menggendong sang istri. Sedangkan Ara menenggelamkan kepalanya di dada Rasya karena malu.
"Segitu posesif nya sama adek," cibir Ernest lirih namun Adli mendengarnya.
"Anda tahu siapa yang digendong oleh pak Rasya itu?" tanya Adli.
"Bukankah dia adiknya pak Rasya, anak pak Antoni juga kan?" jawab Ernest.
Adli menggeleng. "Dia menantunya pak Antoni," bisik Adli di telinga Ernest hingga membuat laki-laki itu membulatkan mata.
Adli meninggalkan Ernest lalu menyusul bosnya masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Ernest merutuki kebodohannya. Dia merasa lancang telah menyukai istri bosnya itu. Laki-laki itu menjambak rambutnya sendiri.
"Sial, bego banget gue gak nyari tahu dulu,arrgh..." teriak Ernest hingga membuat beberapa karyawan menoleh padanya.
"Permisi pak ada yang bisa saya lakukan?" tanya Adli yang menghadap bosnya.
"Tidak, tapi tolong peringatkan semua karyawan untuk tidak memakai parfum saat ngantor," titah Rasya pada asistennya.
Bukan tanpa alasan Rasya memerintahkan hal itu. Setelah Rasya membawa Ara masuk, ia menanyai Ara apa yang membuat dirinya pusing. Rupanya Ara mencium bau parfum Ernest yang begitu menyengat saat di lift.
... ❤️❤️❤️...
Yuk dukung karya aku boleh share di medsos juga ya, tapi jangan jiplak karya orang lain ya.
__ADS_1