Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Hallo dengan Mutiara


__ADS_3

"Bu lihat jaket Ara gak?" Ara mencari ibunya sampai keluar namun yang ia temui malah Rasya yang sudah duduk di teras rumahnya.


Ara menghentikan langkahnya."Kak Rasya ko udah ada di sini?"


"Iya nak Rasya udah nunggu dari tadi Ra," seru ibunya yang entah darimana datangnya.


"Bu lihat jaket Ara gak?" Ara mengulangi pertanyaannya.


"Kamu mau ngojek lagi?" tanya ibunya.


"Gak bu, hari ini Ara mau naik motor aja takut kena macet soale Ara udah kesiangan," belum selesai Ara ngomong Rasya menyela.


"Aku ke sini buat jemput kamu Ra, pakai motor aku aja," Rasya membuka jaketnya kemudian memakaikan pada Ara.


Ara tertegun sejenak. Jantungnya berdebar kencang mendapatkan perlakuan semanis itu.


"Kenapa ngeliatinnya kaya gitu, belum pernah lihat orang ganteng makein pacarnya jaket?" ejek Rasya kemudian tertawa kecil.


"Pernah, eh," Ara tersadar dari lamunannya.


"Kalau aku pake jaket kak Rasya, kakak pake apa?" tanya Ara.


"Pakai ginian aja gak papa," Ara melihat tunangannya itu hanya memakai pakaian casual kaos dan celana jins robek.


"Bu kami berangkat ya," Rasya menyalami tangan calon mertuanya.


"Ya nak kalian hati-hati," disusul Ara yang gantian menyalami tangan ibunya.


"Pergi dulu ya bu," pamit Ara.


Keduanya mendekat ke motor sport milik Rasya. Rasya memberikan helm kepada Ara. Lalu setelah keduanya memakai helm Rasya mulai menyalakan mesin motornya.Rasya sengaja melajukan motornya lambat.


"Yaelah jalannya kenapa kaya kura-kura gini," batin Ara.


"Kakak sengaja jalannya pelan," Ara kaget dong kenapa Rasya bisa mendengar suara hatinya.


"Biar apa coba?" geram Ara.


"Biar bisa lama-lama bareng kamu," gombalan Rasya membuat Ara memutar bola matanya jengah.


"Ya ampun kak bule bisa juga ya gombalnya," Ara menepuk jidatnya.


"Tapi aku udah telat ini masuk kantor,"


"Kamu berangkatnya kan bareng aku jadi gak kan kena omelan," Ara semakin kesal.


"Kakak gak ada kuliah hari ini?"


"Ada tapi aku bolos males mau nganterin kerja kamu aja," jawab Rasya dengan santai.


"Ya ampun gak boleh kaya gitu, nanti gak lulus-lulus lho," Ara menasehati.

__ADS_1


"Kenapa gak kuliah aja di Jerman," gerutu Ara.


"Kamu mau ngusir aku Ra?"


"Eh bukan seperti itu, maksud Ara kenapa repot-repot pindah ke Indo kalau kuliahnya males, mending kan lanjutin kuliahnya di sana aj," Ara jadi merasa tidak enak.


"Awalnya aku cuma penasaran sama kamu eh gak tahunya gak bisa jauh-jauh dari kamu," Rasya tertawa pelan.


"Sebenarnya tidak hanya itu Ra aku juga ingin menyelidiki kasus kematian saudara kembarku," batin Rasya.


Rasya menghentikan motornya di halaman parkir kantor ojek online tempat Ara bekerja.


"Nanti sore gk usah dijemput kak aku ada janji sama Lulu," Ara melepas jaket yang ia pakai lalu memberikannya pada Rasa.Ketika gadis itu ingin melepas helm,ia merasa sedikit kesulitan.


"Sini aku bantu lepasin helmnya," dengan sabar Rasya membantu melepaskan helm dari kepala Ara.


Wajah Rasya sedikit menunduk menyamai tinggi Ara. Kemudian dia mengembangkan senyum di wajahnya hingga membuat Ara merasa malu. Gadis itu sampai menahan nafasnya. Namun ia malah bisa merasakan hembusan nafas Rasya yang terasa hangat di wajahnya.


Jantung Ara mulai berdegub kencang. Seperti biasa ia akan memukul dadanya pelan saat jantungnya mulai dirasa berdebar-debar.


"Are you oke?? Aku perhatikan memukul bagian dada kamu, kenapa ada yang sakit?" tanya Rasya sambil tersenyum.


"Eh gak papa? masuk dulu ya kak," pamit Ara namun sebelum ia benar-benar melangkah Rasya kembali membuatnya terkejut dengan menarik tangan Ara dan menempelkan bibirnya di kening singkat.


Ara terdiam dan memegangi kening yang habis dicium itu. Sementara Rasya sudah pergi melajukan motornya.


"Ihk nyebelin," Ara berbalik badan kemudian masuk ke ruangannya.


"Gara-gara si bule tu mbak, jalannya kaya kura-kura, padahal niatnya mau berangkat sendiri ngindarin macet pakai motor eh malah pagi-pagi dia udah dateng ke rumah, nyebelin kan?" Ara mencebik kesal.


"Bucin tuh dia pengen lama-lama di atas moto bareng kamu,"


"Iya mbak tadi aku tanya dia juga jawabnya gitu, pak Rio udah dateng mbak?"


"Udah dari tadi kan bareng sama embak,"


"Ya deh yang udah resmi pacaran, terus kapan nikahnya mbak?" tanya Ara penasaran.


"Belum tahu Ra yang jelas udah diiket," Sarah memamerkan cincin yang melingkar di jari tangannya.


"Wih udah pakai cincin, selamat ya mbak, samaan dong kita," Ara mensejajarkan tangannya dengan tangan Sarah.


"Sepertinya lebih bagus punya kamu ya modelnya simple, kira-kira berapa harganya Ra?" tanya Sarah sambil mengetik di papan keyboardnya.


"Denger-denger sih sepuluh juta," Ara mulai menghidupkan layar komputernya.


"Sepuluh juta ya masak lebih murah dari cincin yang aku pakai?" Ara menoleh.


"Sepuluh juta dolar mbak maksudnya," jawab Ara enteng.


"Astaga semahal itu, ckckck Rio butuh nabung berapa tahun buat beliin cincin semahal itu," Sarah tertawa kecil.

__ADS_1


"Agh mbak yang penting tu bukan cincinnya yang penting tu siapa yang ngasih," Ara melihat cincin yang melingkar dijari manisnya.


Sarah melihat wajah Ara menjadi sendu. Kemudian ia berusaha menghibur temannya itu.


"Eh pulang kerja mau main dulu gak ke mall kita shopping," ajak Sarah.


"Nanti aku udah ada janji mbak sama Lulu next time aja ya mbak," tolak Ara dengan hati-hati.


"Ra hp kamu bunyi terus tuh," Ara melihat ke layar ponselnya tertulis nama Rasya.


"Biarin ajalah mbak, males ngangkat," Ara kembali menatap layar komputer.


Kring Kring


"Hallo dengan Mutiara ada keluhan yang ingin disampaikan?" kata Ara saat menjawab telepon yang masuk.


"Sayang kamu lagi sibuk ya kok gak angkat telepon dari aku?"


"Ih ada orang gila mbak, masak aku dipanggil sayang," Ara berbicara pada Sarah sambil menutup ujung telepon.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Ara kembali menjawab telepon tersebut dan berusaha ramah kepada penelpon.


"Nanti malam ibu Emely mau dateng dari Jerman kamu siap-siap ya buat makan malam,"


Deg


"Ibu Emely? pernah dengar nama itu tapi dimana ya, eh calon mertua gue dong, ini kak Rasya?" tanya Ara dengan gugup.


"Iya ntar malam aku jemput ya," sambungan telepon pun terputus secara sepihak.


"Ihk ngeselin deh kenapa mendadak sekali," gerutu Ara.


"Kamu kenapa sih Ra hari ini PMS ya ko muring-miring mulu,"


"Habisnya kak Rasya nelpon Ara lewat sambungan telepon customer servis mbak bilang kalau ibunya mau dateng dari Jerman," geram Ara.


"Habisnya kamu tadi diteponin pakai hp kamu malah gak ngangkat, mungkin dia pikir kamu sibuk kali Ra makanya biar bisa bicara sama kamu dia milih telepon lewat customer servis," terang Sarah panjang kali lebar.


"Gimana nih mbak camer mau dateng gue ko deg-degan gini ya mbak,"


"Wajar Ra, oh ya kamu mau bawain apa buat calon mertua kamu?" tanya Sarah.


"Apa ya mbak bagusnya?" Ara balik nanya.


"Kalau mbak liat film-film barat gitu sih orang Eropa suka dibawain bunga Ra, kamu beliin calon mertua kamu bunga aja yang bagus, pasti dia suka, buat penyambutan,"


"Tapi bukan yang dikalungin kan mbak?"


"Ya kali dikira gubernur yang lagi kunuungan ke daerah," sahut Sarah.


"Emang istrinya gubernur," gumam Ara.

__ADS_1


Selain memiliki beberapa perusahaan ayah Rasya memang menjabat sebagai seorang gubernur di sana. Tak elak kekayaan yang keluarga Ramadhan miliki tidak akan habis tujuh turunan.


__ADS_2