Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Calon Menantu


__ADS_3

"Aku akan menggendongnya, Andrea siapkan kamar untuk tunanganku," seru Rasya yang sedang mengangkat tubuh Ara ala bridal style.


"Baik kak," Andrea mengangguk menuruti perintah kakaknya.


Semua tamu undangan ramai membicarakan Ara. Kemudian Ayah Rasya angkat suara untuk menenangkan para tamu undangan.


"Saya harap kalian bisa tenang, calon menantu saya hanya sedikit syok dengan kejutan yang Rasya berikan, silahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan," Ayah Rasya mengangkat tangannya yang sedang memegang gelas berisi minuman sedikit lebih tinggi.


Rasya memasuki kamarnya kemudian merebahkan tubuh Ara di atas ranjang.Wajah Ara terlihat memerah kemudian Rasya coba menempelkan tangannya di atas dahi gadis yang sudah remi menjadi tunangannya itu.


"Panas sekali, kamu demam sayang," gumam Rasya.


Setelah itu Andrea masuk. Rasya menoleh ke arah Andrea.


"Tolong panggilkan dokter untuk kakak iparmu, sepertinya dia sedang sakit," ucap Rasya.


"Dia sakit apa kak?" tanya Andrea lebih lanjut


"Dia demam," wajah Rasya nampak begitu khawatir.


"Kakak tenanglah aku akan panggil dokter, sembari menunggu aku juga akan ambil termometer dan air untuk mengompres demamnya," Andrea berbalik badan untuk mengambil barang yang ia butuhkan.


Rasya menunduk lalu memegang tangan Ara.


"Apakah aku terlalu mengejutkanmu sayang, hingga kau menjadi sangat syok dengan pertunangan ini," Rasya menunduk sedetik kemudian ia mendongak saat Ara mengingau.


"Radith, hiks hiks Radith," Ara sempat mengeluarkan air mata.


Rasya yang melihat itu merasakan dadanya sesak mendengar nama adiknya disebut.


"Segitu berharganya Radith untukmu sayang," tangannya menyeka air mata Ara yang menetes di pipinya yang putih.


"Kak dokternya sudah datang," Andrea membawa dokter keluarga mereka.


"Dia calon istri kamu?" tanya Serena yang merupakan mantan Rasya namun sekaligus menjadi dokter keluarga Ramadhan.


Rasya hanya mengangguk.


"Beri aku tempat aku akan memeriksa calon istrimu," Rasya pun mundur agar Serena dapat memeriksa Ara.


"Cantik juga calon istri Rasya ini," batin Serena sembari menyentuh dada Ara dengan stetoskop.


"Dia hanya demam biasa, tidak usah khawatir, setelah kuberikan obat dia akan segera sadar," Serena memberikan resep obat pada Rasya namun Andrea merebutnya.

__ADS_1


"Biar aku aja yang tebus obatnya kak," Andrea memecah ketegangan di antara Rasya dan Serena.


"Aku permisi, ah ya selamat atas pertunangan kalian," setelah mengucapkan kalimat trrsebut Serena keluar dari kamar Rasya.


Rasya tidak menanggapi ia kembali mendekat kepada Ara. Lalu ia memasang kompres di dahi gadis yang terbaring lemah itu.


Kemudian ia ingat untuk mengabari ibunya Ara. Rasya mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja kecil di sebelah ranjangnya. Ia pun memencet layar di ponselnya.


"Bu maaf hari ini Ara harus menginap di rumah kami, saya janji akan menjaganya dengan baik," Rasya menutup telepon setelah mendapatkan jawaban dari Bu Mia.


Hari itu sudah malam Rasya merasa sangat capek karena perjalanan dari Indonesia yang memakan waktu lalu ia langsung mengikuti acara pesta pertunangannya dalam sehari.


Ia pun memilih tidur sambil menjaga Ara di samping ranjang yang ditiduri Ara karena gadis itu tampaknya belum sadar juga. Rasya tidur sambil memegang tangan Ara.


Keesokan harinya Ara bangun. Ia mencopot kain yang digunakan untuk mengompres dahinya. Lalu merasakan tangannya tergenggam. Ia menoleh ke bawah dan mendapati Rasya tidur sambil terduduk.


Ara hendak menyentuh kepala Rasya namun ia urungkan. Rasya pun merasakan pergerakan tangan Ara yang ia genggam kemudian ia pun bangun.


"Kamu sudah sadar sayang?" Rasya menatap ke dalam mata Ara yang berkaca-kaca.


"Beri aku penjelasanan agar aku bisa menerima semua ini!"


"Aku yang akan menjelaskan padamu kakak ipar," Andrea menyela saat tiba di ambang pintu.


"Kau bisa tinggalkan kami sebentar kak," pintanya pada Rasya.Rasya pun menuruti kemauan adik perempuannya itu.


Setelah mamastikan Rasya keluar barulah Andrea menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sebenarnya aku yang merencanakan pertunangan ini kak tentu saja atas ijin orang tuaku. Aku menceritakan kedekatanmu dengan bang Radith. Aku tahu kamu sangat mencintainya. Aku juga datang menjengukmu walau hanya sebentar saat kau pingsan sampai di bawa ke rumah sakit setelah kematian abang. Kamu gadis yang baik jadi aku menjodohkanmu dengan kak Rasya. Dia bisa menjagamu," terang Andrea panjang lebar.


"Tapi yang aku tidak mencintai kakakmu Rasya," tolak Ara.


"Kau akan jatuh cinta padanya, percayalah kak Rasya awalnya juga menolak hingga dia ingin menilai gadis yang ingin dijodohkan dengannya. Makanya ia memutuskan untuk terbang ke Indonesia saat itu dan membeli sebagian saham perusahaan tempat dimana kau bekerja agar dia bisa mengawasi mu. Dan kau lihat sekarang dia sendiri yang memilih mu untuk menjadi calon istrinya," Andrea mencoba meyakinkan.


"Benarkah?" pertanyaan Ara dijawab anggukan yakin dari Andrea.


Tok tok tok


Seseorang membuka pintu kemudian ia menyembulkan kepalanya.


"Apakah ibu mengganggu?" tanya Emely.


"Tidak bu, masuklah!" jawab Andrea.

__ADS_1


"Kak Ara ini ibu kandungku," Andrea mengenalkan ibunya pada Mutiara.


Ara kemudian menurunkan kakinya yang masih berada di atas ranjang. Saat ia berusaha untuk bangun Emely melarangnya.


"Tidak usah berdiri, kau masih lemah," suara yang keluar dari mulut seorang Emely Jhonson terdengar sangat merdu di telinga Ara.


"Kau sangat cantik, pantas saja kedua anakku sangat tergila-gila padamu," Emely menyentuh pipi calon menantunya itu dengan lembut.


Blush


Wajah Ara bersemu merah. Ia merasa malu saat Emely memujinya. Ketiga wanita itu tertawa, Rasya kemudian masuk bersama Ayahnya.


"Ada apa ini kelihatannya kau sudah akrab dengan calon menantumu?" tanya Antoni Ramadhan.


Ara menunduk saat calon mertuanya itu menatapnya. Rasya kemudian angkat bicara.


"Jangan membuatnya takut Ayah, nanti dia pingsan lagi," ucap Rasya sambil mengacak rambut Ara karena gemas.


"Ihk, kau ini," Ara memukul lengan Rasya pelan.


"Lihatlah menantumu persis seperti dirimu saat kau masih muda?" Antoni berbicara pada Emely.


"Ya aku memang sudah cantik dari dulu," dengan percaya diri Emely membanggakan dirinya.


Yang lain jari tertawa saat mendengar ocehan sang ibu. Tiba-tiba Rasya menggenggam tangan Ara.


"Sayang kau bisakan memberiku kesempatan untuk menjadi pasanganmu yang baik, aku janji akan membahagiakan dirimu?" Ara menatap ke dalam mata Rasya tidak ada kebohongan yang ia temukan.


Lalu Ara melihat ke orang-orang di sekelilingnya. Mereka tampak yakin untuk menerima dirinya di keluarga itu. Ara pun mengangguk sehingga membuat Rasya sangat senang. Ia pun menggendong Ara dan memutarnya beberapa kali.


"Lepaskan aku, kepalaku pusing," teriak Ara dalam gendongan Rasya.


"Maaf sayang aku kelewat senang," Rasya menurunkan Ara.


"Terima kasih sayang," Rasya mengecup kening Ara singkat. Ara pun mendongakkan wajahnya pada Rasya. Mereka saling bertatapan.


Ehem


Antoni berdehem membuat Ara dan Rasya mengalihkan pandangannya.


...***...


Jangan lupa like dan share ke media sosial kamu ya readers ku tercinta.

__ADS_1


__ADS_2