Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Berlian


__ADS_3

Setelah setengah hari Ara yang baru siuman merasakan perutnya rata setelah merabanya. Ia sangat khawatir akan bayi yang ia kandung. "Dimana anakku?" tanya Ara pada dirinya sendiri.


Saat itu ada seorang suster yang memasuki ruangannya untuk kunjungan rutin pasien. "Anda sudah sadar?" tanya suster itu.


"Katakan apa yang terjadi pada anak saya?" Ara terisak.


"Jangan khawatir bu anak ibu lahir dengan selamat, namun karena dia lahir prematur maka sekarang ini dia ditempatkan di ruang inkubator," terang suster cantik itu.


"Antar saya ke sana?" Ara mencoba bangun tapi ia merasakan nyeri yang luar biasa di bagian perutnya.


"Hati-hati anda baru saja dioperasi," kata suster memberi peringatan.


"Aku ingin melihat anakku," Ara mengiba pada suster tersebut. Karena tidak tega melihat Ara yang menangis akhirnya suster itu mengambil kursi roda dan mengantar Ara ke ruang bayi.


Rasya yang baru saja menjemput kelurganya yang baru tiba dari Jerman kaget saat masuk ke ruang perawatan istrinya namun Ara tidak ditemukan di sana.


"Kemana Ara?" tanyanya panik.


Ayah,ibu serta adiknya juga ikut panik melihat istri putra dan kakaknya tidak ada di ruang rawatnya.


Rasya keluar dan menanyakan pada suster yang berjaga. "Kemana nyonya Mutiara?" tanyanya panik.


"Tenang pak, saya melihat suster membawanya ke ruang inkubator," jawab perawat laki-laki itu.


Tak butuh ba bi bu Rasya berlari ke ruang dimana anaknya di tempatkan. Benar saja laki-laki keturunan bule itu melihat istrinya dan seorang suster yang mendorong kursi rodanya.


Mata Ara mengarah ke jendela kaca untuk melihat anaknya dari luar.


"Yang mana anak saya sus?" tanya Ara karena dia melihat beberapa bayi yang di tempatkan di ruang yang sama.


"Yang sedang tidur itu bu," tunjuk suster pada bayi perempuan yang mungil.


"Dia laki-laki apa perempuan?" tanya Ara lagi.


"Dia perempuan sayang," Ara menoleh ke sumber suara yang ia kenal.


"Kak Rasya," ucap Ara lirih dan air matanya kembali mengalir.


Rasya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Ara. "Aku cari kamu kemana-mana tahunya di sini," keluh Rasya.


"Kak anak kita," Ara menoleh ke arah bayi yang tertidur di dalam inkubator.


"Dia cantik seperti kamu," perkataan pujian Rasya membuat suster yang mendengarnya tersipu malu.


"Maaf saya tinggal dulu, bu saya tinggal ya sudah ada suaminya," ucap suster itu ramah.

__ADS_1


"Sayang kita kembali ke kamarmu, ayah,ibu dan Andrea sedang menunggumu," ajak Rasya.


Lalu Rasya mendorong kursi roda yang Ara naiki ke kamarnya. Ketika ia memasuki ruang rawat kelas VVIP itu, semua orang menyambutnya. Terlebih Emely yang menangis sesenggukan di pelukan menantunya itu.


"Ibu,Ara baik-baik saja," kata wanita yang baru saja melahirkan anak perempuan itu.


"Sayang maaf kami datang terlambat," ucap Antoni penuh penyesalan.


"Tidak,aku yang harusnya minta maaf karena aku kalian sampai bela-belain jauh-jauh datang dari Jerman,"


"Bagaimana dengan bayimu?" kali ini Andrea bersuara.


"Dia ada di ruang inkubator karena lahir sebelum waktunya," timpal Rasya.


"Apa dia tidak boleh dibawa ke sini?" tanya Emely yang ingin sekali menggendong sang cucu.


"Dokter belum mengizinkan,"terang Rasya.Ara hanya terdiam karena dia tidak tahu apa-apa.


"Aku tidak sabar melihat cucuku," kata Emely bersemangat.


"Sebaiknya kita kembali besok, ini sudah sangat larut, biarkan menantu kita beristirahat,' ucap Antoni setelah melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.


Andrea dan Emely menyetujui usul Antoni. Mereka satu per satu berpamitan pada Ara dan Rasya.


Bu Mia serta keluarga Rasya menyambut kedatangan anak dan menantu mereka.


"Selamat datang sayang," Emely memeluk Ara yang sedang menggendong bayi di tangannya.


"Dugh cucu oma cantik sekali," kata Emely seraya mengambil alih gendongan dari tangan menantunya.


"Duduk lah sayang," Rasya membantu Ara duduk karena kondisinya yang masih lemah.


"Maaf ya Ra ibu jarang kesana, soalnya ibu mempersiapkan kedatangan kalian," Bu Mia tampak menyesal hanya datang sekali sejak Ara dirawat di rumah sakit.


"Tidak apa bu, aku dengar dari kak Rasya ibu sampai sakit ketika mendengar kabar tentangku," Bu Mia mengangguk pelan.


"Nak, kau beri nama siapa cucuku yang cantik ini?" Antoni menoleh pada putranya.Rasya menoleh ke arah istrinya untuk meminta persetujuan Ara.


"Berlian," jawab Rasya dengan mantap.


"Nama yang sangat indah," puji Andrea yang sedang menggendong Bulan.


"Cibul sini mendekat, mami kangen sama kamu," Andrea mendekatkan anaknya ke Ara.


Ara menghujani ciuman bertubi-tubi pada balita berusia dua tahunan itu. "Dimana suamimu apa dia tidak ikut?" tanya Ara yang tak melihat iparnya.

__ADS_1


"Tidak dia terlalu sibuk mengurusi perusahaannya," kata Andrea.


"Aku sangat bersyukur kalian bisa datang ke sini," ucap Ara dengan tulus.


"Ya beruntung pandemi ini mulai mereda, pemerintah Jerman sudah memperbolehkan warganya untuk bepergian ke luar negeri," balas Antoni.


"Yah aku mau mengantar Ara ke kamar, kasian tubuhnya masih lemah," ujar Rasya.


...***...


Keesokan harinya Lulu dan Didu datang berkunjung ke rumah Rasya. Namun saat itu keluarga Rasya akan pulang ke negaranya.


"Om,tante," sapa Didu yang mengenali orang tua Rasya. Sedangkan Lulu baru pertama kali bertemu dengan mereka.


"Lu,Du kalian ke sini? Ara lagi sama bayinya di kamar kalian masuk aja," titah Rasya yang membawa koper.Ia akan mengantar orang tuanya ke bandara.


"Kalian mau kemana?" tanya Didu.


"Kami akan pulang ke Jerman," jawab Emely.


"Tan bawa serta diriku, supaya aku bisa memperbaiki keturunan," pinta Didu seraya menggenggam tangan ibunda Rasya.


Lulu memutar bola matanya jengah melihat kelakuan Didu. Sedangkan yang lain malah tertawa mendengar kelakar Didu. Keluarga Rasya memang sudah mengenal Didu semenjak mendiang Radith masih hidup.


"Nanti ibu akan impor wanita dari sana untuk kamu," jawab Emely yang tak kalah nyeleneh.


Setelah itu Lulu dan Didu masuk ke kamar Ara. Terlihat Ara sedang menggendong bayinya.


"Du du du," Lulu bermaksud menimang anak Ara namun Didu salah sangka.


"Ngapain Yang panggil-panggil," kata Didu tanpa dosa.


Lulu menghujaninya pukulan. "Gue bukan manggil lo ogeb, gue mau nimang ponakan gue yang cantik ini," umpatnya pada Didu, "ya kan?" lalu beralih pada sang bayi yang ada dalam gendongan Ara.


"Ponakan aunty ini namanya siapa?" tanya Lulu pada bayi yang baru beberapa hari lalu terlahir dari rahim ibunya.


"Berlian aunty," Ara menirukan suara anak kecil.


"Weh bagus bener namanya,maknya Mutiara anaknya Belian, bener-bener anak sultan," cicit Didu.


"Gue kasih nama Berlian itu biar gak hanya wajahnya aja yang bagus tapi tingkah lakunya juga bagus," terang Ara.


"Iya kamu jangan niru teman-teman papa kamu yang somplak ya, tiap hari clubbing," sindir Lulu pada Didu.


"Iya, apalagi yang suka php-in orang, kasian yang elo sakitin" balas Didu seraya melirik ke arah Lulu.

__ADS_1


__ADS_2