
"Btw elo dapet no gebetan lo darimana?" tanya Ara penasaran.
"Awalnya gue iseng gitu ngechat nomor yang ditulis di uang lembaran lima ribu," aku Lulu membuat Ara terpingkal-pingkal.
"Sumpah gue gak habis pikir sama elo ya Lu, kaya lo gak laku aja sih," cibir Ara.
"Enak aja, gue juga gak nyangka Ra omongan gue nyambung sama doi, ya meskipun gue takut si sebenarnya, takut kalau tu cowok udah punya bini," Ara melihat kedalam mata Lulu tidak ada kebohongan di sana.
"Nah tu tahu, lagian kurang kerjaan amat si Lu, kalau kamu butuh pacar bilang dong kenalan gue kan banyak," Ara menyombongkan diri.
"Iya kang ojol semua," ejek Lulu.
"Etz kang ojol juga yang narik taxi online punya mobil ndiri kali," timpal Ara.
"Eh iya ya, bener juga omongan lo, tapi beda level lah mana setuju bokap gue kalau tahu anaknya pacaran sama kang ojol," kata Lulu.
"Yagh kan baru pacaran gak sampai nikah," kata Ara dengan santainya.
"Trus nanti orangnya pake baju apa?" tanya Ara.
"Pake kemeja kotak-kotak gitu katanya," Ara tambah tertawa.
"Fix selera lo perlu diperbaiki," ejek Ara membuat Lulu memukul bahunya.
"Nyebelin lo Ra, gue ganti baju dulu," Lulu pun meninggalkan Ara sebentar.
Ara sedang menikmati jus apokat kesukaannya. Memindai ke seluruh sudut cafe barangkali laki-laki yang dimaksud Lulu sudah datang. Sesaat kemudian seorang yang dia kenal datang memakai baju kotak-kotak.
"Eh neng Mutiara ada di sini juga?" tanya Didu.
"Elo ngapain Du, gak clubing?" sindir Ara.
"Gak gue lagi janjian ama cewek," katanya membuat Ara berfikir sejenak.
"Masak iya cowok yang selama ini chatingan sama Lulu itu Didu?" Ara mengamati penampilan Didu sambil menyeruput jus di hadapannya.
Tak lama kemudian Lulu balik dari belakang sudah memakai setelan merah sebagai atasan dan celana putih. Didu seketika menatap penampilan Lulu dan langsung mengenali bahwa Lulu adalah cewek yang selama ini chating dengannya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba, Lulu elo jodoh gue," Didu yang sudah lama naksir dengan Lulu menjadi senang.
"Eh lepasin tangan gue,Ra kenapa nih?" tanya Lulu pada Ara.
"Dia jodoh lo, tanya aja kalau gak percaya?" jawab Ara enteng dengan tertawa kecil.
Lulu kembali memperhatikan penampilan Didu yang sesuai dengan janji yang mereka sepakati saat chatingan.
"Tuhan kenapa dunia ini sempit sekali.Bisa gila gue ngadepin elu," keluhnya pasrah membuat Ara tertawa.
"Selamat berkencan, gue mau nyumbang lagu buat kalian," Ara berdiro dari tempat duduknya.
"Eh Ra tapi udah ada yang ngisi," perkataan Lulu tidak digubris oleh Ara.
Ketika Ara baru naik panggung kakinya tersandung. Namun seseorang menangkap tubuh Ara. Ara jadi mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia lagi," batinnya.
"Are you oke?" tanya laki-laki itu.
"Du du lihat yang berdiri di samping Ara," Lulu menolehkan kepala Didu yang sejak tadi terus menatap dirinya.
Didu kaget sampai mengucek matanya beberapa kali. "Gue gak salah lihat kan Lu?" tanyanya pada Lulu. Lulu menggeleng.
"Awalnya gue juga ngira itu Radith tapi gue lihat CV nya bukan, gue juga baru tahu barusan," tuturnya.
Sementara itu Ara mengambil mikrofone yang sudah disiapkan di atas panggung.
"Kamu mau nyanyi?" tanya laki-laki yang wajahnya mirip dengan Radith itu.
"Kamu sendiri?" tanya Ara yang melihat tali gitar terkalung di leher pemuda itu. Lalu Ara melempar pandang ke arah Lulu.
Lulu berbicara dengan mulut komat-kamit tanpa suara. "Dia yang mau ngisi panggung," seperti itu kira-kira.
Ara jadi merasa canggung di dekat laki-laki itu. Saat ia hendak meletakkan kembali mikrofone yang sudah ia pegang dan berniat turun laki-laki itu mencegahnya.
"Jangan pergi," kata laki-laki yang sedang memegang gitar tersebut sambil menarik tangan Ara.
"Kita bisa duet," tawarnya. Ara tak kuasa menolak. Kemudian laki-laki itu membisikkan sesuatu pada Ara. Jantung Ara serasa berhenti. Ia sedikit gugup hingga ia meremas tangannya yang dingin. Kemudian Ara mulai menyanyikan bait pertamanya.
I found myself dreaming in silver and gold
Like a scene from a movie that every broken heart knows
Split second and you disappeared and then I was all alone
I woke up in tears with you by my side
A breath of relief, and I realized
No, we're not promised tomorrow
So I'm gonna love you like I'm gonna lose you
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Wherever we're standing, I won't take you for granted
'Cause we'll never know when, when we'll run out of time
So I'm gonna love you like I'm gonna lose you (lose you)
I'm gonna love you like I'm gonna lose you
Kemudian laki-laki yang membawa gitar itu menimpali.
In the blink of an eye, just a whisper of smoke
You could lose everything, the truth is you never know
__ADS_1
"Aaaa....Sumpah suaranya merdu bingits," Lulu bersorak saat pemuda itu menyanyikan bait kedua.
So I'll kiss you longer, baby (hey), any chance that I get
I'll make the most of the minutes and love with no regret
Let's take our time to say what we want (say what we want)
Use what we got before it's all gone (all gone)
'Cause no (no), we're not promised tomorrow
So I'm gonna love you like I'm gonna lose you (lose you)
I'm gonna hold you (hey) like I'm saying goodbye
Wherever we're standing (yeah), I won't take you for granted
'Cause we'll never know when, when we'll run out of time
So I'm gonna love you (I'm gonna love you)
Like I'm gonna lose you (like I'm gonna lose you)
I'm gonna love you (love) like I'm gonna lose you
Terlihat keduanya yang tampak serasi membuat Lulu iri melihatnya."Ampun deh kalau lihat mereka kaya de javu lihat Ara sama Radith," perkataan Lulu tidak ditanggapi oleh Didu. Didu malah sibuk menatap wajah Lulu sejak tadi.
I'm gonna love you (oh)
Like I'm gonna lose you (like I'm gonna lose you)
I'm gonna hold you like I'm saying goodbye
Wherever we're standing, I won't take you for granted
'Cause we'll never know when, when we'll run out of time
So I'm gonna love you (I'm gonna love you, baby)
Like I'm gonna lose you (like I'm gonna lose you)
I'm gonna love you (oh) like I'm gonna lose you
Tepukan meriah mengapresiasi penampilan mereka membuat kafe Lulu menjadi ramai.Namun di sudut sana ada seseorang yang tidak senang melihat keduanya berduet. Ara segera turun dari panggung lalu menghampiri sahabatnya.
"Gue mau pamit pulang," Lulu melihat air mata Ara sudah menetes di pipi sahabatnya. Namun Ara menyekanya dengan punggung tangan.
...***...
Makasih yang udah ngikutin kelanjutannya. Kalau ada yang mau ngasih ide tilisan nanti ditampung ya biar author bisa lanjut terus ceritanya.
Semangat naik level ❤️❤️❤️
__ADS_1