Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Dasar Rentenir


__ADS_3

"Btw udah sore nih gue mau pulang sekarang," pamit Ara.


"Mo kemana neng?" tanya Didu.


"Gue mo kerja," Ara pun menenteng tasnya dan keluar dari rumah Radith.


"Bro lo gak mo nahan dia?" tanya Didu.


"Udah biarin aja," cuek Radith sambil meneguk sirup sisa gelas yang diminum Ara.


"Bro itu kan sisanya Mutiara?" Didu heran dengan sikap Radith.


"Gak papa gue udah pernah ciuman sama dia jadi sah-sah aja," jawab Radith slengekan membuat Didu geleng-geleng kepala.


"Gue gak nyangka elo segitu tergila-gila nya sama Mutiara, oh ya btw elo tahu dia kerja dimana?" Didu penasaran.


"Iya gue tahu,"


"Dimana?" Didu serius mendengarkan jawaban Radith.


"Yang jelas bukan di perusahaan bokap gue," jawaban Radith membuat Didu kesal karena ia tidak mendapatkan jawaban yang semestinya.


"Sialan lo bro,"


Sementara itu Ara yang sudah sejak tadi meninggalkan rumah Radith sedang menunggu orderan tapi belum juga ada yang masuk.


"Tumben sepi banget,kalo gini gue gak bisa dapat target hari ini," keluh Ara.


Lalu ia punya ide untuk mangkal di depan mall.Di sana ia menawari tumpangan kepada banyak orang hal itu ia lakukan berulang-ulang hingga ia harus bolak-balik ke area mall sampai ia memperoleh target hari ini.


"Eh kayanya gue pernah lihat tu ojol wanita,tapi dimana ya," salah satu teman Putri sedang melihat aksi Ara yang sedang bekerja.


"Itu bukannya Mutiara ya Put, anak semester satu yang pernah lo hukum pas OSPEK," kata temannya yang lain.


Putri pun mengamati dengan teliti. Benar saja ia melihat Ara yang waktu itu sedang membuka helmnya.Lalu ia mengambil hp di dalam tasnya dan memotret Ara dari kejauhan.


"Gue akan simpan foto ini gue yakin suatu hari akan berguna," kata Putri dengan ide liciknya.


Mereka bertiga pun masuk ke mobil. Sedangkan Ara masih sibuk untuk mencari penumpang. Akhirnya malam pun tiba Ara pulang dengan tubuh yang sangat capek.


"Bu Assalamualaikum," Ara sudah sampai di rumah.


"Hoam, capek banget gue hari ini," keluh Ara sambil menepuk-nepuk bahunya yang sakit.


"Sudah pulang nak, sana mandi dulu lalu makan, ibu sudah siapkan makanannya di meja," kata Bu Mia yang baru keluar dari dapur.


Selesai mandi Ara menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Lalu ia mengambil kalender kecil yang ada di atas mejanya.

__ADS_1


"Besok waktunya gajian, Alhamdulillah," Ara melihat kalender yang ia lingkari.


Ia terlihat senang. Ara pun meletakkan kembali kalender yang ada di tangannya dan merebahkan diri di atas ranjang. Dalam waktu yang singkat ia pun tertidur karena saking capeknya mengejar target hari ini.


Keesokan harinya Ara bangun dengan wajah yang terlihat segar. Sudah lama ia menantikan hari ini menerima gaji pertamanya sebagai tukang ojek online.


"Ra sudah bangun?" tanya Bu Mia yang sedang menyiapkan makanan.


"Iya bu, salim dulu bu Ara mau berangkat sekarang," pamit Ara seraya mencium tangan ibunya.


"Gak sarapan dulu nak?" teriak Bu Mia.


Hari ini pagi-pagi sekali Ara pergi ke kantor.


"Tumben neng ke kantor pagi-pagi begini?" tanya Satpam yang sedang melihat Ara di parkiran.


"Iya pak, gajian," kata Ara sambil berbisik.


"Eh Ara tumben banget jam segini udah nyampe kantor," sapa Rio supervisor Ara.


"Iya pak, kebetulan jadwal kuliah saya hari ini siang," Ara tersenyum pada Rio.


"Yuk ke ruangan saya sebentar," ajak Rio yang baru memasuki kantor.Ara pun mengekor di belakang.


"Silahkan duduk Ra," kata Rio dengan ramah.


"Ini gaji pertama kamu," Rio memberikan amplop berwarna coklat pada Ara.


"Gaji pertama buat apa Ra?" tanya Rio basa-basi.


"Buat bayar hutang pak," kata-kata Ara membuat Rio mengerutkan keningnya.


"Masak kamu punya hutang Ra? Hutangnya sama siapa?" tanya Rio.


"Sama temen kampus pak," jujur Ara sambil menghitung uang tanpa memperdulikan keberadaan atasannya.


"Berapa hutangnya?" tambah Rio.


"Lima belas juta Pak,"


"Banyak banget Ra buat bayar apaan sih sampai kamu berhutang," tanya Rio.


"Gue kok berasa kaya diinterogasi ya," batin Mutiara.


"Permisi pak ada orderan yang masuk," pamit Ara dan Rio pun mempersilahkan.


Lalu Ara menjemput penumpang yang akan naik.Setelah mengantar sampai tujuan Ara menuju ke kampus. Ia berencana memberikan sebagian uangnya untuk membayar uang ganti rugi kepada Radith.

__ADS_1


"Dit," panggil Ara pada laki-laki berkulit putih itu.


Ara menambah kecepatan langkahnya agar bisa mengejar Radith.


"Heh cowok belagu, dipanggil diem aja sih," Ara menepuk bahu Radith sambil terengah-engah.Ia pun menyerobot minuman air mineral yang dipegang oleh Radith dan meneguknya sampai habis.


"Gila, gak cowok gak cewek sama aja," Didu heran melihat sikap Ara, baginya itu seperti ciuman tidak langsung.


"Gue mau bayar hutang," Ara hendak mengambil uang yang ada di tasnya namun tidak menemukan amplop coklat yang berisi gaji pertamanya.


"Amplop gue mana?" gumam Ara.


"Mana uangnya cepetan gue mau masuk kelas," Radith menadahkan tangannya.


"Duit gue hilang," wajah Ara berubah jadi cemas.


"Hilang dimana neng?" Didu ikut khawatir.


"Alah paling alasan lo doang," cibir Radith.


"Enggak, tadi tu beneran gue taruh di tas," Ara memutar badannya seraya melihat ke bawah barangkali uangnya jatuh.


"Apa orang tadi ya yang habis bonceng gue," batin Ara sambil mengingat-ingat lagi.


"Heleh alasan bilang aja lo gak mau bayar," Radith pura-pura tidak percaya. Padahal di dalam lubuk hatinya ia gengsi mengungkap kekhawatiran di depan gadis yang ia sukai.


"Sumpah tadi tu gue habis gajian, habis itu uangnya gue taruh di dalam tas," kata Ara yang berusaha meyakinkan Radith.


"Ok gue percaya lo habis gajian tapi uangnya gak ada jadi elo gak bisa bayar cicilan pertama lo, so harus ada konsekuensi nya,"


"Maksud lo?" Ara mengernyitkan keningnya.


"Bayar sekarang ato bayar dengan bunga," Radith memberikan pilihan.


"Apa konsekuensinya?" tanya Ara dengan pasrah menanti jawaban Radith.


"Elo harus jadi pacar gue," kata Radith.


"Itu mulu dari kemaren, gak bosen lo bilang cinta ke gue," cibir Ara.


Kalau lo gak mau ya udah bulan depan bayarnya pakai bunga," kata Radith.


"Dasar rentenir," kesal Ara dengan perkataan Radith.


"Baru tahu lo kalau perusahaan milik bokap gue bergerak dalam bidang perbankan," Radith sedikit pamer dengan kekayaan keluarganya.


"Kasih gue waktu sebulan lagi buat bayar uang ganti ruginya," pinta Ara dengan muka memelas.

__ADS_1


"Susah banget si Ra bujuk lo buat jadi pacar gue, apa kurangnya gue coba gue ganteng, kaya populer..." belum sempat Radith meneruskan kalimatnya Ara sudah terlebih dulu menyela.


"Susah emang ngomong sama cowk belagu kaya elo," Ara pergi meninggalkan Didu dan Radith.


__ADS_2