
Rasya, Ara dan Ibunya sedang berada di meja makan untuk sarapan.Rumah besar mereka sudah berkurang penghuninya karena keluarga Ramadhan sudah kembali ke Jerman kemaren seusai menjenguk Radith di makamnya.
"Ibu ke belakang duluan ya," ucap Bu Mia meninggalkan anak dan menantunya di meja makan.
"Sepi banget ya rumah ini setelah semuanya balik ke Jerman," keluh Ara.
Rasya tersenyum melihat sikap istrinya yang lesu karena rumah kembali sepi. "Tidak papa sayang kapan-kapan kita yang menyusul mereka ke sana," ucap laki-laki berwajah tampan itu.
Ia mengelap wajahnya dengan tisu selesai menyantap roti bakar dengan selai coklat yang disiapkan oleh istrinya pagi ini.
"Kakak berangkat sekarang ya,sayang," pamit Rasya setelah menyelesaikan sarapannya.
Ia mengecup kening istrinya singkat. Ara tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
"Hati-hati kak," ucap Ara.
Rasya pun keluar dengan menimang kunci mobil di tangannya.Pagi ini ia memakai mobil sport warna merah miliknya.
"Tolong buka pintunya pak," perintahnya dipatuhi oleh satpam penjaga rumahnya.
Sementara sang suami pergi kuliah, Ara tidak ada kegiatan di rumah karena semenjak ia menikah dengan Rasya, wanita itu tidak memiliki pekerjaan.Ia ingin membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah tapi ibunya melarang.
"Biar ibu saja nanti kamu capek," larang sang ibu.
Wanita yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh itu merasa bosan sehingga ia memutuskan untuk keluar rumah.
"Bu Ara cari camilan dulu ya di luar," teriak Ara pada ibunya yang sedang memasak.
"Kamu jangan makan sembarang ya Ra, gak bagus buat janinmu," saran sang ibu.
"Gak janji bu," lirih Ara sebelum keluar rumah.
Ia keluar dengan mengenakan kaos oversize warna kuning dengan setelan celana panjang dan sandal japit.
"Nyonya mau kemana?" tanya satpam.
"Mau keluar bentar buat jajan," jawabnya ramah.
"Oh gak minta diantar sopir saja?"
__ADS_1
"Gak pak aku nyarinya deket-deket sini aja ko," tolaknya.
Ara menyusuri jalanan komplek rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok penjual es kelapa muda. Entah mengapa tenggorokannya merasa dahaga. Ia ingin membasahi tenggorokan itu dengan sesuatu yang menyegarkan. Maka ia memutuskan untuk mencari keberadaannya.
Lama mencari sampai ia sedikit kecapekan dan mengentikan langkahnya sejenak.
"Biasanya mangkal di sekitar sini, apa hari ini dia libur ya," gumam Ara.
Lalu saat dirinya kembali berjalan untuk mencari keberadaan orang yang dia cari, seorang anak kecil tampak kesuliatan meraih layangan yang putus dan tersangkut di ranting pohon.Tubuhnya yang pendek membuat anak itu kesulitan meraih layangan putus itu.
"Hei kamu lagi ngapain?" tanya Ara yang menyamakan tinggi dengan anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun.
"Layangan aku putus," jawab anak kecil itu dengan terisak.
"Kamu jangan sedih ya biar kakak bantu," Ara mengacak lembut rambut anak itu.
Wanita yang tengah hamil tersebut berusaha meraih layangan putus itu dengan tangannya tapi tidak sampai. Lalu ia sedikit melompat masih juga tidak teraih. Akhirnya ia memindai sekitarnya untuk menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk meraih layangan itu namun hasilnya nihil.
"Ah susah banget sih," keluhnya.
"Bisa gak kak?" tanya anak kecil itu.
Ara menoleh, ia jadi tidak tega saat melihat wajah yang penuh harap itu. "Sabar ya," ucap Ara sambil tersenyum.
Bug
Seseorang menangkap tubuh Ara dengan kedua tangannya. Anak kecil itu merasa khawatir melihat wanita yang menolongnya terjatuh." Kakak tidak apa-apa?" tanya bocah tersebut.
"Ah tidak apa-apa sayang," ucapnya saat berusaha bangkit.Ia mengabaikan orang yang menolongnya.
Lalu Ara memberikan layangan itu pada anak laki-laki yang ia tolong."Ini punya kamu," ucapnya dengan tersenyum.
Anak itu lari entah kemana setelah memperoleh layangannya kembali tanpa mengucapkan kata terima kasih pada Ara terlebih dulu. "Dasar anak kecil," gumam Ara.
"Anda baik-baik saja nona?" suara itu membuyarkan lamunan Ara.Ia pun menoleh ke sumber suara.
"Ah terima kasih banyak tuan sudah menolong saya, maaf telah mengabaikan anda tadi," ucapnya dengan penuh penyesalan.
Laki-laki yang tinggi itu menatap ke dalam mata Ara. Ia terpesona dengan mata Ara yang teduh. Semyumnya juga sangat manis ditambah lagi wajah yang cantik semakin membuat Ernest tergila-gila.
__ADS_1
"Kenalkan namaku Ernest," ucapnya seraya mengulurkan tangannya untuk mengajak Ara berkenalan.
"Mutiara," Ara membalas uluran tangan laki-laki yang telah menolongnya tadi.
"Cantik" pujinya dalam hati.
"Mau saya antar pulang?" Ernest menawarkan bantuan.
"Ah tidak usah tuan saya ingin membeli sesuatu," tolak Ara secara halus.
"Baiklah kalau begitu saya permisi," pamitnya kemudian memasuki mobil.
Lima menit yang lalu Ernest yang baru pindah ke komplek rumah yang sama dengan Ara akan menuju ke rumah barunya menggunakan mobil. Namun laju mobilnya terhenti saat Ernest tidak sengaja melihat sosok wanita yang kesulitan mengambil layangan yang tersangkut di atas pohon. Ia pun ingin membantu wanita dan anak kecil di depannya sehingga ia pun menghentikan mobilnya. Tidak diduga kaki Ara tidak bisa menahan tubuhnya yang goyang sehingga ia terjatuh saat mendarat. Beruntung saat itu Ernest sudah berada di dekatnya. Sehingga ia dapat menangkap tubuh ramping Ara.
Di dalam mobilnya ia melambai ke arah Ara. Ara hanya mengangguk pelan untuk menghormati orang yang telah menolongnya. Lalu setelah mobil itu pergi Ara kembali mencari penjual es kelapa. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Penjual yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga.
Wajah Ara sudah pasti sumringah karena apa yang ia inginkan tercapai. "Ya ampun gak jadi ngiler kamu nak," gumamnya seraya mengelus perut datarnya.
"Pak berhenti, tolong bungkus 2 es kelapa mudanya ya," pintanya pada penjual itu yang baru saja menghentikan gerobaknya.
"Baik neng, pakai es apa tidak?" tanyanya.
"Sedikit saja pak," jawab Ara.
Setelah mendapatkan apa yang ingin ia beli, Ara kembali dengan menenteng 2 bungkusan es kelapa.Dengan wajah sumringah ia menyusuri jalanan sampai ke rumah besarnya.
"Ya ampun kamu darimana saja nak, kok lama banget perginya, ibu jadi khawatir," tanya Bu Mia.
"Beli ini bu," Ara mengangkat bungkusan itu dan menunjukkan pada ibunya.
"Apa itu nak?" tanya sang ibu yang baru melepas apron.
"Es kelapa muda bu,"
"Ya ampun kamu udah mulai nyidam sekarang, katakan pada ibu kamu ingin masakan apa biar cucu ibu gak ileran," seloroh sang ibu membuat Ara mengerutkan keningnya.
"Ah ibu ada-ada saja," gumamnya.
"Ara mau masuk kamar dulu bu soalnya capek kaki Ara habis muter-muter baru nemu," ucapnya sebelum ke kamar.
__ADS_1
...***...
Makasih my beloved readers udah ceritaku ini. Dukung terus dengan memberi hadiah poinnya ya