Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Resmi Tunangan


__ADS_3

Mobil Rasya berhenti di sebuah butik yang lumayan terkenal.


"Ayo turun,"ajak Rasya.


"Saya ikut pak?" tanya Ara ragu.Rasya mengulurkan tangannya agar Ara ikut turun.


Saat baru memasuki sebuah butik tersebut kedatangan Rasya dan Ara disambut oleh seorang laki-laki yang lemah gemulai.


"Hey Cin Rasya kapan balik dari Jerman? udah lama bingit gak mampir ke sindang," Alan nama laki-laki yang lemah gemulai itu.


"Carikan baju yang sesuai dengan ukurannya!"


"Siapa dese pacar ye?" Rasya tersenyum miring.


"Yuk cantik ikut eke," Alan menarik tangan Ara dengan lembut.


"Sejak kapan ye kenal sama Cin Rasya?"


"Belum lama,"


"Tahu gak dia tu belum pernah ngajak cewek ke sindang, ye satu-satunya cewek yang doi ajak, pasti ye spesial buat dese,"


"Ngomong apa nih orang gue gak ngerti," bingung Ara mendengar perkataan Alan.


"Ni baju cantik juga," Alan memberikan gaun putih lengan panjang selutut dengan bawahan rok yang mengembang.


"Pake nih," tanya Ara.


"Iya coba gih," suruh Alan.


Lalu Ara memasuki ruang ganti. Sementara Rasya menunggu di luar bersama Alan. Beberapa saat kemudian Ara keluar dari balik gorden dengan mengenakan gaun yang telah dipilihkan tadi.


"Ya ampun cantik bingits pacar ye," kagum Alan sambil mengelilingi Ara.


Rasya tersenyum puas dengan penampilan Ara. "Kamu cantik," puji Rasya di depan Ara membuat wajah Ara jadi bersemu merah. Tak hanya itu Rasya mencium tangan Ara.


"Kalian jangan pamer kemesraan di depan eke deh, jones nih," rengek Alan.


"Alan dandani dia jadi lebih cantik," Rasya menyerahkan tanga Ara pada Alan.


Alan membawa Ara ke salon yang masih satu tempat dengan butiknya. Tak hanya didandani Ara juga diberikan sepatu bagus.


"Sepatu ini limited edition ya, cantik banget kalau ye yang pake," puji Alan.


Kata limited edition membuat Ara berfikir dan menanyakan harga saking penasaran.


"Harganya berapa?" tanya Ara iseng.


"Sebelas juta," Ara lansung tersedak saat meminum air mineral yang disediakan untuknya.


"Gila semahal itu," tanya Ara tidak percaya.


"Huum gaun ye juga lebih mahal kan pake swaroski,"


"Beberapa?" bisik Ara.

__ADS_1


"Delapan belas juta," Ara jadi sempoyongan.


"Eh ye gak papa say?" Alan menangkap tangan Ara yang hampir pingsan.


"Gila duit darimana gue bayar gaun semahal ini,bahkan gaji bulanan gue juga gak cukup buat bayar ini semua," tanya Ara panik.


"Tenang aja kan semua udah dibayarin Cin Rasya, ye beruntung dapetin anak sultan seperti dese,"


"Serius?" Alan menjawabnya dengan anggukan.


"Sebenarnya gue mau dibawa kemana samape diubah jadi Cinderella gini," batin Ara.


"Yuk kita ke depan," ajak Alan sambil menggandeng tangan Ara.


"Cin Rasya," panggil Alan pada seseorang yang membelakangi keduanya.


Rasya pun menoleh. Ara kagum melihat penampilan Rasya yang memakai setelan tuxedo warna hitam dengan dasi kupu-kupu.


"Itu manusia apa bukan ganteng banget," sekilas Ara tampak terdiam.


"Ayo kita pergi sekarang," tangan Rasya menarik tangan Ara secara lembut.


"Kemana?" tanya Ara.


"Ke Jerman," Ara membuan tangan Rasya.


"Tapi saya harus kerja," tolak Ara secara halus.


"Saya sudah ijinkan kamu pada Rio," sanggah Rasya.


"Lulu sudah tahu kamu akan pergi dengan saya," Rasya tersenyum pada Ara seolah Ara tersihir dengan senyumnya yang mengandung racun.


Drrt drrt


Elo pergi aja sama kak Rasya, gue udah dibayar mahal buat ganti elo yang gak masuk kerja, lumayan sepupuh juta masuk ke rekening gue cuma-cuma, have fun ya kalian.


Begitu Mutiara membaca pesan singkat dari Lulu dia langsung mengumpat kesal.


"SETAN"


"Kamu gak perlu marah sama Lulu ini sudah saya rencanakan dari awal, ini paspor kamu," Rasya menyerahkan paspor pada Ara.


Ara masih linglung. Dia masih tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba diajak ke Jerman.


"Tenang sayang kamu akan tahu setelah kamu sampai di sana," panggilan yang baru saja terucap dari bibir Rasya membuat Ara semakin gagal fokus.


Tak mendapat respon dari gadis cantik itu, Rasya mambawanya berjalan ke mobil. Rasya membukakan pintu supercar miliknya.


"Kamu siap sayang," Rasya memegang tangan Ara yang dingin.


Setibanya di bandara Rasya membawa Ara turun kemudian menaiki jet pribadi miliknya.


"Pak saya belum izin sama ibu saya," Rasya tahu Ara akan kembali beralasan.


Kemudian Rasya mengeluarkan ponsel yang ia simpan dalam saku jasnya.Lalu menekan tombol di layar ponsel pintarnya.

__ADS_1


"Bu bolehkah saya pinjam anaknya sebentar?" tanya Rasya pada seseorang di ujung telepon.


"Bicaralah," Rasya memberikan ponselnya kepada Ara.


"Hallo," kata Ara dengan ragu.


"Nak ibu restui kalian," Ara menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


Ara tidak bisa mencerna perkataan ibunya. Mendadak kepalanya menjadi pusing dan akhirnya Ara pingsan.


Dengan sigap Rasya menangkap tubuh ringkih gadis yang akan dijadikan tunangannya itu. Rasya menggendong Ara kemudian menidurkannya di atas sofa panjang di dalam pesawat.


Jauh lebih cepat dari perjalanan menggunakan pesawat biasa mereka sampai di kediaman keluarga Ramadhan.


"Kenapa dia bisa pingsan, kak?" tanya Andrea yang melihat Ara dalam gendongan Rasya.


"Dia hanya sedikit syok," jawab Rasya.


Kemudian Andrea memberikan bau-bauan yang menyengat ke hidung Ara hingga ia tersadar.


"Aw kepalaku," Ara mencoba membuka matanya perlahan.


"Kak kau sudah sadar?" tanya Andrea pada calon kakak iparnya tersebut.


"Andrea?" sapa Ara yang baru sadar.


"Ayo kita temui keluarga besarku," Ara masih tidak mengerti mengapa dia bisa dibawa ke Jerman untuk menemui orang tua Andrea.


Perlahan Ara bangun dan Andrea membantu Ara memakai sepatunya.Setelah itu Andrea menggandeng lembut tangan Ara. Ara dibawa ke ruangan yang sudah ramai dengan keluarga besar Ramadhan yang sedang berkumpul.


Ara yang masih berada di atas tangga menghentikan langkahnya saat semua orang menatap dirinya.


"Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" tanya Ara pada Andrea.


"Tidak kau sangat cantik kakak ipar," Ara mengerutkan dahinya.


Perlahan mereka berdua turun. Di ujung tangga Rasya menyambut Ara dengan mengulurkan tangannya. Ara menyambut uluran tangan itu. Naas saat ia hendak menuruni tangga terakhir kakinya terpeleset saking gugupnya.


Tangan Rasya menangkap tangan Ara dengan sigap.


"Are you oke?" tanya Rasya pada calon tunangannya itu.


Ara menggeleng, "I'm not oke."


Rasya membantu Ara berdiri kemudian mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin berlian di dalamnya. Rasya meraih tangan kanan Ara lalu memakaikan cincin yang modelnya simpel dengan satu mata berlian di tengahnya.


"Maksudnya apa ini pak?" tanya Ara masih tidak mengerti.


"Kamu resmi jadi tunangan saya," lagi-lagi Ara pingsan. Rasya menggeleng tidak percaya kalau gadis yang sudah resmi jadi tunangan nya itu hoby sekali pingsan.


...***...


Aku udah upload 3 bab sekaligus ya jan bilang author males upload sekali lagi ya guys salahkan sinyal yang gak mau mampir ke rumah author kalau lagi hujan gini


Yang berani baca harus berani kasih poin jan pelit-pelit.

__ADS_1


__ADS_2