Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Kecap Manis


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor Rasya dan Ara akhirnya tiba di rumah besarnya. Rasya melepaskan helm istrinya dengan hati-hati. Jantung Ara jadi berdetak kencang. Walau mereka sudah resmi menikah hampir setengah tahun tapi rasa deg-degan itu masih suka menghampiri Ara. Apalagi ketika Rasya suaminya menunjukkan kasih sayangnya secara langsung.


Wajah Ara sedikit bersemu merah saat wajah Radya sangat dekat dengan wajahnya.


"Sayang kamu kepanasan ya wajahmu sangat merah," tanyanya saat mengamati wajah istrinya.


"Ah tidak," jawab Ara gugup.


Rio yang baru sampai di halaman rumah Rasya memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Setelah itu Bu Mia dan Rio keluar dari mobil. Rio membantu mengeluarkan barang-barang yang dibawa saat di rumah sakit.Lalu Rio berjalan ke arah Rasya menyerahkan kunci mobilnya. Begitu pula dengan Rasya yang menunggu Rio untuk menyerahkan kunci motornya.


"Terima kasih Rio"ucapnya dengan tulus. Rio mengangguk dan berpamitan untuk kembali ke kantor.


Sesampainya di kantor Sarah melihat Rio baru turun dari motor. Laki-laki yang menjadi pacarnya itu terlihat melepaskan helm dan menyerahkan kunci motor pada seorang driver.


Sarah yang penasaran kemudian mendekati kekasihnya."Darimana?" tanya wanita itu singkat.


"Habis menjemput istri pak Rasya di rumah sakit," perkataan Rio membuat Sarah bingung.


"Kenapa pakai motor?" tanya Sarah heran. Pasalnya Rasya bukan orang miskin yang tidak memiliki mobil. Mana mungkin juga Rio menjemput Ara yang baru saja keluar dari rumah sakit.


"Aku gak ngerti,"


"Entahlah aku sendiri juga tidak mengerti, tapi setelah sampai di rumah sakit, pak Rasya memintaku bertukar kendaraan, aku memakai mobilnya kemudian dia memakai motor dan berboncengan dengan istrinya sampai di rumah,"


"Hah, tapi katamu Ara baru keluar dari rumah sakit," Sarah semakin kaget.


"Tapi itu kenyataannya, pak Rasya tidak bilang apa-apa, dia hanya berterima kasih setelah aku sampai di rumahnya,"


Sementara itu di kediaman Rasya, Bu Mia menuntun Ara sampai di ruang tamu.


"Bu Ara gak papa," Ara menurunkan tangan ibunya karena merasa sungkan.


"Ya sudah kamu duduk di sini dulu akan ibu ambilkan minum untukmu," Bu Mia mengambil minuman untuk putrinya kemudian pamit ke kamar karena sudah ada Rasya yang menemani.


Kruk kruk


Rasya mendengar perut Ara berbunyi. Padahal sebelum pulang dari rumah sakit ia sudah sarapan di sana. Entah mengapa perutnya lapar lagi. Rasya menahan senyum. Rasya membawa istrinya itu ke dapur.

__ADS_1


"Sayang kamu mau makan apa? Biar aku yang masakin," tanya Rasya.


Ara menoleh ke sekitar kemudian menujuk botol kecap. "Aku ingin makan nasi sama kecap," pintanya.


"Dokter bilang kamu harus banyak makan-makanan yang bergizi," Rasya mengelus rambut Ara yang panjang.


"Kecap kan juga dari kedelai bergizi lah," sanggah Ara.


Rasya hanya menggeleng, dia terpaksa menuruti keinginan istrinya. Lalu dia mengambilkan nasi dan satu botol kecap.


"Kaya gini apa enak?" ucapnya saat Rasya menyodorkan piring berisi nasi yang sudah diurap dengan kecap.


"Emm yummy, selamat makan," ucap Ara sebelum melahap habis makanannya.


Rasya duduk di dapan istrinya. Ia hanya melihat sang istri yang sedang makan seperti orang yang tidak pernah makan berhari-hari. Tiap satu sendok yang dimasukkan ke dalam mulutnya, Ara selalu tersenyum karena menikmati makanan yang dianggapnya sangat lezat itu.


"Aneh-aneh saja tingkah bumilku ini," batin Rasya melihat istrinya menghabiskan sepiring nasi kecap.


"Aku sudah selesai kak, bolehkah aku tidur, aku sangat mengantuk," kata Ara setelah menguap beberapa kali.


"Sayang sebaiknya setelah makan jangan tiduran dulu," Rasya mengambil piring bekas makan Ara kemudian menaruhnya di tempat cucian.


"Baiklah aku akan menemanimu duduk di sofa sambil nonton tv, nanti apabila kamu ngantuk bersandarlah di bahuku," Ara menyetujui saran Rasya.


Sungguh matanya tidak bisa diajak kompromi. Merasa perutnya kenyang wanita itu langsung terlelap. Kepalanya tersandar di badan sofa. Ini bukan kebiasaan Ara setelah kenyang langsung tidur. Tapi entahlah ini mungkin salah satu perubahan yang ditunjukkan wanita berambut panjang itu saat sedang hamil.


Rasya melihat wajah teduh itu sambil tersenyum. "Padahal baru beberapa menit kamu duduk tapi sudah langsung ke alam mimpi."


Jarinya mulai menyusuri wajah cantik Ara.Rasya menatap lekat-lekat matanya yang indah, bulu mata yang lentik, hidung macung kemudian menghentikan jarinya di bagian bibir.Diusapnya bibir tebal itu dengan ibu jarinya beberapa kali secara lembut. Ia sudah tidak tahan ingin mengecup bibir ranum istrinya itu. Akan tetapi saat ia mendekat ke wajah Ara seseorang berdehem keras hingga membuat Rasya kaget.


Ehem


"Kalian," Rasya menoleh ke arah keluarganya yang baru datang dari Jerman.


"Kamu ini mesum sekali, melakukan sesuatu di saat istrimu sedang tidur," Emely menjewer telinga Rasya.


"Ah ibu," Rasya mengusap-usap telinganya yang sakit.Yang lain sedang menertawakan Rasya.

__ADS_1


Mendengar keributan itu mata Ara mengerjap. Ia terduduk saat mengetahui semua orang berkumpul di hadapannya.


"Ibu," Ara meraih tangan ibu mertuanya.


"Selamat sayang kamu akan menjadi seorang ibu," Emely memeluk tubuh Ara.


Tapi belum sempat Ara menjawab kepalanya merasa pusing. Ia melihat ke arah bunga yang dibawa oleh Emely. Wanita muda itu semakin mual saat Emely menyodorkan bunga kepada Tanpa permisi Ara melewati banyak orang dan berlalu ke toilet.


Huek huek


Rasya menyusul istrinya.Ia memijit leher istrinya. Ia cemas karena Ara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apakah yang membuat istrinya itu menjadi muntah?


"Kamu kenapa sayang?" tanyanya pada sang istri setelah Ara selesai memuntahkan isi perutnya.


"Aku tidak tahan mencium bau bunga," ucapnya dengan lemah.


Kemudian Rasya memapah tubuhnya untuk duduk di atas kursi. Emely mendekat ia masih membawa bunga yang ada di tangannya. Mata Ara sudah berkaca-kaca melihat bunga itu.Ia pun menoleh ke arah suaminya. Rasya yang menyadari kemudian meminta ibunya menyingkirkan bunga yang ia pegang.


"Rupanya menatuku ini tidak tahan dengan bau wangi, baiklah aku akan menyingkirkannya," Emely meletakkan bunga mawar merah yang dibawanya.


"Maafkan aku bu,aku tidak tahu kenapa penciumanku ini sangat tajam sehingga membuatku mual saat mencium wangi bunga,"


"Tidak apa kak itu hal biasa," timpal Andrea.


"Apakah kau dulu juga merasakan hal yang sama Andrea?" tanya Rasya.


"Tidak, aku tidak mual melainkan suamiku yang selalu muntah di pagi hari," Andrea menoleh ke arah suaminya.


"Iya aku ingat," tambah sang suami.


"Kok bisa?" Ara tidak mengerti.


"Suamiku mengalami kehamilan simpatik, ia akan mengalami apa yang dirasakan istrinya ketika sedang mengandung," terangnya seraya mencium pipi Bulan.


"Oh ya, sayang bersiap-siaplah muntah seperti apa yang aku rasakan," ancam Ara diselingi tawa kecil.


"Aku yakin aku tidak akan mengalaminya karena kamu sudah mewakiliku," Rasya mencolek hidung Ara sayang.

__ADS_1


"Wah rupanya ada tamu," sapa Bu Mia saat dirinya baru turun dari kamarnya.


__ADS_2