
Ehem
Suara deheman anak kecil yang terdengar itu membuat Ara dan Rasya menoleh.
"Om dilarang bermesraan di tempat umum," ucap anak berumur enam tahun itu.
"Julian," panggil sang Ibu.
Seorang wanita cantik berambut panjang menghampiri ketiganya.
"Maafkan anak saya ya mas, mbak," Celine memegangi anaknya.
"Lain kali yang sopan ya sama tamu mommy," wanita itu menasehati anak lelakinya. Lalu menoleh ke arah Ara dan Rasya lagi.
"Eh kamu bukannya anaknya bu Mia ya," tebak wanita itu.
"Oya mbak tahu darimana?" tanya Ara pada wanita yang usianya sepantaran dengan Rasya.
"Saya Celine, ibu kamu sempat kerja di rumah saya, bagaimana kabar ibu kamu?" tanya Celine* basa-basi.
*Buat yang pernah baca Mr. Playboy kalian akan tahu kisah Celine dan anak kembarnya.
"Oh iya mbak, semenjak ibu jatuh dan masuk rumah sakit saya melarangnya bekerja," terang Ara.
"Maaf ya saya belum sempat nengokin ibu kamu," ada rasa penyesalan di wajah Celine.
Ehem
Rasya berdehem karena merasa dicuekin.
"Eh maaf kak," Ara jadi merasa tidak enak pada tunangannya itu.
"Ini tunangan saya mbak," Rasya mengangguk sopan saat Celine beralih menatap pemuda yang satu meja dengan Ara.
"Oh ya kalian sudah pesan makanan?" tanya Celine kemudian Ara menggeleng.
"Ya sudah nanti pesan makanan khusus hari ini mbak aja yang bayar,oya sampaikan salam mbak buat ibu kamu ya, siapa nama kamu?" tanya Celine ramah.
"Mutiara mbak," Celine pun tersenyum setelah mendengar nama Ara. Lalu ia memilih pergi bersama anaknya
"Makasih banyak mbak," Celine mengangkat tangannya.
"Kamu kalau udah ketemu orang yang dikenal gitu ya Ra suka gak inget sama kakak," Rasya pura-pura kesal pada Ara.
"Yang tadi itu pernah jadi majikannya ibu kak, Ara jadi inget kalau ibu pernah cerita kalau dia punya usaha ayam geprek mungkin dia owner di sini, astaga," sejenak Ara menyadari.
Sesaat kemudian seorang pelayan membawa pesanan makanan untuk mereka.
"Makasih banyak mbak," kata Ara dengan ramah.
__ADS_1
"Ini pesanan spesial buat mbak sama mas dari Bu Celine," kata pelayan itu.
"Sampaikan ucapan terima kasih saya ya mbak," pelayan itu mengangguk kemudian pergi.
"Kak Rasya kenapa? belum pernah makan ini?" tanya Ara melihat wajah Rasya yang sedikit aneh.
"Ini gimana cara makannya Ra, ko dikasih air di dalam mangkuk juga, ini air putih ya?" tanya Rasya yang belum pernah memakan menu ayam geprek.
"Ya ampun kak Rasya belum pernah makan ayam geprek?" Ara tertawa sekilas.
"Nih caranya kak Rasya cuci tangan dulu di mangkuk itu terus makannya pake tangan lebih enak kalau pake sendok sama garpu ribet, coba deh," Rasya mengikuti arahan Ara.
"Huh hah pedes banget sayang," Ara tertawa melihat Rasya yang tidak tahan memakan makanan pedas.
"Lagian kakak tumben-tumbenan ngajak makan di restoran Indo biasanya juga makan mi sama ikan goreng," Rasya mengernyit heran.
"Maksud kamu spagetti sama salmon seperti yang ibu aku masakin waktu itu Ra?" tebak Rasya.
"Iya gak kenyang tahu makan mi doang kak, kalo gini kan mantep ada lauk sama nasinya, tambahin ini seger kak," Ara mengambilkan mentimun sebagai tambahan.
"Orang Indo makannya berat ya kalau gini bisa makin gemuk aku," Rasya terkekeh.
"Ya ampun cowok ko ngitung kalori segala gue aja makannya asal kenyang semua masuk," batin Ara sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
Rasya tampak belum terbiasa menggunakan tangannya lansung untuk makan. Ara tertawa kecil.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri sih Ra?" tanya Rasya penasaran.
Sejenak pandangan mereka terkunci.Wajah Ara jadi bersemu merah karena malu. Rasya tersenyum simpul saat melihat wajah Ara yang menggemaskan itu.
"Ra sekalian suapin dong kakak belum terbiasa makan gak pake sendok sama garpu," goda Rasya.
"Emm emm aku udah kenyang," tiba-tiba Ara mengehentikan makanannya.
"Tapi kamu kan baru makan dikit Ra," Rasya melihat nasi dan ayan di piring Ara masih tersisa.
"Udah malem kak nanti ibu nyariin, kasian juga sendirian di rumah," Ara ngeles.
"Ya udah kita pulang," Rasya menuruti kemauan kekasihnya itu.
"Kakak bawa mobil?" pertanyaan Ara dijawab dengan gelengan kepala Rasya.
"Aku bawa motor," kata Rasya menunjuk motor sport warna merah yang biasa dipake Radith.
"Kenapa bawa motor itu sih?" Ara sedikit berkaca-kaca sebab ia teringat akan sosok Radith.
"Motornya masih bagus sayang kalau dijual," jawab Rasya.
"Ya udah kamu masuk mobil kakak ikuti dari belakang," Ara mengangguk mengerti.
__ADS_1
Ara pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Rasya mengikuti Ara sampai ia memakirkan mobil yang ia kendarai di depan rumahnya.
Setelah turun dari mobil Ara menghampiri Rasya untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada tunangannya itu.
"Kakak pulangnya hati-hati ya, makasih udah nganterin Ara,"
"Kakak gak disuruh mampir dulu Ra minum teh gitu," canda Rasya yang hanya membuka penutup helmnya.
"Besok aja ya kak udah malem ntar digrebek tetangga kakak juga yang malu," Ara tertawa kecil.
"Balik dulu ya sayang," Rasya mengacak rambut Ara.
Wajah Ara jadi bersemu merah. Di usapnya kembali rambut yang habis disentuh oleh Rasya. "Dugh kak Rasya bikin aku baper," Ara kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Semenjak Ara sering pulang malam Bu Mia memberikan kunci serep untuknya agar ia bisa membuka sendiri pintu rumah terlebih kalau ibunya sedang tidur.
Ara menuju ke kamarnya. Ia membuang tas begitu saja. Setelah itu merebahkan diri di atas kasur busa yang hanya muat untuk satu orang saja.
"Ya ampun yang dilakuin kak Rasya bikin jantung gue deg deg ser," Ara jadi cengengesan sendiri saat mengingat rambutnya yang diacak oleh pemuda tampan itu.
"Kira-kira dia udah sampai rumah belum ya? gue chat aja agh kasian jadinya harus nganterin aku segala," Ara bangun dan mengambil ponsel di dalam tas.
Ara : sudah sampe rumah?
Lima menit menunggu balasan chat dari Rasya terasa sangat lama bagi Ara.
Rasya : kenapa? kamu kengen ya?
Ara : gak nanya doang, aku kelihatan kepo ya?
Rasya : kamu bukannya kepo tapi perhatian, ini baru sampai, kamu belum bobok?
"Cih gue sama Radith dulu gak pernah chat-chatan kaya gini, alay banget sih gue,sumpah," Ara merutuki kelakuannya hingga membenamkan wajahnya di bawah bantal.
Sepuluh menit tidak mendapat balasan dari Ara, Rasya kembali mengirimkan pesan.
Rasya : sudah tidur ya? selamt tidur sayangku, jangan lupa mimpiin aku ya 😘
"Dih apaan nih emotnya bikin gue melting,aaaa..." teriak Ara hingga membangunkan ibunya yang sedang tidur.
"Kamu ngapain teriak-teriak Ra?" tanya ibunya dari luar.
"Eh ini bu ada kecoa di kamar Ara," bohong Ara.
"Ya sudah pukul aja pake sapu,"
"Ya bu nanti Ara ambil sapunya ibu tidur lagi aja," teriak Ara agar ibunya kembali ke kamar.
...***...
__ADS_1
Tambahin vote sama hadiahnya biar karyaku nangkring di rangking ya. Makasih yang udah koment maaf belum bisa balas satu-satu.