Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Berkumpul


__ADS_3

"Sayang nunggunya lama?" tanya gadis yang ditaksir usianya lebih tua dari pada Lulu.


Lulu menoleh ke arah wanita yang masih memakai setelan jas kantor dengan rok ketat selutut.


"Siapa mbak-mbak cantik ini ko manggil sayang ke Pak Rio?" Lulu melepas tangannya yang menempel di pipi sejak tadi.


"Gak juga," Rio menjawab pertanyaan temannya seraya tersenyum di hadapan wanita itu sehingga membuat Lulu mbrengut kesal.


"Kenalin ini Lulu temannya Ara," Rio memperkenalkan Lulu pada teman wanita yang berdiri di sebelah Rio.


"Sarah,pacarnya Rio," wanita yang menjadi teman Ara di kantor itu mengulurkan tangannya ramah.


"Lulu," dengan berat membalas ukuran tangan Sarah.


"Aku denger ini kafe punya kamu ya?" tanya Sarah.


"Bukan," jawab Lulu ketus. Sarah jadi mengerutkan keningnya.


"Ini punya ayah saya," jawabnya lagi lalu tiba-tiba pergi meninggalkan keduanya.


"Dia kenapa?" Sarah mengalihkan pandangannya kepada Rio.Rio hanya mengangkat bahunya tidak tahu.


"Ra sini lo," Lulu memanggil Ara yang baru saja keluar dari gudang.


"Lo kira-kira dong kalau mo ngenalin cowok, udah punya pacar gitu mo dijodohin ke gue, lo pikir gue pelakor hm?" kesal Lulu.


"Pak Rio ngajak pacarnya? setahu gue dia jomblo Lu," Ara mengingat kembali status bosnya itu.


"Lo liat ndiri aja tuh ceweknya," Lulu mengangkat dagunya.


Karena penasaran Ara menghampiri Rio ke mejanya.Ia melihat punggung wanita yang tampaknya tidak asing baginya. Lalu saat semakin dekat wanita itu menoleh pada Ara.Ia melambaikan tangan dan tersenyum.


"Mbak Sarah," sapa Ara pada teman satu profesinya.


"Hai Ra, jadi juga kamu kerja di kafe ini?" tanya Sarah.


"Iya dong mbak, mbak sendiri ko bisa bareng sama pak Rio?" Ara beralih melihat ke arah Rio.


"Kita udah jadian," tutur Rio membuat Ara kaget sampai menutup mulut dengan tangannya.


"Wih selamat ya Pak, pajak jadiannya mana pak?" canda Ara sambil terkekeh.


"Iya aku traktir kamu makan di sini, oh ya sekalian nanti ada meeting bentar sama Pak Rasya," perkataan Rio membuat Ara kelabakan.


"Gila aja meeting di kafe Lulu bisa kehilangan muka gue pake ginian,mana dandanan gue kucel lagi," Ara melihat dirinya sendiri yang hanya memakai pakaian casual dipadukan celemek kafe dengan rambut digulung.


"Eh bapak ko gak bilang pak Rasya mau dateng?" tanya Ara.


"Orang dianya juga baru nelpon lima menit yang lalu," Rio menunjukkan ponsel yang ia genggam.

__ADS_1


"Kalau gitu saya ke belakang dulu pak," Ara buru-buru balik badan.


Bug


Ara menubruk dada seseorang saat Ara membalikkan badan. Gadis itu pun mendongak. Ia kaget sejak kapan Rasya berdiri di belakangnya.


"Maaf Pak," Ara menundukkan kepalanya.


"Memang saya setua itu ya sampai kamu manggil saya bapak, bukankah saya seumuran dengan mantan pacar kamu," bisik Rasya ke telinga Ara.


Wajah Ara jadi bersemu merah. Jantungnya berdetak tidak karuan karena berada sedekat itu dengan Rasya.


"Nih jantung kenapa ya?" batin Ara merasakan denyut jantungnya yang semakin cepat hingga ia memukul dadany beberapa kali.


"Are you oke?" tanya Rasya dengan menyondongkan kepalanya.


"Iya oke," Ara ingin menghindar dari Rasya tapi tangannya sudah ditarik dan dipaksa duduk satu meja dengan Rio dan Sarah.


"Saya kenapa disuruh duduk di sini pak?" tanya Ara tidak mengerti.


"Kamu belum makan kan?" Rasya menebak tapi tebakannya itu benar adanya.Ara menggeleng.


Lalu Rasya memanggil pelayan lain untuk memesan makanan.


"Eh pak biar saya saja yang pesenin makanan, saya kan kerja di sini juga," tukas Ara.


"Iya tapi sekarang saya traktir kamu makan," paksa Rasya.


"Sialan Lulu bukannya ngelarang gue malah tu anak ngrestuin," Ara nampak kesal pada temannya itu.


Seusai makan malam bersama di kafe Lulu. Rio dan Sarah pamit terlebih dulu. Ara kembali bekerja. Rasya keluar dari kafe tapi diam-diam dia menunggu sampai kafe tutup.


Sudah hampir satu jam dia menunggu di atas motor tapi dia tidak melihat Ara keluar. Lalu Rasya memutuskan untuk masuk ke dalam kafe Lulu.


Klunting


"Maaf kafe kami sudah mau tutup," Lulu masih mengelap meja tanpa melihat siapa yang datang.


"Ara mana Lu?" suara itu membuat Lulu menoleh.


"Eh Kak Rasya belum pulang?" tanya Lulu kaget. Rasya menggeleng.


"Kamu lihat Ara?" Lulu menggerakkan dagunya.


Rasya melihat ke arah yang ditunjukkan Lulu. Ara meletakan kepalanya di atas meja. Rasya mendekat dilihatnya wajah yang tertutup oleh rambutnya yang panjang. Tangan Rasya kemudian menyibak rambut yang menutupi wajah cantik Ara.


"Lucu juga kalau lagi tidur," batin Rasya sambil tersenyum melihat wajah capek Ara.


"Lulu biar saya yang anterin Mutiara pulang,"

__ADS_1


"Oh baiklah, saya ambilkan tasnya dulu kak," Lulu bergegas mengambil tas milik sahabatnya itu.


Rasya menggendong tubuh Ara. Tidak ada perlawanan dari gadis yang usiannya belum genap 20 tahun itu. Ara masih tertidur dalam gendongan Rasya.


"Kecil-kecil berat juga badannya," batin Rasya.


Lulu mengalungkan tas Ara pada leher Rasya karena kedua tangan pemuda itu sedang memegang tubuh Ara.


"Saya pulang duluan," pamit Rasya.


"Iya titip Ara ya kak," Lulu berpesan pada Rasya, pemuda itu pun mengangguk.


Beberapa menit kemudian Lulu teringat akan sesuatu.


"Lah gue lupa ngasih tahu alamat rumah Ara," Lulu pun berlari mengejar Rasya. Ia mengedarkan pandangannya.Saat ia menekukan keberadaan Rasya ia berniat mengejarnya.Tapi tampaknya Lulu kalah cepat. Rasya sudah melajukan mobil milik Ara.


"Seenaknya aja dia ninggalin motornya di depan kafe gue," gerutu Lulu ketika melihat motor yang dia kenal masih terparkir di halaman kafenya.


Tak lama kemudian ponsel yang ada di sakunya berbunyi.Dilihatnya nama Rasya pada layar ponselnya.Lulu mengangkat telepon tersebut.


"Motor saya biarkan di situ, nanti biar anak buah saya yang ambil," kata seseorang dari balik telepon.


Lulu menjauhkan telepon genggamnya dari telinga.


"Anak sultan mah bebas mau motornya ditinggal dimana pun gak masalah," gumam Lulu kemudian bersiap memasuki kafenya kembali.


Sementara itu Rasya yang mengemudikan mobil Ara tampak menoleh sebentar ke arah gadis di sampingnya kemudian fokus ke jalanan aspal yang ada di depan.


"Kebo juga ya ni anak, masak tidur kaya orang pingsan, digendong pun dia tidak berasa," Rasya menggeleng.


Dug


Kepala Ara terbentur kaca mobil yang ada di depannya saat Rasya mengerem mendadak.


"Aduh kepala gue," Ara memegang kepalanya yang sakit akibat terbentur.


Rasya tertawa melihat tingkah Ara yang menggemaskan.


"Are you oke?" pertanyaan sama yang selalu di dengar Ara saat bertemu seseorang.


...***...


Curhat dong dears


Maaf ya gak update semalam, jan salahin author salahin sinyal yang gak lihat tempat kalau mo ngambek jadinya author gagal upload episode baru.


Gak update sehari langsung turun level ke peringkat genre author jadi sedih, pliss yang udah baca tinggalin jejak ya dengan kasih poin kalau belum bisa author kasih tahu


__ADS_1


Klik tanda panah ya


__ADS_2