Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
CS


__ADS_3

"Nanti pulang kuliah aku yang bawa motor kamu lagi ya," kata Radith dalam pesannya.


"Gak usah kamu pulang duluan aja, aku mau mampir ke kantor dulu buat lapor sama atasan,"


balas Ara.


"Aku anterin takut kamu kenapa-napa,"


"Emang aku kenapa?"


"Biasanya kalo habis disemprot atasan orang pasti merasa sedih dan frustasi nanti kamu bawa motornya gak bener lagi,"


"Dih kebanyakan baca novel,"


"Aku gak suka baca novel,"


"Kalau gitu nonton sinetron ya?"


"Aku sukanya nonton wajah kamu kalau lagi senyum,"


Tepukan pundak dari Lulu mengagetkan Mutiara.


"Eh Ra kesambet lo?" tanya Lulu yang sedari memperhatikan sahabatnya tersenyum sendiri.


"Chatan sama siapa sih kayanya seru banget?" tambahnya lagi.


"Sama pa...eh gue lagi bales komen di medsos," bohong Ara yang merasa gugup.


"Oh," jawab Lulu.


Setelah memberesi buku-buku mereka keluar gedung. Brian menunggu di luar lalu menarik tangan Ara.


"Ra ada waktu gak? makan siang bareng yuk," ajak Brian.


"Sorry kak tapi aku ada urusan," tolak Ara secara halus sambil melepaskan tangannya.


"Mau aku antar gak?" tawarnya lagi.


"Mau aja Ra, ntar gue nebeng sekalian," Lulu memprofokasi.


"Gue ada urusan sama atasan gue," bisik Ara.


"Duluan ya kak next time aja," Ara melewati Brian dan Lulu. Gadis itu keluar dari kelas. Namun saat berada di koridor langkahnya terhenti.


"Mau kemana?" tanya seseorang yang menghadang jalan Ara dengan merentangkan salah satu tangannya.


"Kan udah aku bilang aku mau laporan sama atasan aku siang ini, kamu pulangnya naik taxi gak papa ya," kata Ara.


"Aku antar," Radith merebut kunci motor yang Ara pegang.


"Dit tunggu," Ara mengejar Radith.


"Panggil sayang," teriak Radith.


"Radith," kesal Ara. Ia melihat kanan kiri mengamati apakah ada yang mendengar perkataan Radith.


Sesampainya di kantor ojek online seperti biasa pak Satpam menyapa Ara.


"Saya kira siapa, ternyata neng Ara? sama temennya ya neng?" tanya Satpam itu sambil melihat ke arah pemuda yang baginya sangat tampan itu.


"Iya pak ini.." belum selesai berkata Radith sudah menyela.

__ADS_1


"Saya pacarnya pak," Radith menyalami tangan Satpam tersebut dengan sopan.


"Oh pinter banget neng Ara milihnya ganteng pisan euy, bapak aja kalah ganteng sama pacarnya neng Ara," canda Satpam tersebut membuat Ara dan Radith tertawa.


"Masuk dulu ya pak mau nemuin Pak Rio, tunggu di sini bentar ya," Radith mengangguk.


"Permisi pak," Ara membuka pintu ruangan supervisornya.


"Eh Mutiara masuk," perintah Rio kemudian dipatuhi oleh Ara.


"Saya ke sini mau minta maaf pak tidak izin selama tidak bekerja," kata Ara dengan kepala menunduk


"Iya saya mau tahu kenapa kamu sampai tidak memberi kabar ke saya, waktu itu saya juga sempat nelponin kamu, tapi yang angkat cowok terus belum sampai saya ngomong udah dimatiin," keluh Rio.


"Maaf pak ibu saya sakit,saya tidak bisa bekerja selama menunggui ibu saya di rumah sakit, dan waktu itu hape saya ketinggalan di kampus dan ditemuin sama teman kuliah saya," bohong Ara memberi alasan supaya Rio tidak banyak bertanya.


"Oh gitu ya, ya sudah mulai besok kamu bisa bekerja lagi di sini," kata-kata Rio membuat Ara mengajukan pertanyaan.


"Saya tidak mendapatkan hukuman pak, surat SP atau potong gaji?" tanya Ara memastikan.


"Sesuai aturan yang berlaku kamu mendapatkan SP tapi tidak sampai dipecat kamu tenang aja," Rio tersenyum kepada Ara.


Ara menjadi lega. Ia sangat berterima kasih pada atsannya itu karena mengizinkannya untuk bekerja kembali.


"Tapi mulai besok kamu tidak bekerja di lapangan," Ara jadi mengerutkan dahinya.


"Lalu?" tanya Ara.


"Mulai besok kamu temenin mbak Diana CS buat jadi asistennya, sebentar lagi dia cuti jadi saya harap kamu bisa gantiin dia," kata Rio membuat Ara jingkrak-jingkrak dalam hati.


"Serius pak?" tanya Ara memastikan


"Dua rius malah, gimana terima sama hukumannya?"


Setelah keluar dari ruangan Rio, Ara menghampiri Radith yang sedang asyik ngobrol bareng pak Satpam.


"Udah selesai neng?" tanya Satpam yang melihat Ara terlihat sendu.


"Sudah pak," jawab gadis itu dengan lesu.


"Neng pasti dapat hukuman ya karena tidak izin kerja beberapa hari?" kata Satpam.


"Iya pak," jawab Ara lesu.


"Ya udah kita balik dulu ya pak," Radith menimpali.


Ia lalu memberikan helm kepada Ara.


"Ra kenapa mukamu cemberut sih," tanya Ara yang sedari tadi murung.


"Aku tu bingung Dit besok harus pake apa," irih Ara.


"Emangnya kenapa?" tanya Radith.


"Aku gak punya baju buat dipakai besok," ucap Ara dengan sendu.


"Emangnya besok mau kemana? katanya kamu dihukum, dihukum apaan Ra?"


"Dihukum gak boleh kerja lapangan lagi," ucap Ara dengan ketus.


"Kamu gak usah khawatir Ra besok kamu dateng ke kantor Daddy aku ya, nanti aku kasih alamatnya," Ara malah memukul bahu Radith.

__ADS_1


"Kok dipukul sih Ra," protes Radith.


"Aku belum dipecat ya, aku cuma dipindah bagian aja," kata Ara


"Dipindah kemana?" tanyanya penasaran.


"Jadi CS," jawab Ara dengan singkat.


"Hah cleaning service? jangan mau Ra, kamu pindah aja nanti aku bilang sama asisten pribadi Daddy ku biar kamu dikasih posisi yang bagus di sana,"


"Bukan ih tapi jadi customer servis," terangnya.


"Owh bilang dong, kalau gitu kita mampir belanja dulu ya," Radith menghentikan motornya di parkiran mall.


"Ngapain kita kesini?" tanya Ara yang turun setelah Radith memarkirkan motor yang ia pakai.


"Beli baju lah ngapain lagi buat kamu," Radith menaik turunkan alisnya.


"Aku gak pegang uang," Ara menarik tangan Radith supaya berbalik untuk pulang tapi Radith malah mendorong tubuh pacarnya untuk masuk.


"Aku yang bayar semuanya," Radith menunjukkan black card miliknya.


Akhirnya Ara pun terpaksa mengikuti langkah Radith. Radith memasuki sebuah butik kemudian menyuruh Ara memilih baju yang ia sukai.


"Gila satu stel baju gini harganya tiga juta," Ara menggelengkan kepalanya karena heran melihat harga satu stel kemeja kantor yang selangit itu.


"Nih udah aku pilihin bajunya buat kamu, coba dulu ya," Radith memberikan beberapa stel baju untuk dicoba oleh Ara.


Pilihan pertama baju yang dipakai oleh Ara adalah setelan stripe warna cokelat dengan atasan blazer.


"Ganti," Radith memberikan perintah dan dipatuhi Ara.


Lalu yang kedua atasan peplum warna putih yang dipadukan dengan rok span warna hitam.


"Lumayan,coba yang lain dulu," komentar Radith.


"Ck capek nih pilih satu aja cukup," protes Ara sambil mengerutkan bibirnya.


"Nurut aja sayang," bujuk Radith dengan halus.


Pilihan ketiga dress formal warna hitam. Radith takjub saat Ara memakainya. Apalagi rambut panjang Ara yang ditata curly membuat tampilan gadis itu beda dari biasanya.


"Ini baru pacar aku," pujian Radith membuat wajah Ara bersemu merah.


"Mbak tolong bungkus semuanya," Radith memberikan black card yang ia pegang.


"Hah kamu gak berlebihan? totalnya hampir sama dengan tiga bulan gaji aku lho," Radith hanya tersenyum menanggapi keluhan Ara.


"Untuk sementara keluhan anda kami tampung maaf sudah membuat anda khawatir," kata Radith menirukan gaya bicara customer servis.


"Ih sebel degh, serius dong Dit," Ara memukul bahu Radith pelan.


"Tigarius sayang," Radith mencubit pipi Ara karena gemas.


"Ini jangan dihitung hutang ya karena kamu yang ngasih,"


"Enak aja hutang lah," canda Radith


"Yagh gimana bayarnya, gajian aja belum," keluh Ara.


"Bayar pake cinta," Radith mengecup bibir Ara cepat hingga membuat Ara kaget.

__ADS_1


"Malu Dit lihat tempat dong kalau mo nyium," lirih Ara.


"Gak manggil sayang aku cium lagi nih," ancam Radith pada kekasihnya.


__ADS_2