
"Eh Ra nanti malam mampir ke kafe gue mau gak?" ajak Lulu.
"Hebat Lu kamu kok baru cerita kalo kamu punya kafe?" kata Ara yang terlihat antusias.
"Bukan punya gue Ra punya bokap nyokap gue," kata Lulu.
"Boleh deh, tapi kalau ngajak yang lain boleh kan?" kata Ara sambil tertawa kecil.
"Yee boleh dong biar rame kafe bokap gue, yang banyak sekalian," ajakan Lulu disambut pelukan dari teman baiknya.
"Siap bos,baik banget dah ah," mereka sama-sama tertawa.
Percakapan mereka berakhir saat kekasih Ara menghampiri.
"Udah selesai?" tanya Radith dengan ramah.
"Udah," jawab Ara singkat tak lupa melempar senyum manis ke arah sang kekasih.
"Kalian buruan pergi deh gue jadi jones nih liat kalian," Lulu mencebik kesal.
"Lo jadian aja sama Didu,biar bisa double date bareng kita," kata Radith sambil menoleh ke arah Ara.
"Dih ogah makasih," Lulu jadi menggedikkan bahu.
"Duluan ya Lu," pamit Ara pada sahabatnya seraya melambaikan tangan.
Kini Ara tidak takut lagi hubungannya diketahui oleh siapa pun. Ia merasa yakin dengan adanya Radith di sampingnya ia akan merasa aman. Bahkan Ara tidak malu bergelayut manja dwngan kekasihnya itu. Dia tidak peduli dengan mahasiswa lain yang membicarakan merka terutama saat berpapasan langsung dengan keduanya.
"Yang, ntar malam mau ngabisin week end di kafenya Lulu gak?" tanya Ara dengan wajah yang sumringah.
"Boleh, nanti aku calling Didu sekalian,biar dia bisa nemenin Lulu," kata Radith.
...***...
Kemudian saat Radith mengantarkan Ara ke kantor seusai kuliah, hujan sedang turun dengan lebatnya.Dengan sigap Radith membukakan payung untuk Ara. Ia mulai membuka pintu mobil di samping Ara duduk. Laki-laki yang sedang berdiri di bawah guyuran hujan itu memberikan sebuah senyuman yang sangat teduh dibandingkan berteduh di bawah payung.
Radith mengulurkan tangan dan Ara menyambut ukuran tangan kekasihnya itu. Mereka sedikit berlari saat menuju ke teras kantor.
Rio yang baru kembali dari kantin sambil menenteng kopi gelas di tangannya mengerutkan dahi saat melihat sepasang kekasih itu berjalan bersama. Rio sedikit meremas gelas kopi yang ia pegang. Dadanya terasa sesak memperhatikan Ara yang diantar oleh seorang laki-laki yang tak dikenal.
Rio lalu menghampiri Ara mencoba menyapanya. Namun Radith mengulurkan tangan sesaat setelah Rio menoleh ke arahnya. Ukuran tangan Radith disambut oleh Rio.
"Radith," ia memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Rio, atasannya Ara," balas Rio.
Rio dan Radith saling melempar tatapan mata yang tajam. Ara menjadi ngeri saat mengamati keduanya. Akhirnya ia menyela sembari memisahkan tangan Radith dan Rio yang terjabat erat.
"Dit makasih ya sudah nganterin sampai sini," kata Ara lalu memberikan kode supaya kekasihnya itu segera pergi.
Radith menoleh ke arah Mutiara lalu memberikan kecupan singkat di keningnya sebelum ia benar-benar pergi. Ara sedikit malu karena Radith melakukan hal itu di depan atasannya. Ara jadi merasa tidak enak.
Radith tersenyum senang saat berhasil memanas-manasi Rio.Ia sengaja melakukannya agar Rio tidak lagi mendekati Ara. Ia ingin menunjukkan bahwa Ara kekasihnya meski ia tak sampai berucap
Rio memutar bola matanya malas melihat kemesraan yang sengaja dipamerkan oleh Radith.Ia sempat marah dengan mengepalkan tangannya. Namun tak mungkin ia tunjukkan di depan semua orang yang ada di kantor. Jadi Rio berusaha menahan marahnya.
"Eh Ra siapa tadi?" tanya Diana yang antusias.
"Temen mbak," bohong Ara.
"Kok mesra gitu sama kamu, temen rasa pacar ya?" Diana jadi tetawa kecil.
"Pacar si mbak," Ara akhirnya mengaku.
"Kenal dimana Ra?" tanya Diana.
"Kakak tingkat mbak di kampus," jawab Ara
"Ah mbak bisa aja," Ara jadi tersipu malu.
"Eh kerja kerja jangan ghibah mulu," sindir Sarah yang dari tadi tidak sengaja mendengarkan percakapan keduanya.
"Oh ya ini camilan buat mbak Diana tadi aku sempet beli pas perjalanan ke sini, buat mbak Sarah juga ada," Ara menyerahkan masing-masing satu paper bag berisi makanan kepada Sarah dan Diana.
"Wah burger makasih ya Ra," Diana merasa senang meski ia tadi sudah makan siang namun kebiasaan ngemilnya waktu hamil membuat dirinya tidak kenal kenyang.
"Wah bikin aku tambah gendut kalau gini," komentar Sarah membuat Ara sedikit kecewa tapi tidak ia masukkan dalam hati.
"Besok-besok kalau mau ngasih beliin expresso aja," tambah Sarah.
"Siap mbak," kata Ara dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Setelah waktunya pulang Ara pamit duluan dengan Sarah dan Diana. Petang ini Radith tidak menjemputnya. Mereka janjian ketemu langsung di kafe Lulu.Ara sudah izin dengan ibunya melalui telepon. Ia pun menunggu angkot di depan kantornya.Namun cukup lama ia berdiri belum ada satu pun angkot yang lewat.
Tin Tin
Suara klakson mobil Rio membuatnya sedikit kaget.
__ADS_1
"Masuk Ra aku antar pulang," ajak Rio.
"Eh gak usah Pak makasih," tolak Ara secara halus.
Rio pun turun kemudian menghampiri Ara.
"Kamu gak dijemput sama pacar kamu?" tanya Rio.
"Gak pak dia masih ada kuliah sampe sore," Ara membuat alasan.
"Ya udah bareng saya saja yuk mau hujan ini," bujuknya lagi hingga membuat Ara susah untuk menolak.
Akhirnya Ara pun bersedia diantar oleh Rio. Rio tersenyum saat gadis yang ia sukai mau semobil dengannya. Di dalam mobil Rio banyak bertanya soal Ara. Tapi Ara tidak banyak memberikan jawaban.
"Pak bisa berhenti di depan sana," Rio jadi mengerutkan dahi karena Ara tidak berhenti di rumahnya.
"Kamu ngajak makan?" tanya Rio.
"Oh saya udah janjian sama pacar saya pak," Ara terang-terangan ngomong supaya Rio tidak mengikutinya.
"Oh ya sudah," wajah Rio sedikit kecewa.
"Makasih banyak pak," Ara menutup pintu mobilnya.
Dan seperti janji Ara tadi siang pada Lulu ia pun datang mengunjungi kafe milik keluarga sahabat nya itu sepulang kerja.Ara takjub melihat kafe dengan desain interior masa kini.
"Ra masuk," sambut Lulu yang sudah tiba duluan di sana.
"Wah gede juga ya kafenya, eh ada live konsertnya juga ya," kata Ara saat melihat panggung dengan band yang sudah bersiap untuk tampil.
"Iya khusus week end aja, eh elo bisa nyanyi gak, mau manggung di sini malam ini sambil nunggu pacar lo dateng," kata Lulu.
...***...
"Gue mau elo kerjain cowok dalam foto ini," kata Brian pada orang suruhannya.
"Siap bos," jawab preman yang menerima foto seorang lelaki di tangannya.
"Bikin dia gak bisa menghirup oxigen lagi," tambah Brian dengan tanduk yang bersungut-sungut.
Brian merasa perlu memberi Radith pelajaran. Dia sudah merebut Ara. Brian juga tak mau kalah taruhan hingga harus menyerahkan mobil pada temannya.
...***...
__ADS_1
Makasih buat yang udah ngikutin cerita aku ya, dukung terus karya aku yang receh inj.