Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Bodyguard


__ADS_3

Keesokan harinya Rasya menyuruh dua orang bodyguard untuk mengawal Ara kemana pun dia pergi.


"Kak apa gak berlebihan?" tanya Ara.


"Untuk kebaikan kamu juga," jawab Rasya mantap.


Mau tidak mau Ara menuruti kemauan suaminya. Pagi ini Rasya berangkat kerja terlebih dulu mengendarai mobil sport warna merah miliknya. Sedangkan Mutiara diantar oleh supir dan diikuti oleh dua orang bodyguard yang mengendarai motor.


Sesampainya di kantor ojek online, Sarah yang baru saja turun dari mobil meminta penjelasan dari istri bosnya itu.


"Bu bos hari ini dikawal sama bodyguard??" tanya Sarah memastikan.


"Iya kak Rasya yang maksa,"


"Emangnya kenapa Ra kok pake dikawal segala?" selidik Sarah.


"Semalam kita dikeroyok sama geng motor mbak," jujur Ara membuat Seah hampir tidak percaya.


"Kok bisa Ra?" tanya Sarah khawatir.


"Ceritanya panjang," ucap Ara sebelum berlalu ke ruang kerjanya.


Dua orang bodyguard Ara menunggu di luar kantor. Rasya memerintahkan orang-orang itu untuk tidak meninggalkan Ara.


Di perusahaan perakitan mobil milik Antoni


Adli menyambut kedatangan bosnya yang memasuki lobi kantor."Selamat pagi pak," sapa Adli dengan ekspresi wajah datar.


"Pagi," jawab Rasya sambil berjalan melewati Adli.


"Apa jadwal saya hari ini?" tanya Rasya yang sudah berada di depan lift. Kali ini ia memasuki lift khusus yang disediakan untuk para petinggi kantor.


"Anda masih harus meneruskan pemeriksaan berkas-berkas yang kemaren pak," terang Adli.


"Bagaimana urusan semalam?" kata Rasya menanyakan kabar para preman yang sempat mengeroyok dirinya.


"Sudah beres pak, pengacara kita akan mengurus semuanya," jawab Adli.


"Baiklah, kamu boleh kembali ke tempatmu," pinta Rasya setelah sampai di ruang kerjanya.


Rasya membuka jas yang ia kenakan. Ia menggulung kemejanya sampai siku. Lalu laki-laki yang akan segera menjadi ayah tersebut mengambil ponsel yang ia taruh dalam saku jasnya.


Ia menghubungi salah seorang bodyguard yang bertugas menjaga Ara.


"Bagaimana di sana?"


"Aman bos,"


Setelah mendapatkan jawaban dari orang yang ia telpon Rasya kembali mengerjakan berkas-berkas yang tertunda untuk diperiksanya kemaren.


"Oh God, aku rasanya mua melihat gunungan kertas-kertas ini," Rasya meraup mukanya kasar karena frustasi.


"Ara lagi apa ya?" batin Rasya yang merindukan istri cantiknya itu.


Di kantor ojek online


Ara memanggil Hana untuk memeriksa sumber penghasilan bulan ini.


"Kenapa bulan ini menurun?" Ara meminta penjelasan pada sekertaris nya.

__ADS_1


"Banyak driver yang keluar Bu," jawab Hana simple.


"Kesannya gue tua banget ya dipanggil ibu," batin Ara yang merasa sedikit tersinggung.


"Apa alasan mereka berhenti?" tanya Ara lagi.


"Banyak orang yang memakai kendaraan sendiri sehingga mereka tidak memerlukan jasa kita Bu," kata Hana.


"Kami juga sudah meiset peningkatan penjualan kendaraan bermotor seeeti mobil dan motor bulan ini, ternyata mengalami kenaikan," Hana menyerahkan laporan kepada Ara.


"Bagaimana dengan promosi kita?"


"Sejauh ini hanya iklan di televisi yang sudah pernah kita buat,"


"Pikirkan ide untuk meningkatkan jumlah pengguna jasa driver ojek online, driver kita juga butuh kerjaan kasian mereka jika perusahaan kita harus gukung tikar," titahnya pada Hana.


Setelah mendapatkan perintah dari atasannya Hana keluar dari ruang kerja Ara.


"Gue perlu ngebahas ini sama kak Rasya tapi gue rapat dulu agh sama Lulu di kafenya nanti," Ara bermonolog.


Di kampus


"Didu," panggil Lulu pada teman Rasya.


"Hai honey," sapa Didu dengan wajah berseri.


Lulu mengerutkan dahinya. "Sejak kapan panggilan lo ke gue berubah?"


"Jadi maunya dipanggil apa? Sayang, cinta, dek atau apa dong?"


"Serah lo, eh gue gak pernah lihat kak Rasya kemana dia?" tanya Lulu.


"Elah, gue pengen tahu kabar Ara aja kok," elak Lulu.


"Kenapa lo gak dateng ke rumahnya aj atau telpon kan bisa, lagian Rasya sibuk kerja jadi Ara pasti sendirian di rumah," tebak Didu padahal ia tidak tahu kalau Ara mengurus kantor ojek online yang sahamnya sudah dibeli sepenuhnya oleh Rasya.


"Maksud lo kak Rasya sibuk mengurus kantor ojol?" tanya Lulu lagi.


"No, dia megang perusahaan ayahnya," terang Didu.


"Bukannya ayahnya tinggal di luar negeri?" tanya Lulu seingatnya, Ara pernah bercerita kalau keluarga Rasya tidak tinggal di Indonesia.


"Betewe perusahaannya bergerak dalam bidang apa Du?" tanya Lulu.


"Perakitan mobil," jawab Didu.


"Wuih hebat ya keluarganya kak Rasya, ayahnya yang bikin mobil, anaknya yang punya driver se Indonesia,"


"Gue juga baru tahu,"


"Emang selama ini dia gak pernah bilang sama elo?" tanya Lulu.


"Ah elo lupa kita kan baru akrab stelah Radya pindah ke Indonesia, itupun gara-gara Mutiara,"


"Iya juga ya, eh itu namanya gak sombong keles,"


"Eh gue dapat chat dari Ara,"


"Ngumpul yuk kangen nih,"

__ADS_1


Didu mengintip chat yang dikirim oleh Mutiara.Ternyata dia juga mendapatkan chat yang sama dari Ara.


"Yaelah baru semalam ketemu neng Ara udah kangen aja sama abang," ucap Didu dengan percaya diri.


"Hah semalam kalian ketemu dimana? gak mungkin kan kalian selingkuh," tuduh Lulu.


"Hush jangan ngomong sembarangan. Semalam gue habis nolongin mereka,"


"Maksud lo Ara sama suaminya?" Didu mengangguk.


"Emang mereka kenapa Du?" Lulu memjnta penjelasan.


"Ceritanya panjang, mending kita kantin yuk aus nih," Didu meraba tenggorokannya.


"Ck, bilang aja minta traktir, dasar benalu lo,"


"Sumpah mulutnya jahara banget dagh ayang Lulu, abang jadi terluka nih," Didu pura-pura tertusuk. Lulu jadi tidak enak.


"Kuylah gue bayarin minum," ajaknya.


Setelah memesan minuman Lulu mengajak Didu duduk.


"Jadi gimana ceritanya?" Lulu mencondongkan badannya ke hadapan Didu untuk meminta penjelasan pada laki-laki yang duduk di hadapannya itu.


"Ntar dulu napa kerongkongan masih kering nih," protes Didu.


Lulu memberikan kesempatan pada Didu untuk meminum es teh gelas besar yang sengaja ia pesan.


"Es teh doang nih Yang?"


"Hish kebanyakan protes lo, udah bagus gue bayarin,"


"Jadi semalam mereka tuh dikeroyok geng motor gitu," Didu memulai ceritanya.


"Terus? elo bantu menghajar preman-preman itu?" Lulu mulai menyimak.


"Gak," jawab Didu singkat.


"Jadi lo ngapain di sana? katanya nolongin, ck," Lulu memukul lengan Didu hingga ia mengaduh.


"Gue bawa polisi ke lokasi kejadian,"


"Atas inisiatif lo sendiri? elo tahu darimana kalau mereka lagi dikeroyok waktu itu?" tanya Lulu.


"Mutiara yang nelpon gue," jawab Didu santai.


"Yagh kirain elo yang jadi pahlawan," Lulu kecewa mendengar jawaban Didu.


"Jadi ntar berangkat bareng gak Yang?" Didu menawarkan tumpangan.


"Elo bawa mobil?" tanya Lulu.


"Ya enggaklah, mau nebeng,"


"**** beneran benalu lo," Lulu berdiri dan meninggalkan Didu di kantin sendirian.


"Yang tungguin napa, buru-buru amat," ucapnya seraya menyeruput es teh yang rasanya sayang kalau tidak dihabiskan.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


Hari ini aku up banyak ya readers ku tercintah. Kasih vote sama hadiahnya dong biar bisa ikut rangking. Makasih sebelumnya


__ADS_2