Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Nasib Malang


__ADS_3

Hari ini tiba saatnya Rasya mengikuti sidang skripsinya. Ia sudah bersiap-siap untuk berangkat. Namun saat ia ingin mengajak istrinya, Ara menolak karena ada yang harus ia beli terlebih dulu. Untuk itu Ara meminta suaminya pergi duluan.


"Nanti berangkatnya hati-hati ya kak," pesan Ara pada suaminya.


"Iya sayang," ucapnya seraya tersenyum pada Ara.


"Dedek doain papa ya biar urusan sidang hari ini lancar," kata Rasya yang mengajak bayi dalam perut Ara berbicara lalu ia mencium perut Ara agak lama.


Entah kenapa hari ini Rasya merasa berat meninggalkan Ara. "Pergi dulu ya sayang," pamitnya setelah memberikan kecupan singkat di kening istri tercintanya itu. Ara mengangguk.


Setelah kepergian suaminya, Ara meminta supir mengantar ke toko bunga langganannya.


"Eh Ara," sapa Nuna* pemilik toko bunga tersebut.


*Kalian bisa baca kisahnya di novel aku yang berjudul "Maafkan Adikku" ya.


"Mbak bunga apa ya yang bagus buat dikasih sama pasangan, hari ini suami aku sidang?" Ara meminta pendapat Nuna.


"Emm nanti aku buatin buket spesial buat kamu," kata Nuna sambil tersenyum ramah.


"Betewe perut kamu udah buncit aja Ra, terus sekarang pakai diantar supir lagi," Nuna mengajak Ara mengobrol seraya menunggu buket yang sedang dibungkus oleh karyawan nya.


"Iya mbak suami gak ngebolehin bawa mobil sendiri soalnya perut aku udah gede susah buat gerak," keluh Ara.


"Nih buket bunganya, dijamin suami kamu suka," Nuna memberikan buket untuk Ara.


"Makasih ya mbak," setelah itu Ara pamit pada Nuna.


Supir membukakan pintu mobil untuk nyonya mudanya itu. Ara masuk dengan perlahan ke dalam mobil.Setelah memastikan juragannya masuk supir menutup pintu mobil.


Lalu mereka melaju menuju ke kampus untuk menyusul Rasya. Ara ingin memberikan buket tersebut pada suaminya usai sidang nanti.


Namun, di tengah perjalanannya menuju ke kampus Rasya, sebuah mobil truk yang datang dari arah berlawanan berusaha menyalip mobil yang ada di depannya. Supir yang membawa mobil yang Ara tumpangi menjadi kaget sehingga ia membanting setir untuk menghindari tabrakan. Sayangnya mobil Alphard yang ia kendarai malah menabrak pohon besar di tepi jalan.


Bruak


Suara benturan yang begitu keras membuat warga berdatangan untuk menyaksikan kejadian itu.

__ADS_1


"Woi ada yang tabrakan, ayo kita lihat," seru salah seorang warga.


Supir yang mengendarai mobil Ara sudah tidak sadarkan diri karena kepalanya pecah. Sedangkan Ara meraskan sakit di bagian perutnya akibat benturan keras yang ia alami.


"Agh perut aku," rintih Ara sambil memegangi perutnya yang sakit. Darah sudah mengalir dari atas pahanya.


"Weh korbannya masih hidup," seru orang yang mengintip kaca mobil Ara. Ara tidak bisa bergerak. Mobil dalam keadaan terkunci. Ia bingung bagaimana meminta bantuan.


Tak lama kemudian dua bodyguard Ara menghentikan motornya di samping mobil yang mengalami kecelakaan tersebut. Salah satu bodyguardnya meminta Ara membuka pintu mobil. Namun melihat Ara yang tak berdaya akhirnya ia memutuskan untuk memecah salah satu kaca mobil dengan batu besar yang ia ambil di sekitarnya agar mereka bisa menolong Ara.


Sedangkan bodyguard Ara yang lain menelpon ambulan dan mengabari Rasya.


"APA? Bagaimana bisa istriku sampai kecelakaan," teriak Rasya yang baru keluar dari ruang sidang.


Lulu dan Didu yang berada di luar kaget mendengar suara teriakan Rasya yang menyebutkan nama Ara.


"Ada apa bray?" tanya Didu panik.


"Ara kecelakaan," jawab Rasya sambil berlari menuju ke parkiran mobil.Lulu dan Didu saling pandang lalu mengikuti mobil Rasya dari belakang.


Adli yang kebetulan lewat di jalan itu.Ia baru pulang dari meeting di luar dengan klien. Jalan yang dilaluinya saat itu macet sekali. Ia jadi tidak bisa lewat. Lalu karena penasaran ia pun turun dari mobil dan melihat situasinya.


"Kenapa bisa jadi begini?" Adli yang melihat darah Ara sudah mengalir di antara sela-sela kaki wanita tersebut bagitu panik. Tanpa pikir panjang Adli lalu menggendong tubuh Ara yang lemah. Kemudian Adli memasukkan Ara ke dalam mobilnya.


Adli melajukan mobilnya kencang. Lalu menuju ke rumah sakit terdekat. Setengah jam kemudian ia sampai di rumah sakit. Adli memanggil perawat lalu buru-buru membuka pintu mobil. Ia menggendong tubuh Ara, setelah itu ia membaringkannya di atas bankar.


Serena yang hendak keluar dari rumah sakit mengurungkan niatnya ketika tidak sengaja melihat istri Rasya terbaring lemah. Mantan pacar Rasya itu baru dua minggu ini dipindahkan ke Indonesia.


"Apa yang terjadi?" tanya Serena yang tidak kalah panik melihat keadaan Ara yang kacau.


"Dia mengalami kecelakaan tolong beri dia pertolongan," pinta Adli.


Serena mengambil alih perintah untuk menangani Ara. Ia memberikan pertolongan pertama pada Ara.


Sementara itu Adli menelpon ke ponsel atasannya berkali-kali tapi tidak tersambung. Namun tak lama kemudian ia mendengar suara yang ia kenal. Adli pun menolehm


"Pasien atas nama Mutiara Ramadhani dirawat dimana?" tanya Rasya pada resepsionis.

__ADS_1


"Pak," panggil Adli lalu Rasya menoleh.


"Adli, ngapain kamu di sini?" tanya Rasya.


"Saya mengantarkan istri anda tadi," terangnya.


"Dimana dia,bagaimana keadaannya?" cecar Rasya yang khawatir.


"Tenang pak dokter sedang menangani istri anda," seru Adli.


Tak lama kemudian Serena menghampiri Adli dan Rasya. "Sya, keadaan Ara sangat kritis, bayinya hasus segara dilahirkan," kata Serena.


"Tapi usia kandungannya baru 32 minggu," kata Rasya.


"Ikut saya," Serena meminta Rasya untuk mengikutinya. Serena membawa Rasya melihat keadaan Ara dari luar ruang ICU. Terlihat Ara yang sedang dibersihkan luka-lukanya.


"Kamu pilih selamatkan anaknya apa ibunya?" tanya Serena.Rasya menatap tajam ke arah Serena.


Pilihan yang sangat sulit untuk Rasya.Rasya meraup mukanya kasar. Ia tidak mau kehilangan salah satu dari mereka, anak maupun istrinya.


Setelah berfikir panjang dengan berat hati Rasya menjawab," selamatkan ibunya," ucapnya sambil meneteskan air mata.


Serena kembali masuk ke dalam ruang ICU lalu menyiapkan ruang operasi untuk Ara yang akan disesar. Ia terpaksa melahirkan anaknya dini karena keadaannya yang kritis.


Beberapa menit kemudian dua orang perawat membawa Ara keluar dari ruang ICU lalu mendorong ranjang yang ia tiduri ke ruang operasi.Rasya tak tega melihat istrinya yang tidak sadarkan diri. Air matanya kembali lolos.


Rasya hanya bisa pasrah menunggu operasi yang sedang berlangsung. Adli masih menemani atasannya itu. Beberapa saat kemudian Lulu dan Didu sampai di rumah sakit. Tapi mereka yang memahami kesedihan Rasya hanya bisa ikut menunggu.


Sembari menunggu suami Ara itu mengabari Bu Mia tentang kejadian yang menimpa putrinya.


Di ujung telepon terdengar suara tangis Bu Mia yang pecah saat Rasya menjelaskan keadaan Ara saat ini.


Lalu ia juga mengabari keluarganya yang tinggal di Jerman. Ibu Emely yang menerima telepon dari putranya itu juga menangisi nasib malang yang menimpa menantunya.Mereka memutuskan terbang menggunakan jet pribadi pagi itu juga.Sekadar informasi perbedaan waktu Jerman 6 jam lebih lambat dari waktu Indonesia.


"Kita akan sampai beberapa jam lagi, kamu bersabarlah dan terus berdoa untuk keselamatan Ara dan bayinya," pinta Emely melalui sambungan telepon untuk menguatkan putranya.


...***...

__ADS_1


Kira-kira apa yang selanjutanya terjadi pada Ara? akankah operasinya berjalan lancar atau ia harus kehilangan bayinya, tunggu episode selanjutnya ya dears.


__ADS_2