
Tok Tok Tok
"Assalamualaikum bu," Ara gusar karena tidak juga dibukakan pintu.
"Baru pulang nak? mana calon suami kamu," tanya Bu Mia yang tidak melihat batang hidung Rasya.
"Ibu sudah tahu kalau Ara bertunangan dengan kak Rasya?" selidik Ara.
"Iya, nak Rasya sudah meminta izin pada ibu sebelumnya," Ara jadi tercengang.
"Kenapa Ara sampai tidak tahu bu?" Ra meminta penjelasan.
"Ibu kira nak Rasya sudah ngasih tahu kamu waktu ngajak kamu menemui orang tuanya," Ara menggeleng.
"Waktu itu ibu juga diajak untuk terbang ke Jerman tapi ibu menolak karena ibu takut mabuk perjalanan, naik bis aja ibumu ini mabuk apalagi naik pesawat berjam-jam,"
"Ibu," rengek Ara.
"Sekarang Ara sudah menjadi tunangan seseorang bu, meski Ara belum tahu bagaimana perasaan Ara pada kak Rasya," jujur Ara mengatakan isi hatinya di dalam pelukan sang ibu.
"Nak Rasya begitu tulus nak mencintai kamu ibu bisa lihat itu, nak Rasya sudah banyak bercerita banyak tentang dirinya sama ibu dan ibu percaya dia laki-laki yang baik," Bu Mia menasehati.
Mendengar nasehat ibunya Ara tak kuasa menahan bulir yang jatuh ke pipinya.
Keesokan harinya Ara berangkat kerja seperti biasa.
"Cie yang mau jadi calon pengantennya si bos," ledek Sarah pada Ara yang baru saja menutup pintu mobilnya.
"Mbak Sarah tahu darimana?" tanya Ara penasaran.
"Ya tahulah pacar mbak kan supervisor kamu, kemaren Pak Rasya bilang sama Rio mau jemput kamu dan dia bilang mau tunangan sama kamu,"
"Serius mbak?" Ara sedikit ragu.
"Kamu beneran dibawa pak Rasya menemui orang tuanya yang ada di Jerman Ra?" tanya Sarah.
"Kok cepet," imbuhnya.
"Iya mbak pake jet pribadi," ungkap Ara
"Wih anak sultan mah bebas ya naik apa aja hayo," keduanya kemudian terkekeh.
Seusai pulang dari bekerja Ara menyempatkan diri mampir ke kafe Lulu. Kali ini Ara tidak lagi bekerja di kafe Lulu meskipun masih dalam rangka libur semester.
"Selamat datang," Lulu menghindar saat tamu yang dilihatnya itu Ara.
"Heh temennya setan sini lho gue mau buat perhitungan sama lo," Ara mempercepat langkahnya hingga tangannya menarik kerah belakang kaos Lulu.
__ADS_1
"Ampun Ra," Lulu ketakutan.
"Lo udah tahu kan kalau kak Rasya mau nyulik gue waktu itu?" Lulu mengangguk takut.
"Sini balikin uang sepuluh juta yang elo terima," tangan Ara menadah namun Lulu malah menepuknya.
"Enak aja jarang-jarang gue dapet rejeki nomplok kaya gitu, elo sering-sering aja kabur pas jam kerja biar gue cepet kaya," Ara melotot mendengar pernyataan temannya yang menyebalkan itu.
"Gaji gue sebulan aja gak nyampe segitu gue baru ijin dua hari aja elo udah terima kompensasi sebanyak itu ckckck dasar cewek matre lo," umpat Ara kesal.
"Ya elah cowok lo aja yang ngasih gak ngerasa duitnya berkurang, anak sultan mah bebas ngeluarin duit sepuluh juta udah kaya ngeluarin uang lima rebu perak," jawab Lulu enteng.
"Btw elo tahu gak gue tunangan sama kak Rasya?" Ara memamerkan cincin berlian yang terpasang di jari manisnya.
"Tau, tapi tu cincin asli kagak sih?" Lulu mengamati cincin yang dipamerkan Ara.
"Sialan lo asli lah, nih gigit aja kalau gak percaya,"
"Lo kira makan cincin bisa kenyang sekate-kate lu ya, yang ada ntar gue disuruh gantiin kalau sampe ilang, duit darimana Ra, jangan gila deh," kesal Lulu.
"Ahahaha bodo amat, eh elo tahu darimana gue tunangan sama kak Rasya?" tanya Ara lebih lanjut.
"Eh emang lo gak punya sosial media, kak Rasya pasang foto dia pas lagi makein cincin ke tangan lo," jawab Lulu
"Njir masa sih, udah kesebar dong berita gue tunangan sama kak Rasya," Lulu memutar bola matanya jengah.
"Ya ampun kenapa gue mesti gaptek sih, gue gak main sosmed, mana liat sosmednya kak Rasya," Ara meminta Lulu mengeluarkan ponselnya.
Lulu pun menunjukkan foto yang ia maksud. Ara menutup mulutnya dengan tangan saking tidak percayanya.
"Padahal habis itu gue pingsan," tutur Ara.
"Ngapain lo pingsan segala?" Lulu mengerutkan keningnya.
"Gue kagetlah tiba-tiba diculik ke Jerman terus dipasangin cincin," terang gadis yang memilik rambut panjang tersebut.
"Elah gitu doang lo pingsan kalau gue mah udah langsung minta dikawinin hari itu juga," ucapan Lulu reflek membuat Ara menyentil kening Lulu.
"Sembarangan, umur gue masih muda gue masih pengen seneng-seneng lah ya,"
"Eh seneng-seneng pas udah nikah malah lebih enak Ra apalagi kalau jodohnya kaya kak Rasya gitu, elo minta apa aja juga bakal dia kasih bego," Lulu gantian menoyor kepala Ra pelan.
"Iya juga sih,"
Percakapan sore itu berakhir saat Ara mendapatkan telepon dari Rasya.
📞 Sayang lagi dimana? aku jemput ya.
__ADS_1
"Aku lagi di kafe Lulu kak," Ara menjauhkan telepon dari telinganya.
"Yang diomongin lagi nelpon gue nih,"berbicara pada Lulu sedetik kemudian menempelkan kembali telepon ke telinganya.
📞 Kamu gak perlu balik kerja lagi di sana sayang Lulu udah kakak kasih uang ganti rugi ko.
"Iya kak aku ke sini cuma main aja kok kangen sama Lulu,"
📞Sama kakak kangen juga gak? Sejam lagi ketemu di restoran ayam geprek ya, nanti aku share loc.
"Iya," Ara menutup telpon tanpa membalas pertanyaan Rasya.
"Gue mau cabut dulu Lu kak Rasya ngajak gue makan di restoran ayam geprek," Ara memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Ya elah kenapa gak makan di sini aja sih?" tanya Lulu.
"Gak enak lah yaw, gue lagi pacaran tapi ada yang mata-matain," sindir Ara pada Lulu.
"Sialan lo Ra, gini-gini gue juga temen lo,"
"Balik ya Lu yang tadi itu cuma becanda jangan dimasukin ke hati," Ara pergi setelah cipika cipiki dengan Lulu.
Satu jam kemudian Ara menghentikan mobilnya di sebuah restoran ayam geprek "Ngeselin"
"Unik juga namanya," batin Ara lalu memasuki restoran bergaya minimalis modern tersebut.
Rasya melambaikan tangan kepada Ara. Ara pun mendekat ke tempat duduk Rasya.
"Udah lama kak nunggunya?" tanya Ara yang baru sampai.
"Barusan aja," Rasya tersenyum manis pada Ara sehingga membuat jantung Ara berdegub kencang.
"Ya ampun jantung gue selalu deg degan gini tiap kali lihat senyumnya kak Rasya," batin Ara sambil menepuk dadanya pelan.
"Jantung kamu sakit lagi ya Ra, kayanya kamu perlu periksa ke dokter deh," Rasya memberi saran.
"Eh gak perlu kak aku baik-baik aja kok," ucap Ara dengan gugup.
"Apa gara-gara aku ya," goda Rasya sambil terkekeh.
"Ih kak Rasya ge er," elak Ara.
"Iya juga gak papa," Rasya meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat.
Rasya menatap tajam ke arah Ara. Wajah Ara jadi bersemu merah. Namun suara deheman membuat mereka melepaskan tangan.
...***...
__ADS_1
Buat yang udah baca lanjutannya jangan lupa share ya ke medsos kalian. Eh yang bner sosmed apa medsos ya. Apa ajalah yang penting di share. hihihi