Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Gue Bukan Radith


__ADS_3

"Gue mau pamit pulang," Lulu melihat air mata Ara sudah menetes di pipi sahabatnya. Namun Ara menyekanya dengan punggung tangan.


"Hai" sapa laki-laki yang sempat satu panggung dengan Mutiara.


Ara menoleh ke belakang. Dengan mata yang merah ia menatap laki-laki yang wajahnya tidak asing itu. Dia berlari meninggalkan ketiganya. Arrasya jadi mengerutkan dahi menatap punggung gadis itu.


"Dia kenapa?" tanyanya pada Lulu.


"Dia kaget ngeliat elo hidup lagi," Lulu masih dengan mode mlongo.


"Arrasya," Rasya mengulurkan tangannya. Lulu tapi Didu yang membalas uluran tangan itu.


"Elo bukan Radith?" tanya Didu secara langsung.


"Bukan, kalian kenal Radith? Dia kembaranku," ucapan Rasya menjawab pertanyaan yang ada di benak Lulu dan Didu.


"Kita ini teman baik Radith," ucap Didu sambil mengingat kenangan bersama mendiang sahabatnya.


"Cewek tadi?" pertanyaan Rasya menunjuk ke gadis yang telah pergi itu.


"Dia Mutiara temen gue, pacarnya Radith," ucapan Lulu membuat Rasya berfikir sejenak.


"Jadi dia cewek yang diceritakan Andrea waktu itu," batinnya.


"Aku boleh minta kontak kalian?" Rasya memberikan ponselnya pada Didu dan Lulu.


Sementara itu di parkiran mobil Ara yang akan menutup pintu mobilnya terhalang oleh tangan Brian.


"Ra elo ko buru-buru balik?" ucapan Brian membuat Ara mendongak.


"Udah malam kak takut pulang sendirian," Ara beralasan.


"Nanti gue anter, masuk yuk gabung sama yang lain, besok kan libur kuliah," Brian mencoba membujuk Ara.


"Sorry, next time aja ya kak," tolaknya secara halus kemudian menutup pintu mobilnya.


Brian tidak dapat mencegah kepergian Ara. Karena merasa kesal ia pun meraup mukanya kasar dan meninju ke udara.

__ADS_1


Ara melajukan mobilnya lambat. Air matanya sudah banyak berderai namun ia biarkan begitu saja tanpa menyekanya karena tangannya berpegangan pada kendali mobil.


"Kenapa sih susah banget ngelupain kamu?" di dalam pikirannya terlintas kenangan bersama Radith semasa hidupnya.


Di tengah perjalanan menuju rumahnya sekawanan pria bermotor mengelilingi mobil Ara. Mereka sengaja memepet mobil Ara.


"Sial kenapa banyak geng motor si," umpat Ara sedikit panik.


Meskipun Ara pandai bela diri ia tidak mungkin melawan para pria dengan jumlah yang banyak sendirian. Sesaat kemudian salah satu motor menghadang jalan Ara. Gadis itu terpaksa mengerem secara mendadak.


"Mampus gue, mau apa mereka?" batin Ara yang panik saat itu.


Lalu seseorang turun dari motor dan mengetuk kaca mobil Ara. Beberapa kali diketuk Ara tidak membukakan kaca mobilnya hingga laki-laki yang masih memakai helm tersebut berteriak pada Ara. Pada pada akhirnya Ara membuka kaca jendelanya.


"Turun," bentak laki-laki itu.


Ara membuka pintu mobilnya perlahan.Ia turun kemudian menyender di pintu mobil.


"Cantik juga ceweknya," ucap laki-laki yang menyuruhnya turun tadi setelah memindai penampilan Ara yang mengenakan dress ketat selutut.


Mereka tertawa bersamaan membuat Ara jadi merinding.


Ara tidak menjawab. Ia mencoba tenang menghadapi para berandal yang mencoba mengancam nyawanya.


Tanpa di duga datang seseorang datang membantu Ara. Orang itu melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Beberapa dari mereka jatuh setelah mendapat pukulan dari ban belakang motornya dan menjadikan ban depannya sebagai tumpuan.


Lalu sejenak menghentikan motornya dan membuka kaca helm menatap ke arah Ara lalu turun dari motor.


"Dia," gumam Ara sambil mengembangkan senyum di wajah cantiknya karena dia mendapatkan bantuan.


"Hajar," teriak salah satu dari mereka yang memerintahkan anggota kelompoknya untuk menyerang.


Satu per satu anggota geng motor tersebut maju akan menyerang Rasya. Akan tetapi pukulan mereka berhasil ditangkis dengan mudah olehnya.


Rasya membalas pukulan meraka dengan tangan kosong. Ia menghajar semua kawanan itu sembari berjalan ke arah Ara.


Satu dari mereka juga menggunakan tongkat base ball untuk menyerang Rasya tapi lagi-lagi sukses ia tangkis. Rasya menarik tongkat itu kemudian meninju bagian perutnya. Penjahat itu pun jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan sambil memegang perutnya yang sakit bekas pukulan Rasya.

__ADS_1


Ara masih diam di tempat. Di depannya berdiri satu orang yang memegang pisau. Saat Ara melihat laki-laki itu lengah karena memperhatikan teman-temannya yang babak belur, Ara menarik tangannya kemudian mematahkan pergelangan tangannya hingga pisau yang penjahat itu pegang terjatuh ke tanah.


Gadis itu kemudian memberinya sedikit tendangan di bagian vitalnya. Laki-laki di depannya itu pun berlutut di depan Ara sambil meraung kesakitan. Ara kembali menghajarnya dengan menendang di bagian kepala.


"Hebat juga dia," puji Rasya dalam hati saat melirik Ara yang sedang beraksi.


Rasya sudah melumpuhkan sebagian besar dari mereka.Setelah sebagian besar dari mereka kalah dihajar mereka pergi menjauh dengan menaiki motor masing-masing.


Rasya membuka helmnya dan tersenyum pada Ara. "Are you oke?" pertanyaan yang selalu dilontarkan Rasya tiap kali bertemu dengan gadis yang dicintai kembarannya itu.


Tidak berpikir panjang Ara seketika memeluk Rasya. Ia menangis tersedu-sedu. Perasaan Ara kini campur aduk antara lega karena berhasil melawan para penjahat atau bertemu kembali dengan kekasihnya. Di antara jalanan yang sepi dan hanya suara tangisannya yang terdengar.


Rasya tidak banyak bergerak. Ia hanya bisa menepuk punggung Mutiara beberapa kali mencoba menenangkan Mutiara. Meski ia tidak tahu mengapa gadis itu tiba-tiba memeluk dirinya.


"Jangan pergi, jangan pergi lagi," ucapan Ara membuat Rasya bisa merasakan kesedihan gadis itu ketika kehilangan sang kekasih yang tak lain adalah kembarannya sendiri.


Rasya merenggangkan pelukan Ara dengan memegang kedua bahu kecil itu. Ia sempatkan menghapus air mata Ara yang menetes di pipinya yang putih dengan ibu jarinya.


"Aku antar pulang," Rasya menawarkan tumpangan. Ia menarik tangan Ara untuk mendekat ke motornya tapi Ara menahan langkahnya.


Gadis itu melirik ke bagian bawah tubuhnya memberikan kode sebab dirinya memakai rok pendek.


"Kalau gitu pakai mobil kamu saja," Rasya jadi salah tingkah saat menyadari Ara tidak mungkin naik motor dengan rok sependek itu.


"Motor kamu?" pertanyaan Ara membuat Rasya kembali berfikir. Akhirnya Rasya memutuskan untuk mengikuti mobil Ara dari belakang.


"Kamu bisa kan bawa mobil sendiri?" tanya pemuda tampan itu sekali lagi. Ara pun tersenyum.


Cara bicara Rasya yang begitu sopan membuat Ara sedikit canggung. Berbeda dengan awal pertemuannya dengan Radith dulu dimana mereka selalu berdebat tiap kali bertemu meskipun akhirnya rasa benci itu berubah jadi cinta. Sayangnya jalinan cinta mereka harus berakhir ketika Radith pergi untuk selamanya.


Akhirnya Ara sampai rumah dengan selamat setelah insiden yang tidak dia duga. Ketika ia sampai dan turun dari mobilnya. Ara sudah tidak lagi melihat batang hidung Rasya.Padahal ia belum sempat mengucapkan kata terima kasih.


...***...


Terima kasih readerku tercinta, dukungan kalian membuat novel ini masuk rekomendasi di Bulan Baru.


Dukung terus ya karya aku. Kalian juga bisa komen-komen di bagian paragraf nya langsung ya, jadi kalau ada typo bisa diingetin.

__ADS_1


Jangan lupa share dan kasih vote nya juga ya.


__ADS_2