
"Kak kapan kau akan mengajakku pulang? Ibuku pasti akan mencemaskan aku,"
"Tenanglah sayang aku sudah mengabari ibumu kamu tidak perlu khawatir," tangan Rasya mengalung ke leher Ara namun Ara segera menepisnya.
"Maaf kak aku belum terbiasa,"
"Tidak apa-apa sayang nanti kau akan terbiasa, ayo yang lain sudah menunggu di meja makan," Rasya mengajak Ara untuk turun.
"Mommy mommy" suara yang dirindukan Ara sejak dia menginjakkan kaki di rumah keluarga Ramadhan.
Ara langsung berjalan cepat menuruni tangga hingga membuat Rasya khawatir."Jangan lari sayang hati-hati,"
"Cibul," Ara mengambil alih Cibul dari gendongan Andrea.
Cibul terlihat senang saat melihat Ara. Gadis yang sudah resmi menjadi tunangan Rasya tersebut menciumi pipi Cibul berkali-kali.
"Mommy kangen kamu sayang," ucapnya pada anak yang baru belajar jalan itu.
"Cibul?" tanya Rasya.
"Si Bulan disingkat Cibul," Ara kembali mencium pipi Cibul dalam gendongannya hingga anak itu merasa geli.
"Lucu sekali nama cucuku," seru Emely yang mendengar Ara memanggil Cibul pada anak Andrea itu.
"Ibu tahu saat pertama kali Bulan melihat kakak ipar dia langsung suka padahal dia akan menangis kalau digendong selain keluarganya, kau ingat kak waktu itu Serena pernah mencoba menggendongnya tapi Bulan malah tidak mau berhenti menangis," Ara mengerutkan dahi mendengar nama Serena.
"Siapa Serena itu?" tanya Ara. Andrea dan Rasya lalu beradu pandang.
"Oh dia dokter keluarga kami?" apa yang dikatakan Rasya memang benar tapi dia tidak mengatakan bahwa Serena adalah mantan kekasihnya.
"Ara mari duduk bersama kami makanlah dulu sebelum bertolak ke Indonesia," seru Antoni.
Andrea kemudian mengambil Bulan dari gendongan Ara. Rasya pun mengajak tunangannya makan bersama. Dengan sigap Rasya memundurkan kursi untuk Ara duduki.
"Terima kasih," Ara tersenyum pada Rasya.
"Kembali kasih," Rasya membalas senyuman manis Ara.
"Dugh senyumnya manis banget 🤦," batin Ara dalam hati lalu mengalihkan pandangannya pada menu makanan yang disediakan.
"Kenapa kamu tidak mengambil makanan nak?" tanya Emely pada Ara.
"Masa iya gue jauh-jauh ke Jerman cuma buat makan mi sama ikan ini doang," batin Ara saat melihat hidangan spagetti dan salmon yang di sajikan di piring yang berbeda.
"Gak ada nasi ya kak? aku udah bosen makan mi," bisik Ara ke telinga Rasya.
__ADS_1
Rasya tertawa melihat tingkah polos tunangannya.
"Di sini gak biasa makan nasi sayang," seru Rasya.
"Eh kak Rasya jangan keras-keras ngomongnya," Ara tertawa kecut.
"Orang Indonesia kalau belum makan nasi belum makan ya Ra namanya,"
"Eh iya om,"
"Panggil Ayah, tidak lama lagi kalian kan akan menikah," sontak Ara yang sedang meminum air putih menyemburkan air dalam mulutnya ke muka Rasya.
"Dugh maaf kak," Ara cepat-cepat mengambil tisu yang ada di meja makan untuk mengusap wajah tampan Rasya yang kena sembur.
"Aku kaget," lirih Mutiara.
"Kamu tidak ingin menikah denganku Ra?" tanya Rasya sambil mencekal tangan Ara
"Bukannya begitu kak, bagiku ini terlalu mendadak, aku masih syok dengan pertunangan yang tiba-tiba ini masak iya langsung mau nikah?"
"Aku sih yes," kata Rasya.
"Aku no," jawaban Ara membuat semua orang menatap tajam padanya.
Jawaban Ara membuat semua orang yang duduk di meja makan ber-oh-oh ria.
Setelah mereka selesai makan Rasya berpamitan untuk mengantar Ara pulang ke Indonesia.
"Yah kami balik ke Indo," Rasya meraih tangan Ayahnya.
"Hati-hati di perjalanan jaga menantu ayah baik-baik," Antoni menepuk punggung Rasya saat keduanya berpelukan.
"Pamit bu," Ara menyalami tangan Emely.
"Ibu pasti akan kangen sama kamu sayang, oh ya ad sedikit oleh-oleh untuk ibumu, sampaikan salam kami untuknya," Emely memberikan sebuah paper bag kepada Ara.
"Terima kasih bu," Ara kemudian menoleh pada Bulan.
"Cibul kita pisah lagi mommy pasti kangen banget sama Cibul, Andrea boleh aku bawa gak Cibulnya?" canda Ara sambil menciumi pipi cabi anak itu.
"Nanti kamu juga bakalan punya sendiri kakak ipar," Andrea tertawa.
Sedangkan wajah Ara bersemu merah. "Ih dikit-dikit ngomongin kawin,"
"Ayo sayang kita sudah ditunggu," seru Rasya.
__ADS_1
"Ditunggu siapa kak?" tanya Ara iseng.
"Ditunggu pak penghulu di KUA," semua orang yang jawaban Rasya menjadi tertawa.
Ara pun memukul bahu Rasya pelan. Rasya mengelus bahunya yang sedikit sakit. Lalu menarik tangan Ara dan membawanya ke dalam mobil.
"Kak aku ngantuk boleh aku tidur sat di pesawat nanti?" tanya Ara sebelum memasuki jet pribadi milik keluarga Rasya.
Rasya mengangguk pelan. "Tentu aku tahu kau pasti capek,"
Tak lama kemudian setelah Ara dan Rasya menduduki kursi pesawat, Ara sudah tidak bersuara.Rasya menggeleng.
"Cepat sekali dia tidur," gumam Rasya
Ditatapnya lekat-lekat wajah damai Ara lalu menyusuri wajah oval itu dengan jarinya perlahan.Kening yang tertutup poni rata, buku mata yang lentik tanpa maskara, hidug mancungnya serta bibir yang tebal dibagian bawah disentuhnya dengan perlahan.
Setelah itu Rasya mendaratkan ciuman di bibir merah sang kekasih hingga tanpa sengaja membuat sang pemilik bangun. Saat Ara membuka matanya Rasya masih menempelkan bibirnya sehingga membuat mata Ara membola.
Kemudian Ara mendorong dada Rasya namun Rasya malah menekan tengkuk leher Ara. Saat Ara sudah mulai kehabisan nafas Rasya oun melepaskan tautannya.
"Manis," Rasya mengelap bibirnya yang basah.
"Kak Rasya selalu cari-cari kesempatan dalam kesempitan," Ara mencebik kesal.
"Habis gimana ada kesempatan tidak boleh disia-siakan begitu saja, nanti mubadzir kata pak ustadz," Rasya tertawa pelan.
"Kak Rasya," teriak Ara membuatnya sangat malu.
Setelah menempuh perjalanan dengan jet pribadinya Rasya mengantarkan Ara sampi ke depan rumahnya. Waktu itu kebetulan tengah malam keadaan di sekitar rumah Ara sudah sepi.
"Ra aku antar sampai sini ya," ucap Rasya saat menghentikan mobilnya di depan rumah Ara.
"Iya kak makasih sudah di antar sampai rumah dengan selamat," Ara tersenyum canggung pada Rasya.
Rasya meraih tangan Ara lalu menciumnya. "Selamat malam sayang," Ara tidak menjawab ia tersipu malu kemudian keluar begitu saja.
"Jantung gue pliss kendaliin diri lo Ra jangan sampai gak kekontrol," Ara memukul dadanya setiap kali ia merasa berdebar.
Tin tin
Bunyi klakson mobil Rasya mengalihkan pandangan Ara. Rasya melambaikan tangan pada Ara sebelum ia benar-benar pergi.
...***...
Yuk dukung karya aku biar bisa masuk recomendasi di beranda lagi udah aku up dua bab ini jan bilang kependekan ya tiap babnya udah minimal 1000 kata per bab kalo gak percaya hitung ndiri.
__ADS_1