Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Pindah


__ADS_3

Pagi itu sekitar pukul 04.30 WIB Ara bangun dalam keadaan gelap."Aduh," kaki Ara kepentok meja. Menyadari dirinya berisik, Ara menutup mulut dengan satu tangannya sedangkan tangan lain mengusap dengkulnya yang sakit.


Lalu dia berdiri dan berjalan perlahan agar menemukan tembok."Mana sih?" tangannya meraba dinding supaya bisa menemukan saklar lampu. Entah kenapa lampu di kamarnya mati padahal Ara biasa tidur dengan lampu hidup karena dia takut tidur sendirian.


Saat ia menemukan saklarnya, tangan Ara dihimpit tangan seseorang. "Gue jadi merinding gini ya," gumam gadis yang belum genap usianya 20 tahun itu.


Tangan itu menelusup ke jari-jari Ara. Ara semakin merinding, bulu kuduknya otomatis naik.Dia masih terdiam tak bergeming. Saat lampu dinyalakan,"Kamu lagi ngapain Ra?" tanya Rasya yang sudah berdiri di depannya?"


"Kak Rasya ngagetin aku aja," protes Ara sambil memegangi dadanya yang kaget. Rasya terkekeh melihat tingkah lucu Ara ditambah lagi rambutnya yang berantakan habis bangun tidur.


"Kenapa kak, ada yang lucu ya?" tanya Ara tidak sadar kalau dirinya berantakan.


Rasya tidak menjawab. Dirinya mendekat kemudian menyisir rambut Ara dengan jarinya."Istriku ini lucu sekali kalau bangun tidur," ucap Rasya kemudian memberi satu kecupan di pipi Ara.


Wajah Ara jangan ditanya sudah merah merona pastinya. Dia memegangi pipinya bekas ciuman sang suami. Perasaannya campur aduk antara malu karena keliatan jelek setelah bangun tidur dan malu karena mendapatkan ciuman pagi-pagi.


Ara berlari ke kamar mandi kemudian mengambil sabun cuci muka miliknya. "Ah cuci muka doang, mandi sekalian ah, malu kalau pagi-pagi keliatan jelek di depan kak Rasya."


Setengah jam kemudian Ara kembali ke kamarnya.Rasya yang telah menunggu lama di kamar melihat rambut istrinya itu basah begitu juga piyama yang dipakainya.


"Kamu habis nyemplung dimana Ra?" ejek Rasya sambil terkekeh.


"Di kolam ikan rumah tetangga," jawab Ara asal dengan mulut bergetar karena kedinginan.


"Lagian pagi-pagi udah mandi aja gak ngajak-nhajak lagi, lupa bawa handuk ya," Rasya menyambar handuk yang biasa Ara letakkan di atas kursi di depan meja belajarnya.


Dengan sigap Rasya mengeringkan rambut istri kecilnya itu."Kamu subuh-subuh sudah keramas nanti kamu dikira mandi basah lagi," Ara mengerutkan dahinya.


"Mandi emang basah kak mana ada mandi yang kering itu namanya tayamum," Rasya reflek menyentil kening Ara pelan.


"Kamu ingat kemaren aku habis nikahin kamu kan? trus apa yang seharusnya dilakukan pasangan pengantin setelah menikah?" tanpa menjawab Ara malah menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya.


"Ih Kak Rasya, masih pagi nih pikiranku masih jernih," protes Ara.


"Ck, kamu pikir kamu tidak menyiksaku semalam," Rasya mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Emangnya aku berbuat apa? aku diem aja," elak Ara.


"Kamu tidurnya gak mau diem, ranjang kamu sempit jadi mana bisa aku tidur," protes Rasya.


"Emm maaf ya kak, eh masa iya, aku kalau tidur tu anggun,"


"Ck, ayo pindah ke rumah aku, tidur di ranjang yang lebih luas,"


"Mandi dulu lah shalat habis itu bantu beres-beres," titah Ara pada suaminya.


"Nanti agh aku mau lihat kamu ganti baju di sini," goda Rasya.


"Ya udah aku ganti baju di kamar mandi aja kalau kamar mandinya gak kamu pakai," Ara mengambil baju ganti di lemarinya kemudian berlari keluar sebelum Rasya menghalanginya lagi.


"Kamu ngapain Ra cengengesan gitu?" tanya Bu Mia yang baru keluar dari kamarnya.


"Gak papa bu, kamar mandinya aku pakai dulu ya," Ara pun masuk begitu saja sebelum ibunya menjawab iya.


Pukul 08.00 WIB Ara, Rasya dan Bu Mia bersiap pindah ke rumah Rasya.


"Udah semua kak," jawab Ara seraya memakai sabuk pengamannya.


"Iya udah semua nak," timpal bu Mia.


"Kita berangkat sekarang ya bu," Rasya menoleh pada mertuanya. Bu Mia menganggukkan kepala.


Rasya akan membawa istri dan ibu mertuanya pindah ke rumahnya. Ia tidak mungkin tinggal di rumah Ara yang sempit.Rumah peninggalan ayahnya itu akan dijual dalam waktu dekat.


Di perjalanan Rasya dan Ara tidak banyak berbicara. Bu Mia mengajukan beberapa pertanyaan seputar kehidupan Rasya yang ingin ia ketahui. Namun, Rasya hanya menjawab seperlunya saja.


Setelah setangah jam lebih perjalanan dari rumah lama Ara akhirnya mereka tiba di kediaman Rasya. Rasya berhenti kemudian membunyikan klakson mobilnya agar Satpam penjaga rumah membukakan pintu gerbang depan.


Setelah terparkir sempurna di garasi mobil, Rasya keluar terlebih dulu demi membukakan pintu untuk ibu mertuanya.


"Terima kasih nak," ucap Bu Mia seraya tersenyum pada anak mantunya.

__ADS_1


Ara merasa bangga sang suami begitu sopan pada ibunya. Dia bahkan tidak masalah kalau dirinya tidak dibukakan pintu karena Rasya terlebih dulu membukakan pintu untuk sang ibu.


"Sama-sama bu," jawab Rasya dengan lembut.


"Biar barang-barangnya dibantu angkat sama asisten saja bu," Rasya melarang Bu Mia mengangkat koper pakaiannya sendiri.


"Mari saya tunjukkan kamar ibu," Rasya menoleh pada Ara. Ara tahu maksud suaminya itu tidak bisa berjalan di sampingnya.


Kemudian ketiganya menaiki tangga. Rasya membukakan sebuah kamar untuk sang mertua.


"Wah luas sekali kamarnya nak, apa tidak apa ibu tinggal di sini?" tanya Bu Mia sedikit ragu.


"Kamar ini memang saya siapkan untuk ibu, ibu bisa beristirahat sekarang, sebentar lagi akan ada asisten yang membawa barang-barang ibu ke kamar, oh iya kalau butuh sesuatu panggil saya saja kamar kami ada di sebelah kamar ibu," ucap Rasya panjang lebar.


"Baik nak, terima kasih kalian mengajak ibu pindah ke sini," ucap Bu Mia dengan haru.


"Kami permisi ya bu,yuk Ra!" ajak Rasya dengan merangkul bahu istrinya.Ara menoleh ke Rasya seraya tersenyum.


Kemudian Rasya membuka kamarnya. Ara kagum sekali dengan interior kamar Rasya yang begitu mewah. Ia mulai menduduki ranjang Rasya yang empuk seraya mengusapnya.


"Kamu suka?" tanya Rasya pada sang istri. Ara mengangguk.


"Di sini kita akan membuat adonan supaya ada Rasya junior di sini," Rasya menunjuk perut datar Ara.


"Ih kakak mesum," wajah Ara memerah.


"Emm ayo bantu beres-beres," elak Ara saat Rasya mendekatkan wajahnya.


"Ck tidak bisakah kita bersantai hari ini, biar asisten yang mengerjakan," protes Rasya.


"Kalau gitu ajak aku ke dapur aku ingin lihat stok bahan makanan untuk memasak makan siang nanti," saat Ara hendak keluar tangannya ditarik oleh Rasya.


"Nanti sajalah, aku ingin sekali saja menciummu," saat mulut Rasya mendekat ke wajah Ara, jari telunjuknya ditempelkan di bibir sang suami.


"Kakak lupa aku masih menstruasi,ditahan dulu ya," ucap Ara dengan terkekeh.

__ADS_1


"Hanya ciuman," rengek Rasya.


__ADS_2