Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Jamu Kuat


__ADS_3

"Salim dulu," Ara meraih tangan Rasya kasar.


"Nanti kalau udah selesai jangan lupa telepon ya sayang," ucanya sedikit berteriak karena Ara sudah keluar dari mobil.


"Iya," jawab Ara sebelum pergi.


Rasya menggeleng. Ia masih melihat Ara dari dalam mobilnya. Kemudian setelah memastikan istrinya masuk laki-laki itu menginjak gas mobilnya. Melajukan mobilnya kencang menuju ke kantor ojek online yang tidak tiap hari ia kunjungi.


Karena kesibukannya yang masih kuliah Rasya hanya datang di hari Sabtu setiap minggunya untuk mengecek pembukuan kantor.


Rasya segera menuju ke ruangannya sesampainya di kantor. Ia duduk di kursi kebesarannya kemudian mengangkat telepon untuk menghubungi sekretarisnya.


"Tolong bawakan pembukuan penting yang harus saya tanda tangani," titahnya pada seseorang di balik telepon.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari luar membuat Rasya membalik kursinya."Masuk," titahnya.


"Permisi pak saya mau mengantarkan berkas-berkas yang bapak minta," kata seorang perempuan cantik yang baru-baru ini menjadi sekretaris Rasya di kantor.


"Taruh saja di meja,"


"Baik," ucap wanita bernama Hana itu.


"Oh iya Han saya mau tanya sama kamu, tapi agak sedikit pribadi," Hana mengangguk.


"Apakah mood wanita selalu berubah-ubah saat ia sedang datang bulan?" Hana menahan tawanya. Dia tidak menyangka seorang Rasya menanyakan hal yang tidak pernah ia duga.


"Betul pak itu dikarenakan hormon estrogen yang mempengaruhi," terangnya.


"Ya sudah kamu boleh kembali ke tempat kamu," Rasya mempersilahkan sekretarisnya untuk keluar ruangan.


Setelah menandatangani berkas-berkas penting ia memutuskan untuk keluar ruangan. Ia menuju ke parkiran mobil. Rasya akan menjemput Ara di kampus.


Sementara itu Ara yang baru selesai mengikuti mata kuliah sedang memberesi buku-bukunya ke dalam tas. Lalu teman perempuan Ara mengajak dirinya ke kantin. "Ra cari minum yuk sebentar," ajaknya.


"Yuk lah haus banget ini," Ara berdiri kemudian menyantolkan tasnya di bahu. Tangan yang lain membawa buku.


"Lo pesen apa Ra?" tanya temen Ara yang sudah berada di depan meja penjual


"Apa ya yang seger ajah," ucap Ara kemudian duduk di kursi terlebih dulu.


Tak lama kemudian teman Ara membawakan dua cup jus alpukat."Nih buat lo," temannya menyodorkan jus yang ia pegang.


"Makasih," Ara mendongak.


Wanita cantik itu menyeruput sedikit jus alpukat yang dipesankan temannya namun kemudian ia muntahkan.


"Kok eneg gini ya rasanya," keluh Ara.


"Masak sih gak ah enak kok," elak teman yang duduk di depannya.

__ADS_1


"Kalau gitu buat lo aja," Ara mendorong gelas jusnya.


Hek


Ara kaget saat seseorang memeluk dirinya dari belakang.Ia melihat dua tangan yang melingkar di lehernya. Lalu menoleh ke belakang.


"Kak Rasya malu tau banyak orang," lirih Ara karena malu Rasya memeluknya di kantin.


"Gak papa biarin aja sah sah aja sayang kita kan udah nikah," ucap Rasya di telinga Ara.


Wajah Ara bersemu merah merinding mendengar suara merdu yang ia dengar di dekat telinganya. Buru-buru Ara melepas tangan suaminya karena temannya itu memperhatikan.


"Kalian kalau mau mesra-mesraan di rumah aja napa, sepet mata gue lihatnya jiwa jones gue meronta nih," keluh sang teman.


"Yuk Ra balik sekarang," ajak Rasya.


Dengan percaya diri Rasya menggenggam telapak tangan istrinya dengan erat seolah ingin menujukkan kepada siapa pun bahwa wanita di sebelahnya adalah miliknya.


Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Siapa pun yang melihat wajah tampannya saat ini sudah bisa menebak kalau laki-laki itu sangat bahagia.


Bebeda dengan Ara yang kikuk karena banyak pasang mata yang memandang keduanya.Ara merasa tidak nyaman. Meskipun begitu ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Rasya yang sangat sabar dan perhatian pada istrinya.


"Sini aku bantu," Rasya mengambil tas dan buku Ara kemudian meletakkannya di kursi bagian belakang.


"Eh," Ara hanya pasrah atas perlakuan suaminya.


"Hati-hati kepalanya,"Rasya menutupi kepala Ara yang akan memasuki mobil agar tidak terbentur.


"Ampun lebaynya suamiku," batin Ara sambil tersenyum.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rasya saat menoleh ke arah istrinya yang cantik.


"Gak papa, jalan kak," ucap Ara dengan lembut.


Rasya semakin gemas melihat tingkah istrinya yang berubah-ubah. Kadang dia bar-bar kadang dia lembut. Yang jelas Rasya selalu bisa menerima apapun kekurangan Mutiara.


Tiga puluh menit setelah berjalan dari kampus menuju kediamannya. Ara merasa pusing. Bibirnya pucat seperti tidak memakai lip gloss. Rasya menoleh pada wanita kesayangannya itu. Ia mengernyit heran saat wajah Ara berkeringat.


"Sayang kamu ko keringatan ACnya kurang dingin?" ucap Rasya seraya mengelap peluh yang ada di kening Ara.


"Pusing," jawab Ara singkat.


"Kamu sakit sayang?" panik Rasya.Ara diam saja ia tidak menjawab pertanyaan suaminya.


Rasya segera turun kemudian membukakan pintu untuk Ara."Kamu bisa jalan sendiri?" tanyanya.Ara mengangguk pelan.


Anehnya ketika Ara sudah keluar dari mobil ia merasa tidak pusing lagi.Ia menghirup udara dalam-dalam. Rasanya begitu menyegarkan.


"Kamu bisa jalan sayang?" Rasya mengulangi pertanyaannya.


"Bisa kak," Ara menepis tangan Rasya pelan saat berusaha membantunya berjalan.

__ADS_1


"Eh kalian sudah pulang," sapa Bu Mia saat keduanya masuk ke dalam rumah.


"Ra, nak Rasya ke sini sebentar," perintah ibunya dituruti oelh pasangan suami istri tersebut.


"Ada apa bu?" tanya Rasya.


"Ibu baru beli jamu buat kalian," Bu Mia menyodorkan dua gelas jamu untuk Ara dan Rasya.


"Jamu apaan bu?" tanya Ara sambil mengangkat gelas yang berisi jamu.


"Ini jamu kesuburan, satu buat kamu satu lagi buat nak Rasya,"


"Lho saya juga ikut minum bu?" tanya Rasya.


"Iya dong nak ini jamu kuat," bisik ibunya pada telinga Rasya.


"Kuat biar apa bu? Saya kan tidak kerja berat," perkataan Rasya sontak membuat Ara tertawa terbahak-bahak.


"Ya ampun ibu ada-ada saja, kak Rasya disuruh minum ginian,"


"Udah jangan banyak ngomong, minum jamunya,"


Ara gelagapan ia tidak suka bau jamu apalagi meminumnya. Oleh karena itu Ara berfikir untuk mengelabuhi ibunya.


"Eh bu tolong ambilin buah pisang dong bu nanti habis minum jamu terus makan pisang biar gak pahit," Bu Mia membuka kulkas.


Saat sang ibu sedang membelakangi dirinya Ara membuang jamu ke cucian piring yang ada di dekatnya.


"Ih curang," Rasya berkata tanpa bersuara melihat istrinya yang membuang jamu pemberian ibunya.Ara malah menjulurkan lidahnya pada Rasya.


"Nih Ra," bu Mia menyodorkan buah pisang yang baru dia ambil.


"Wah udah habis Ra," Bu Mia melihat gelas Ara sudah kosong. Lalu menoleh ke gelas Rasya yang masih utuh."Lho nak Rasya ko jamunya gak diminum, ayo minum bagus buat kesuburan kamu, ibu kan pengen cepet dapet cucu," ucap Bu Mia dengan wajah berseri.


"I-iya bu," jawab Rasya dengan terbata. Ingin rasanya menolak tapi saat melihat wajah mertuanya itu ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ayo kak minum jamunya biar kuat," ledek Ara diselingi tawa mengejek.


"Ayo nak minum," tangan bu Mia memaksa Rasya meminum jamu pemberiannya.


Rasya meneguk jamunya sampai tandas. Kemudian menjulurkan lidah karena merasakan pahit luar biasa. "Huek," ia ingin muntah setelah meminum hanis jamu itu.


"Cie bule doyan jamu juga," ledek Ara.



Yang frustasi karena habis minum jamu



Yang suka ngeledek suaminya

__ADS_1


__ADS_2