Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Bertamu


__ADS_3

Tok tok tok


"Nak Rasya apa ibu bisa minta tolong?" teriak Bu Mia dari luar membuat Rasya lagi-lagi gagal mencium sang istri.


"Kak bukain pintunya tuh," titah Ara.


Bahu Rasya meluruh, dia pun berjalan untuk membuka engsel pintu kamarnya."Ibu perlu bantuan?" tanya Rasya dengan sopan.


"Iya nak ibu gak tau kenapa air keran di kamar mandinya panas," pertanyaan bu Mia membuat Rasya tersenyum.


Rasya pun berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar mertuanya.Ara dan Bu Mia mengekor di belakangnya. "Ini diputar ke kanan bu supaya airnya jadi dingin, kalau ke kiri airnya jadi panas," ucap Rasya menerangkan diikuti anggukan mengerti dari Bu Mia.


"Saya keluar dulu ya bu, masih ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Tidak nak, maaf ya ibu ini memang kampungan begitu saja tidak mengerti," Rasya tersenyum menanggapi omongan sang mertua.


"Tidak apa-apa bu," Rasya menggandeng tangan Ara agar ikut keluar.


"Kak lihat dapur yuk, nanti kakak mau aku masakin apa? tapi jangan mi-lah aku gak bisa masak mi yang itu," Rasya tertawa mendengar ocehan istrinya.


"Spagetti Ra, kamu gak suka makan spagetti?" Ara menggeleng.


"Gak enak, eneg, enakan mi rebus kak," cibir Ara.


"Kamu jangan makan-makanan yang gak sehat gak bagus buat kesuburan," sindir Rasya.


"Ck, ngomongnya itu terus," Ara mendengus kesal.


"Emangnya ngomongin apa?" elaknya.


"Jangan mentang-mentang umur aku masih muda terus aku gak tahu ya maksud kakak,"


"Kamu tahu tapi kamu gak bisa penuhin," rengek Rasya.


"Ya gimana dong udah kodratnya cewek tiap bulan,"


"Kalau udahan bilang ya," pinta Rasya seraya menyender di samping kulkas.


"Hehe iya, wah kosong nih kak, apa yang mau di masak?" ucap Ara saat membuka kulkas di dapur Rasya.


"Mau aku anterin belanja?"


"Kuy lah," Rasya menarik tangan Ara.


"Apa kuy-kuy?" tanya Rasya yang tidak mengerti dengan bahasa Ara.

__ADS_1


"Hayuk, cap cuss, masih gak ngerti? Let's go!" ucap Ara dengan penuh penekanan.Rasya pun menggeleng.


Kemudian Rasya dan Ara memasuki garasi. Rasya dengan sigap membukakan pintu untuk sang istri."Ah jangan berlebihan," batin Ara.


"Makasih kak," ucap Ara dengan senyum yang dipaksakan pada suaminya.


"Kembali kasih sayang," balas Rasya.


Rasya memutari mobilnya lalu duduk di kursi kendali mobil. Seusai memasang sabuk pengaman Rasya menoleh pada Ara seraya berkata,"Kita jalan sekarang ya?" Ara pun mengangguk.


Di tengah perjalanan Ara ingat kalau dirinya lupa berpamitan pada ibunya.


"Eh kita lupa pamitan sama ibu,"


"Iya nanti kabari aja Ra lewat telpon," jawab Rasya sesekali menoleh ke arah Ara.


"Emm kak mampir ke rumah temen sebentar boleh? mau jenguk anaknya mbak Diana temenku yang udah lahiran," ijinnya pada sang suami.


"Boleh," Rasya mengelus rambut panjang Ara.


"Kita mampir di baby shop sebentar ya beli kado buat anaknya," ucapnya pada Rasya.


Rasya pun mengikuti perintah Ara. Ia menghentikan mobilnya di sebuah baby shop. Mereka berdua turun. Rasya yang turun duluan menunggu istrinya keluar dari mobil. Kemudian dia menggandeng tangan Ara. Ara hanya bisa pasrah saat jari Rasya menelusup ke jari jemarinya. Wajahnya bersemu merah.Ia mengamati sikap sang suami yang selalu ingin menempel padanya.


"Mau beli apa sayang?" tanya Rasya saat keduanya sudah memasuki toko.


"Yang ini bagaimana? ukurannya tidak terlau besar kalau dibawa," Rasya menunjuk pada sebuah bouncher yang ada di depannya.


"Wah kak Rasya pilihannya bagus, mbak Diana pasti suka, beli ini boleh?" tanya Ara dengan memasang muka manis di depan suaminya.


"Ayo kita bayar," Rasya dan Ara menuju ke tempat kasir.


Tak perlu waktu lama berada di toko. Mereka lansung menemukan hadiah yang cocok untuk mengunjungi anak Diana.


***


"Kayanya yang ini kak rumahnya sesuai info dari mbak Sarah," Ara mencondongkan kepalanya ke depan.


"Coba kita tanya dulu," seru Rasya.


Mereka berdua turun dan menekan bel masuk yang ada di depan pintu rumah. Sesaat kemudian Diana membukakan pintu rumahnya.


"Assalamualaikum mbak," sapa Ara.


"Waalaikumsalam,ya ampun tahu darimana rumah mbak?" tanya Diana yang kaget dengan kedatangan Ara.

__ADS_1


Diana menoleh ke arah Rasya lalu kembali menoleh pada Ara.Diana tentu kaget saat melihat Rasya karena wajah Rasya yang mirip dengan Radith.


"Ini kak Rasya kembarannya Radith mbak, sekarang dia suamiku," ungkap gadis yang resmi menjadi istri Rasya tersebut.


Diana belum tahu kalau Rasya adalah pemegang saham terbesar di perusahaan yang dijadikan tempat bekerja oleh Mutiara. Diana mengangguk begitu pun dengan Rasya."Masuk dulu Ra," ajak Diana.


"Aku ke sini buat ngasih ini mbak ke anakmu, mana dia?" Ara clingak clinguk.


"Lagi tidur," Diana menerima pemberian Ara.


"Makasih ya buat hadiahnya, aku malah gak kasih kalian hadiah apa-apa," timpal Diana.


"Gak papa mbak, mbak boleh liat anaknya?" pintanya pada Diana.


"Tunggu sebentar ya aku bawa ke sini anaknya," ucap Diana.


Tak lama kemudian Diana keluar dengan menggendong bayi yang sedang tertidur.


"Ih gemes banget mbak anaknya, cowok ya mbak?" tanya Ara sambil mencubit pipi gembul bayi dalam gendongan Diana.


Namun bayi Diana malah menangis sesaat setelah Ara mencubit pipinya."Mbak aku nyubitnya pelan kok cuma toel pipinya doang, beneran," akunya. Rasya malah terkekeh tapi malah mendapat sikutan dari Ara.


"Gak papa Ra, mungkin dia cuma kaget," timpal Diana.


"Syukur deh, bikin kaget aja kamu dek," ucapnya pada sang bayi yang belum mengerti.


"Kamu mau gendong dia Ra?" tanya Diana.


"Eh gak mbak aku takut," tolak Ara.


"Coba saya yang gendong," tawar Rasya. Diana dan Ara saling melempar pandang. Namun Diana memperbolehkan bayinya digendong oleh Rasya. Wanita yang sudah resmi menjadi ibu itu memberikan bayinya pada Rasya. Tanpa mereka duga bayi Diana masih anteng dalam gendongan Rasya. Ara sampai heran.


"Boleh dibawa pulang gak mbak?" tanya Ara sambil mencolek hidung bayi yang ada di pangkuan Rasya.


"Enak aja kamu, mbak sudah susah-susah gendong dia sembilan bulan kamu main ambil aja, buat sendirilah," sindir Diana.


Ara menelan ludahnya yang pekat. Rasya menarik ujung bibirnya ketika mendengar ucapan Diana.


"Nikah aja baru kemaren mbak,udah ngomongin momongan," protes Ara.


"Gak papa Ra kalau bisa gak usah ditunda biar entar gedenya kalian bisa jadi kaya temen, usia muda juga pastinya masih subur kan? sekali bikin biasanya langsung jadi," Ara mendengus kesal mendengar ocehan Diana.


"Sedikasihnya ajalah mbak," ucap Ara pasrah.


"Ra kita pulang yuk ibu di rumah sendirian," titah Rasya.

__ADS_1


Laki-laki itu memberikan bayi yang ada di dalam gendongannya kepada sang ibu.


__ADS_2