Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Keluarga


__ADS_3

Satu hanyamg membuat Ara bersedih di hari ulang tahunnya yaitu tidak bisa merayakan nya dengan Radith. Meskipun ia sudah sah menjadi istri Rasya. Namun rasa cintanya pada Radith akan tetap sama sampai kapanpun.


Jadi janganah membenci seseorang dengan berlebihan kalau pada akhirnya rasa benci itu akan berubah menjadi cinta. Pepatah mengatakan bedanya benci dan cinta itu tipis. Hanya ada dua piliha cinta atau benar-benar cinta.


Akhirnya Ara memberanikan diri untuk mmengungapkan keinginannya. Selain doa untuk dirinya, Ara ingin mendoakan Radith agar selalu tenang disana.


"Aku ingin kita sama-sama mengunjungi makam Radith, aku rasa kita sudah lama melupakannya," pinta Ara menatap satu persatu anggota keluarganya agar mendapatkan persetujuan.


Anggota keluarganya tidak buka suara.Mereka menyadari kalau selama ini mereka salah karena tidak pernah mengunjungi makam anak dan juga kakaknya.


Rasya tahu sampai kapan pun Radith akan tetap ada di hati istrinya meskipun raganya sudah mati. Bagaimana pun kembarannya itu pernah menjadi bagian dari hidup Ara. Rasya menyadari cinta Ara ke Radith tidak akan hilang sampai kapan pun meskipun kini wanita itu sudah menjadi miliknya.


"Tentu," jawab Rasya dengan yakin.


"Besok kita semua datang untuk mengunjungi makam saudara kembarku," imbuhnya seraya mengelus rambut hitam Ara.


Ara langsung memeluk suaminya karena saking bahagianya. Ia sebenarnya takut mengungkapkan karena ia tidak ingin membuat Rasya cemburu. Toh kalau tidak diijinkan Ara bisa pergi sendiri tanpa sepengetahuan Rasya. Tapi Ara menghormati suaminya maka ia putuskan untuk mengajak seluruh anggota keluarganya agar mereka tidak melupakan Radith.


Anggota keluarga yang lain setuju dengan ide Mutiara. Ayah, Ibu serta Andrea pun ingin mengunjungi anak dan kakak mereka yang sudah terlebih dulu meninggalkan mereka.


"Ya sudah kita semua harus beristirahat, besok pagi kita ke makam Radith," ucap Antoni memberi perintah kepada seluruh anggota keluarganya agar kembali tidur.


"Selamat malam,"


Satu persatu anggota keluarga sudah membubarkan diri. Meskipun berjalan sebentar namun pesta itu sangat berarti untuk seorang Mutiara yang notabene belum pernah merayakan hari lahirnya sejak dulu. Maklum lah keterbatasan biaya yang dimiliki keluarganya tidak hanya digunakan untuk hal-hal yang sia-sia.

__ADS_1


Rasya dan Ara pun kembali ke kamar mereka. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Rasya menyelimuti tubuh istrinya kemudian memberikan kecupan singkat di kening sang istri.


"Selamat malam sayang, tidur yang nyenyak ya," ucapnya sebelum merebahkan diri.


"I love you suamiku, terima kasih atas surprise yang kamu berikan malam ini, aku sangat bahagia," ucap wanita yang sudah berbadan dua itu dengan tulus.


"Sama-sama sayang," Rasya mengecup kwning istrinya sayang.


Ara hanya tersenyum kemudian tidur menghadap suaminya. Kali ini Rasya hanya memeluk istrinya. Ia tidak ingin mengganggu kualitas tidur Ara agar pertumbuhan janin di dalam perut Ara tidak terganggu. Ia lebih memilih untuk menahan hasratnya dan lebih memikirkan kesehatan Ara. Meskipun setiap kali dia berdekatan dengan istrinya keinginan bercinta itu ada, namun ia tidak mau Ara sampai kelelahan lagi seperti kejadian kemaren.


Keesokan harinya semua keluarga berkumpul di ruang makan. Kali ini sarapan dilakukan bersama dengan anggota keluarga yang lengkap. Ara merasa bahagia karena dirinya mendapatkan keluarga baru seperti keluarga Ramadhan yang sangat ramah pada dirinya. Terlebih Emely yang sudah menganggap dirinya seperti anak kandungnya sendiri. Tidak seperti cerita kebanyakan yang mengisahkan kejamnya mertua pada menantunya. Hal itu tidak terjadi pada Ara. Justru ia merasa ibu mertuanya itu begitu menyayanginya layaknya ibu kandung.


"Kita berangkat sekarang saja," seru Antoni.


"Baiklah Yah," jawab Rasya.


Setelah empat puluh menit perjalanan dari rumah Rasya, mereka sampai di pemakaman tempat Radith disemayamkan.


Sekarang tidak hanya Ara yang sedih dan menangis, Emely juga merasakan hal yang sama karena ditinggal oleh anak kandungnya. Kehilangan anak yang dicintai buakn perkara yang mudah untuk dilupakan. Apalagi ibu merawat anaknya sedari kecil. Kalau boleh memilih orang tua lebih baik pergi lebih dulu dari pada harus melihat anaknya yang lebih dulu pergi.


"Sayang kami datang menjengukmu," ucap Emely dengan mulut bergetar.Air matanya masih terus mengalir sejak mendekati makam anaknya.


"Maafkan kami nak baru bisa datang kemari," ucap Antoni penuh penyesalan. Pasalnya baru kali ini ia mengunjungi makam anaknya setelah ia dikuburkan. Tentu saja tidak hanya karena kesibukan kerjanya namun juga jarak yang begitu jauh. Perjalanan dari Jerman ke Indonesia yang tidak cukup ditempuh dalam waktu 1-2 jam membuat keluarga Radith tidak bisa datang menjenguknya setiap hari. Radith mungkin bisa memahami.


"Tolong maafkan kami bang yang hampir melupakanmu," Andrea menyentuh nisan kakaknya.

__ADS_1


Sang suami hanya bisa mengelus punggung Andrea untuk memberikan ketabahan. Andrea mendongak ke arah sang suami. Ia pun berdiri dan mempersilahkan Ara untuk mendekati batu nisan kakaknya.


"Dit aku datang membawa seluruh keluarga mu, aku juga ingin berbagi kebahagiaan padamu, di dalam perutku ini ada calon keponakanmu," ucap Ara seraya mengelus perutnya yang masih datar.


"Aku harap kau mendoakan kebahagiaan ku bersama kak Rasya," imbuhnya seraya menggenggam tangan sang suami yang berjongkok di sampingnya.


Rasya membalas genggaman tangan Ara dengan hangat. Ia ingin menguatkan snag istri agar tidak sedih lagi. Begitu pun dengan anggota keluarga yang lain. Mereka memang sudah kehilangan Radith tapi tidak di dalam hati mereka Radith tetap hidup sampai kapanpun.


Seusai berdoa lalu menaburkan bunga di atas pusara Radith. Seluruh anggota keluarga pulang.Namun mereka akan langsung bertolak ke Jerman setelah ini.


"Apa tidak bisa tinggal beberapa hari lagi bu di sini?" tanya Ara pada mertuanya.


"Kerjaan ayahmu tidak bisa ditinggal lama-lama sayang, sebenarnya ibu ingin sekali tinggal untuk merawatmu dan bayi dalam kandungan mu, tapi nanti Ayah Antoni tidak ada yang urus, kau tahu dia tidak bisa apa-apa tanpa ibu," bisik Emely ke telinga Ara.


"Benarkah demikian ayah?" tanyanya pada sang ayah mertua.


"Ya dia benar nak, aku tidak bisa apa-apa tanpa ibumu," Antoni tidak mengelak.


"Bagaimana dengan Bulan apakah kamu tidak ingin tinggal saja di sini bersama mommy Bulan?" tanya Ara pada anak yang masih belum mengerti itu.


Bulan hanya tersenyum melihat Ara. Ia tidak tahu apa yang diomongkan oleh keluarganya.


"Tenanglah tidak lama lagi kau akan mendapatkan yang lebih lucu dari Bulan," kata Andrea menghibur kakak iparnya yang merasa sedih karena akan berpisah denga Bulan, anak usia 2 tahun yang pandai bermain sendiri.


"Aku akan merindukan kalian," Ara memeluk Andrea. Lalu ia juga memeluk anggota keluarga yang lainnya.

__ADS_1


...***...


Yuk ikuti terus cerita ini dari awal sampai akhir, kawal terus ya biar masuk recomendasi di beranda maksih buat dukungannya.


__ADS_2