
Setelah selesai kuliah Lulu menghampiri Radith. Ia ingin menanyakan kabar Ara yang sudah beberapa hari tidak masuk kuliah.
"Eh ada temenya Mutiara yang hidupnya selalu soliter," olok Didu.
"Eh temennya Radith ngapain lo pagi-pagi ngajak gue berantem, mending gue soliter hidup-hidup gue, emang sih gue gak kaya elo yang selalu nocturnal," balas Lulu tak mau kalah.
"Eh badak kamsud lo apa?" Didu sengaja membalik kata maksud.
"Eh burung hantu, maksud lo juga apa ngledek gue, gue gak ada urusan sama lo, gue mau ngobrol sama Radith minggir lo," Lulu mendorong bahu Didu supaya tidak menghalangi.9
"Apaan Lu?" tanya Radith yang dari tadi senyum-senyum mendengar adu mulut antara Lulu vs Didu.
"Ara kemana Dit, elo tau gak? gue udah coba hubungin no hapenya tapi gak aktif," Lulu tampak cemas belum kabar sahabatnya itu.
"Nih hpnya gue bawa," Radith menunjukkan hp Ara yang tidak sengaja terbawa.
"Ko bisa sama elo?" tanya Lulu.
"Ya iyalah bisa kemaren mereka tidur bareng," perkataan Didu membuat Lulu menutup mulutnya yang terbuka.
"Ngomong apaan si lo burung hantu? makudnya apa Dit?" Luku minta penjelasan dari Radith.
"Itu gak seperti yang elo bayangin," kata Radith.
"Itu seperti yang elo bayangin," sela Didu lalu ia mendapat pukulan di kepalanya.
"Aw sakit bro gue kan ngomong apa adanya," kata Didu yang meringis kesakitan sambil mengelus kepalanya.
"Gue nemenin Ara tidur di rumah sakit karena ibunya sakit," kata Radith.
"Hah dia ko gak ngabarin gue sih, gue kan jadi khawatir," protes Lulu.
"Ntar siang gue mau jenguk ibunya Mutiara dong, elo tau alamat rumah sakitnya dimana?" tanya Lulu.
"Iya entar bareng gue aja sekalian habis kuliah," kata Radith.
"Gue gimana bro?" tanya Didu.
"Eh playboy sok ganteng tapi nyatanya biasa aja, elo gak isah ikutlah ada lo nanti rusuh," cibir Lulu.
"Tapi bro gue gak ada tumpangan baliknya," rengek Didu membuat Tadith memutar bola matanya jengah.
"Dasar benalu lo kan bisa pakai taxi apa pesen ojol," Radith memberi solusi.
"Kan kang ojolnya lagi nungguin ibunya di rumah sakit,"
"Si alan lo emangnya cuma Ara yang jadi kang ojol, bilang aja lo gak mau keluar duit," umpat Radith, sedangkan Didu hanya tertawa.
__ADS_1
"Eh gue duluan ya masih ada mata kuliah yang harus gue ikutin," pamit Lulu.
"Ntar siang jangan lupa ya Lu," teriak Didu.
"Ko jadi elu yang ngingetin dia, jangan-jangan elo pura-pura benci sama dia tapi aslinya cinta," ejek Radith.
"Cinta gue mah buat neng Ara doang," Didu menaik turunkan alisnya.
"Sia lan lo dia itu punya gue," Radith ingat Ara berpesan agar tidak membocorkan hubungan mereka.
"Yah berbagilah bro," canda Didu.
"Emangnya dia kue tart bisa dipotong-potong, lo tahu gak kenapa Lulu nyebut lo nocturnall?"
Didu menggeleng.
"Lah elu dugem terus kerjaannya, main perempuan mau deketin Mutiara gue,"
"Ko doi tahu bro?" tanya Didu tidak mengerti darimana Lulu tahu kebiasaannya.
"Bisa jadi Lulu ada rasa kali sama lo makanya dia cari tahu semua tentang lo," Radith terkekeh kecil bisa-bisanya Didu kena dikerjai.
"Masak sih bro? tapi kalo dilihat-lihat tu badak manis juga ya, kalau dandan aslinya cantik dia bro," puji Didu.
"Nah tu makanya jadi cowok yang peka kalau lagi ada ceweknya jangan malah dihina kaya tadi," Radith semakin kompor.
"Ada angin apa lo tiba-tiba ngomong gitu, panas lo?" Radith menyentuh kening Didu dengan telapak tangannya.
"Astaghfirullah gue kemakan omongan lo ini," kata Didu.
Siangnya Lulu menunggu Radith di parkiran. Didu berjalan bersama Radith. Dari kejauhan dia tampak senyum-senyum ke arah Lulu.
"Temen lo kenapa Dit, waras dia?" tanya Lulu yang melihat sikap tidak biasa Didu.
"Dia habis jatuh," kata Radith.
"Pantes biasanya kalau habis kepalanya kebentur ya memang gitu, gak normal," ejek Lulu.
"Bro titip Lulu ya," bisik Didu pada Radith kemudian Radith mengacungkan jempol tangannya.
Radith dan Lulu masuk ke mobil. Masih dengan tatapan aneh Lulu bergidik ngeri saat Didu melambaikan tangannya. Radith hanya tertawa melihat reaksi Lulu.
Selang berapa lama kemudian Lulu dan Radith sampai di rumah sakit. Tak lupa Lulu membelikan buah-buahan untuk ibunya Ara. Sedangkan Radith hanya membawa tangan kosong.
"Lo gak bawa apa-apa buat nyokapnya Ara?" tanya Lulu yang heran melihat Radith berjalan dengan santainya.
"Gue nebeng lo lah, gantian," jawab Radith santai.
__ADS_1
"Nih kamarnya," Radith mengetuk pintu kamar rawat Bu Mia.
"Katanya Ara anak orang miskin ko bisa dapet ruang VIP?" batin Lulu yang bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Eh kalian," Ara tersenyum ramah saat baru membukakan pintu.
Radith hendak berhambur ke pelukan ara namun gadis itu mendorongnya. Ara mmberikan kode supaya Radith menjauh.
"Gimana kabarnya Tante?" sapa Lulu yang menyalami tangan Bu Mia.
"Sudah baikan nak, makasih sudah sempetin buat jenguk," kata Bu Mia yang sudah mulai membaik
Radith juga meraih tangan Bu Mia lalu menciumnya. Bu Mia tersenyum pada Radith.
"Makasih ya nak Radith atas semuanya, Ara sudah cerita pada ibu," kata Bu Mia.
"Oh ya Ibu sudah boleh pulang, ini aku lagi beresin barang-barangnya," kata Ara.
"Bukannya masih dalam tahap pemulihan Ra?' tanya Radith.
"Ibu maunya dirawat di rumah aja,"
"Yaudah kita bantuin lo ya," Lulu ikut memberesi barang-barang Mutiara yang akan dibawa pulang.
Mereka pulang diantar oleh Radith. Lulu juga ikut menemani. Sebelumnya ia belum pernah diajak ke rumah Ara. Lulu sedikit penasaran.
"Loh rumahnya biasa aja gini, tapi dapat uang darimana bisa bayar ruangan VIP di rumah sakit," batin Lulu.
"Ra gue gak bisa lama-lama soalnya nyokap udah nelponin dari tadi," pamit Lulu.
"Dit anterin Lulu bisa?" Ara meminta Radith mengantar Lulu tapi Lulu menolaknya.
"Gak usah Ra gue udah pesen taxi online," kata Lulu.
Tak lama kemudian supir taxi online turun dari mobilnya. Ara seperti mengenal pria paruh baya yang sedang membukakan pintu untuk Lulu.
"Pak Bakri ya," sapa Ara.
"Eh neng Mutiara ya?" toleh Pak Bakri.
"Kemana aja neng gak pernah masuk kantor ditanyain tu sama bos Rio, katanya neng gak izin udah gitu gak bisa dihubungin lagi," kata Pak Bakri.
"Maaf pak ibu saya sedang sakit, besok kalau sudah sembuh saya menghadap Pak Rio," Ara menoleh ke Radith karena Ara ingat hapenya dia yang bawa.
"Ya udah neng bapak permisi dulu salam buat ibunya ya semoga cepet sembuh," pamit Pak Bakri.
......***......
__ADS_1
Habis baca jangan lupa tinggalin jejak ya kasih vote yang banyak pliss