
I like your eyes, you look away when you pretend not to care
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
I like you more, the world may know but don't be scared
'Cause I'm falling deeper, baby, be prepared
I like your shirt, I like your fingers, love the way that you smell
To be your favorite jacket, just so I could always be near
I loved you for so long, sometimes it's hard to bear
But after all this time, I hope you wait and see
Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever I know I can't quit you
'Cause, baby, you're the one, I don't know how
I love you 'til the last of snow disappears
Love you 'til a rainy day becomes clear
Never knew a love like this, now I can't let go
I'm in love with you, and now you know
I like the way you try so hard when you play ball with your friends
I like the way you hit the notes, in every song you're shining
I love the little things, like when you're unaware
I catch you steal a glance and smile so perfectly
Though sometimes when life brings me down
You're the cure, my love
__ADS_1
In a bad rainy day
You take all the worries away
Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever I know I can't quit you
'Cause, baby, you're the one, I don't know how
In a world devoid of life, you bring colors
In your eyes I see the light, my future
Always and forever I know, I can't let you go
I'm in love with you, and now you know
I'm in love with you, and now you know (Ysabelle)
Tepukan meriah menyambut penampilan Mutiara malam itu.
"Gila gak nyangka suara elo merdu banget Ra, kapan-kapan gue calling lo ya kalau penyanyinya lagi gak bisa manggung," kata Lulu ditanggapi Ara dengan candaan.
"Yaelah berapa sih bayaran elo? sebutin aja biar bokap gue yang transfer," kata Lulu.
"Ya...."
...***...
"Gue mau elo kerjain cowok dalam foto ini," kata Brian pada orang suruhannya.
"Siap bos," jawab preman yang menerima foto seorang lelaki di tangannya.
"Bikin dia gak bisa menghirup oksigen lagi," tambah Brian dengan api yang tanduk yang bersungut-sungut.
Brian merasa perlu memberi Radith pelajaran. Dia sudah merebut Ara. Brian juga tak mau kalah taruhan hingga harus menyerahkan mobil pada temannya.
...***...
Sore itu dua orang mengikuti Radith sejak mobilnya keluar dari gerbang kampus. Mereka menunggu saat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang disuruh oleh Brian.
__ADS_1
Saat itu Radith menepi ke indoapril. Lalu dua orang yang mengikuti dirinya mencoba membuka paksa pintu mobilnya. Salah seorang dari mereka mencongkel pintu itu hingga akhirnya terbuka. Sedangkan yang lain membawa alat untuk memotong kabel rem mobil milik Radith.
Tak lama kemudian Radith keluar sambil meminum air mineral di tangannya.Dua orang suruhan Brian itu pun segera pergi agar tidak ketahuan.
Radith sempat melihat orang yang mencurigakan tapi ia tidak berfikir jauh. Ia lalu masuk kemudian menyalakan mesin mobilnya.
Saat ia melaju sedikit kencang kendaraan di depannya justru mengurangi kecepatannya. Ia mencoba untuk mengerem tapi gagal. Tabrakan pun tidak bisa dihindari. Mobil Radith menabrak mobil di depannya.
Bagian depan mobilnya rusak parah hingga mengeluarkan asap. Sedangkan Radith tidak sadarkan diri. Polisi pun datang tak lama setelah kejadian itu. Saat dievakuasi nyawa Radith sudah tidak tertolong.
Kebetulan orang yang terakhir dihubungi Radith lewat telepon saat itu adalah kekasihnya sendiri. Ara mendapatkan telepon dari pihak yang berwenang.
Betapa hancurnya hati Ara saat ia mendengar kekasihnya mengalami kecelakaan. Tubuhnya lunglai hingga posisinya berubah menjadi terduduk.
Ara menangis sejadi-jadinya. Ia mencengkeram baju Lulu dengan erat.
"Ada apa Ra kenapa elo nangis?" tanya Lulu yang saat itu sedang menunggu kedatangan Radith dan Didu di kafe miliknya.
"Radith Lu Radith," Ara tidak bisa berkata-kata. Ia terus saja menangis.
"Anterin gue Lu gue gak sanggup," seru Ara sambil menarik tangan Lulu.
"Iya kita pakai mobil aku aja."
Sepuluh menit kemudian Ara dan Lulu sampai di lokasi dimana Radith mengalami kecelakaan.Kebetulan lokasinya tidak jauh karena Radith dalam perjalanan menuju ke kafe milik orang tua Lulu. Awalnya mereka janjian di sana untuk menghabiskan malam minggu bersama namun nasib berkata lain.
Di bawah guyuran hujan yang tidak begitu deras Ara berlari mendekati mobil Radith. Ia memaksa mendekat tapi polisi menghalangi. Saat itu sedang ada proses pengangkatan jenazah Radith dan korban yang ditabrak. Karena sedikit terhimpit badan mobil yang ringsek proses evakuasi berjalan lambat.
Lulu mencoba menenangkan sahabatnya yang tengah kacau. Tapi Ara masih saja meronta menyebut nama kekasihnya sambil menangis tersedu-sedu.
Lulu juga telah menelpon Didu agar Didu bisa mengabari keluarga Radith. Sahabat dekat Radith saat itu tidak kalah syoknya dengan Ara. Ia pun berjanji menyusul ke lokasi kejadian.
Setelah berhasil di evakuasi. Ara pingsan saat melihat kekasihnya tak bernyawa lagi. Wajah Radith penuh dengan darah akibat benturan keras di kepalanya.
"Ra bangun Ra bangun," Lulu menangkap tubuh sahabatnya yang jatuh lalu menepuk pipinya beberapa kali tapi gadis di hadapannya itu tidak juga sadarkan diri.
Andai aku tahu perpisahan ini begitu menyakitkan aku memilih untuk tidak pernah bertemu denganmu. Sanggupkah aku menjalani hidup tanpamu. Sedangkan kau memilih untuk pergi meninggalkan diriku yang sangat mencintaimu.
Ara yang baru siuman setelah pingsan beberapa jam merasa kepalanya masih pusing. Dalam sadarnya ia lalu menanyakan Radith kekasihnya pada Sang Ibu.
"Bu mana Radith Bu mana dia, Bu?" Ara menyibak selimut rumah sakit dan hendak mencopot infus yang ada di tangannya.
"Tenangkan dirimu nak tenang sayangku," Bu Mia tidak tega melihat anaknya yang sangat kacau karena kehilangan sang kekasih. Ia memeluk erat Mutiara hatinya yang sedang kalut.
__ADS_1
"Aku pengen ketemu Radith, Bu," kata Ara dalam pelukan sang ibu.
"Iya nak kita temui dia saat kamu sudah tenang ya," Bu Mia mengelus rambut anaknya yang sedang menangis dalam pelukan.