
"Bang lo tebak gue habis ketemu siapa?" kata Andrea saat bertemu Abangnya di rumah setelah pulang dari indoapril bersama Bulan.
"Meneketehe," Radith menggedikkan bahunya.
"Gue ketemu pacar lo bang, tapi apa dia jadi tukang ojek Bang? Kok dia pake jaket ojol gitu?" pertanyaan Andrea membuat Radith tersedak saat meminum segelas air.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Radith.
"Lo ko nyolot si Bang, gue cuma gak habis pikir kenapa dia sampai jadi tukang ojek apa dia bukan anak orang kaya Bang?" jiwa kekepoan Andrea mulai muncul.
"Bukan, dia cuma hidup bersama ibunya yang janda," kata Radith.
"Kasian juga ya Bang, elo nikahin dia aja biar hidupnya sederajat sama kaya kita," Andrea berbicara dengan santainya sampai membuat Radith tersedak saat sedang meminum air.
"Gue belum mapan mau nikahin anak orang nanti gue kasih makan apa anak sama istri gue, masak iya ngandelin harta warisan doang," Radith mengatakan sesuatu yang bijak Andrea pun hanya mengangguk mengiyakan perkataan Abangnya.
Sementara itu Ara mendapatkan telepon dari kantornya.
"Ada apa mbak?" tanya Ara yang baru sampai di ruangan customer servis.
"Kamu minta uang calon penumpang ya sebelum sampai ke tempat tujuan," tanya CS wanita itu.
"Heehee," Ara tertawa nyengir.
"Tadi orangnya komplain lewat telpon, coba lihat kamu dikasih bintang berapa?" Ara pun menengok hpny.
"Bintang satu mbak," Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bulan ini performa kamu jelek lho Ra, kamu harus ningkatin kinerja kamu," kata CS itu menasehati.
"Tenang aja mbak asal gak ada teguran dari atasan," tiba-tiba Rio menyuruh Ara masuk ke ruangannya.
"Duduk Ra," perintah Rio.
"Makasih pak," Ara duduk dengan perlahan.
"Begini Ra ada yang komplain ke customer servis kalau kamu minta uang duluan sebelum calon penumpang sampai di tempat tujuan ya?" tanya Rio memastikan.
"Betul pak, tapi saya terpaksa pak waktu itu saya makan di warung nasi tapi saya lupa membawa dompet, akhirnya saya menawarkan tumpangan, tapi dengan syarat calon penumpangnya mau membayar uangnya dimuka," Rio geleng-geleng mendengar Ara yang seperti burung beo.
"Ya sudah lain kali tidak boleh diulang ya," Rio memberikan peringatan.
"Baik pak," Ara pun pamit undur diri.
"Belum ada sehari gue jalan udah triple kill aja nih, makan gak bawa dompet, ketangkap basah sama Andrea, ditambah lagi kena teguran dari kantor bikin badmood, enaknya jajan apa ya biar bikin mood naik?" Ara mengetuk-ngetuk dagunya.
"Ayo saya traktir ke kantin biar mood kamu naik," Ara menoleh ke belakang.
"Eh gak usah pak ngrepotin," tolak Ara.
__ADS_1
Lalu hpnya berbunyi suara notifikasi orderan yang masuk.
"Ada orderan pak, next time ya pak," Ara berlari meninggalkan Rio.
Setelah seharian bekerja Ara balik ke rumah. Namun saat sampai di rumah ia tidak melihat pintunya terbuka seperti biasa.
"Tumben sepi, ibu kemana ya," Ara akan membuka engsel pintunya ternyata terkunci.
"Eh neng Ara udah pulang ya," sapa seorang tetangga yang menghampiri Ara.
"Ko sepi Bi, ibu kemana?" tanya Ara.
"Bu Mia jatuh neng, tadi dia dibawa ke rumah sakit," Ara kaget mendengar pernyataan itu.
Segera ia menyusul ibunya ke rumah sakit. Setengah jam kemudian ia sampai di lobi rumah sakit dimana ibunya dirawat.
"Pasien dengan nama Mia Saraswati ada di ruangan mana?" tanya Ara pada resepsionis.
"Oh pasien yang baru masuk tadi ya, masih di ruang ICU," kata resepsionis tersebut.
"Makasih mbak," Ara langung mengambil langkah cepat menuju ruang ICU.
Di sana ia bisa melihat ibunya dari luar ruangan. Tampak perban di kepala ibunya. Lalu seorang dokter diikuti seorang perawat wanita keluar dari ruang ICU.
"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Ara yang menghentikan langkah dokter jaga saat itu.
"Oh anda keluarga pasien?" tanya Sang Dokter.
"Pasien mengalami benturan di kepalanya, jadi kemungkinan akan dilakukan tindakan operasi setelah ini, tolong urus surat-suratnya di bagian administrasi," kata dokter itu lalu berjalan pergi.
"Mbak permisi saya mau ngurus operasi buat ibu saya atas nama ibu Mia Saraswati kira-kira habis berapa ya," tanya Ara yang sudah ada di bagian administrasi.
"Oh pasien yang lagi di ruang ICU itu ya? semuanya total dua puluh juta," Ara tercengang saat mendengar angka yang disebutkan.
"Dapat uang darimana gue sebanyak itu dalam semalam?" gumam Ara.
"Gue jual online aja kali ya motor gue, biarin deh gue gak punya motor sementara nanti kalo ada rejeki beli lagi yang second," pikirnya.
"Hoam ngantuk beud tidur sini aja ah adem," Ara memutuskan tidur di rumah sakit. Toh di rumah tidak ada orang. Jadi ia lebih memilih menunggu ibunya sampai sadar.
Hampir saja kepala Ara jatuh tapi seseorang menangkap dengan telapak tangannya.
"Ni orang tidur gak tau tempat ya," gumam sesorang yang kemudian menyandarkan kepala Ara di bahunya.
"Bang ayo ba...," Andrea tidak jadi meneruskan kata-katanya saat Radith menyuruhnya diam.
"Gue pesen taxi aja ya," lirih Andrea yang berjalan dengan menggendong Bulan.
Radith masih membiarkan Ara tertidur di bahunya. Karena posisi sudah tengah malam ia pun memutuskan untuk tidur di samping Ara menemani gadis yang ia sukai.
__ADS_1
Keesokan harinya Ara terbangun dan mendapati Radith sudah berada di sampingnya sedang memejamkan mata.
"Udah bangun lo?" tanya Radith dengan mata yang masih terpejam. Sesaat kemudian ia membuka matanya.
"Lo kok bisa tidur di sini bareng gue?" tanya Ara yang tidak mengerti.
"Semalam gue lihat gadis tidur sendirian di sini jadi gue kasian," jawab Radith asal.
"Ngaco lo,"
"Gila gue ngiler lagi anjlok deh harga diri gue," batin Ara merutuki dirinya sendiri.
"Cuci muka lo sono!" perintah Radith pun segera diiyakan Ara.
"Malu banget deh gue, lama-lama bisa gue kelupas juga nih muka," Ara mengguyur mukanya dengan air beberapa kali.
"Nih sarapan," Radith menyodorkan plastik berisi bubur ayam ke depan muka Ara.
"Gak lo aja," tolak Ara.
"Udah gak papa, gue janji gue gak kan cerita ke anak-anak kalo semalam lo tidur bareng gue, ngiler lagi," ejek Radith sambil terkekeh.
"Ah sia lan lo Dit, gue gak ngiler," elak Ara.
"Udah gak penting nih makan dulu gue tahu semalam lo belum makan kan, perut lo bunyi terus," Ara memegang perutnya.
"Lo ngapain dimari?" pertanyaan itu sudah sangat ingin dilontarkan semalam.
"Ibu gue sakit," kata Ara dengan lesu.
"Sakit apa?" kaget Radith.
"Jatuh kemaren, kepalanya terbentur jadi mesti di operasi, oh ya elo sendiri ngapain sampai elo bisa tidur di samping gue?" tanya Ara balik.
"Bulan sakit,"
"Hah dirawat di sini juga? di ruangan mana? gue mau nengok dia dong pliss," tiba-tiba Ara menjadi panik.
"Dengerin gue dulu," Radith memegang kedua bahu Ara untuk menenangkan dirinya.
"Bulan cuma demam biasa semalam cuma minta obat terus balik sama nyokapnya," terang Radith.
"Hah syukur deh," Ara merasa lega.
"Kenapa sih lo bisa segitunya sama Bulan?" tanya Radith tidak mengerti.
"Dia tu ngegemesin tahu, lucu gitu, siapa yang gak sayang sama Cibul," kata Ara sambil tersenyum.
"Tapi kalo sama gue elo sayang gak?" tanya Radith seketika membuat jantung Ara serasa berhenti.
__ADS_1
...***...
My readers pliss kasih hadiah ya jangan pelit-pelit. Author yakin my readers dermawan semua 😍