Kepincut Cinta Miss Ojol

Kepincut Cinta Miss Ojol
Mobil Masuk Bengkel


__ADS_3

"Bro gue nebeng elo ya?" Didu merangkul leher Radith.


"Gak bisa gue mau ke bengkel," Radith melepaskan tangan Didu.


"Ngapain dibawa ke bengkel bro?" tanya Didu.


"Lo lupa mobil gue habis ditabrak sama cewek udik itu," Radith menaikkan intonasi nada bicaranya.


"Aelah lecet dikit doang," Didu berkata dengan santainya.


"Gak bisa mobil mau gue cat ulang,"


"Susah emang ngomong sama orang kaya bisanya ngabisin duit barang ngecat doang habis lima belas juta, ckckck mending transfer ke ATM gue bro," sindir Didu.


"Sialan lo," Radith hendak memukul kepala Didu tapi keburu lari duluan.


Kemudian Radith membawa mobilnya ke bengkel. Sesampainya di bengkel langganan Radith bertemu dengan Putri.


"Eh Dit lo di sini juga?" sapa Putri yang baru saja bertemu Radith.


"Iya gue baru masukin mobil gue," Radith tidak berniat membuka percakapan dengan Putri jadi ia memilih untuk diam saja.


"Pulangnya naik apa? Gue anter ya," Putri berbaik hati mencoba menawarkan bantuan tapi Radith menolaknya.


"Gak makasih gue udah ada yang jemput,"


Radith pun mulai mengotak-atik hpnya membuka aplikasi untuk memesan ojek online. Beberapa kali ia mendapatkan driver tapi selalu ia batalkan karena Radith hanya ingin Mutiara yang memboncengnya. Putri masih melihat Radith yang sibuk memainkan hpnya.


"Elo masih lama nunggunya?" tanya Putri.


"Enggak tuh tukang ojek gue dateng," Radith mengembangkan senyum di wajah tampannya itu saat melihat motor Ara mendekat ke arahnya.


Ara kaget ternyata pelanggan yang memesan itu Radith orang yang ia kenal.


"Hah apa bener tu cowok yang mesan ojek? Ada Putri lagi, ck habis gue," Ara sangat cemas kalau-kalau Radith mengenalinya.


Lalu Ara menghentikan motornya tepat di depan Radith tanpa membuka penutup helmnya. Gadis itu hanya memberikan helm penumpang kepada Radith. Setelah diterima Radith memakainya. Namun ia pura-pura tidak bisa memasang helm dengan benar.

__ADS_1


"Bantuin dong ini gimana biar bener?" Radith meminta bantuan ke Ara.


Ara pun membantunya memasang helm dengan benar. Jantungnya berdegub kencang karena cemas takut Radith sampai membuka penutup helmnya.


"Gue tahu elo takut Ra makanya elo gak buka penutup helm lo," batin Radith sambil tersenyum menyeringai.


Sedangkan Putri sangat heran dengan kelakuan Radith. Belum pernah ia melihat Radith dibonceng sama tukang ojek. Yang ia ingat Radith selalu memakai mobil mewah. Kalaupun mobilnya ada yang masuk bengkel ia bisa memakai mobil lain karena stok mobil di rumahnya lebih dari satu.


"Ayo berangkat," Radith menaiki motor Ara namun ia bingung harus berpegangan dimana. Akhirnya ia memegang bahu Ara. Ara hanya bisa pasrah agar dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun bermaksud agar Radith tidak mengenalinya.


"Mbak ko diem aja sih?" goda Radith tapi Ara masih tidak bersuara.


Lalu Radith memiliki ide agar Ara mau bersuara. Ia memegang bagian perut Ara hingga membuat Ara tersentak kaget. Tapi di luar dugaan Ara tetap diam saja. Menyadari hal itu Radith melepaskan pelukannya.


Setelah sampai di depan rumah Radith, Ara menghentikan motornya.


"Sepertinya gue pernah ke sini?" Ara mencoba mengingat-ingat kembali.


"Oh iya waktu itu ada yang mesen makanan tapi gue ditolak, oh rupanya cowok belagu ini yang pesen," Ara semakin emosi di dalam hatinya.


"Berapa mbak?" Radith pura-pura tidak tahu berapa yang harus dibayar padahal di aplikasi sudah tertera.


Seharusnya Radith hanya perlu membayar sejumlah tiga puluh lima ribu. Akan tetapi ia memberikan selembar uang ratusan pada Ara. Saat Ara ingin memberikan kembalian Radith melangkah masuk ke rumah begitu saja.


"Dugh kembaliannya gimana nih," Ara masih memegang uang kembalian Radith.


Lalu hp Ara berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.


"Kalau lo mau balikin uang kembalian gue jemput gue pas gue mau berangkat ke kampus besok," begitu kira-kira isi chat yang dikirimkan ke nomor Ara.


"Sialan nih cowok kenapa sih ngajak gelut mulu," kesal Ara.


Lalu ia memutar motornya dan kembali bekerja. Seperti hari-hari sebelumnya ia selalu pulang pukul delapan malam. Ara tidak mau pulang lewat jam itu karena menurutnya sangat berbahaya. Lagipula ia harus mengerjakan tugas kuliah sepulang bekerja.


Bu Mia selalu menyambut kepulangan anaknya.


"Assalamualaikum bu," Ara mencium tangan ibunya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam,gimana kuliahnya hari ini nak?" tanya Bu Mia mengawali percakapan.


"Baik bu," Ara terlihat dengan berjalan pincang.


"Kaki kamu kenapa nak?" tanya Bu Mia cemas.


"Tadi sempat jatuh bu dari motor," jujur Ara.


"Kenapa sampai jatuh? Lain kali bawa motornya pelan-pelan saja gak usah ngebut."


"Iya bu, tadi Ara cuma ngantuk sama kecapekan gara-gara kemaren lembur buat ngerjain tugas kuliah."


"Ya sudah mandi dulu ibu sudah siapkan airnya."


Seusai mandi Ara mengeringkan rambutnya yang habis dikeramas dengan handuk.


"Tadi gue ketahuan gak ya sama dia?" Ara bertanya pada dirinya sendiri.


"Moga aja gak ketahuan, eh besok gimana ya masak gue harus jemput dia trus nganter dia ke kampus, gue bisa ketahuan dong," Ara pun berpikir keras supaya misi penyamarannya tidak ketahuan. Ia juga tidak mau seisi kampus tahu kalau dia bekerja sebagai tukang ojek.


Meskipun perkerjaan yang kalian lakukan benar dan halal tapi terkadang mereka malu untuk jujur. Itulah sebagian dari sifat manusia.Begitu juga dengan Mutiara ia tidak mau sampai teman-teman di kampusnya mempermalukan dirinya.


Setelah itu Ara menyempatkan untuk mengerjakan tugas kuliahnya sebelum tidur.Baru setengah jam ia membuka bukunya untuk dibaca-baca dirinya sudah mengantuk.


"Hoam, gue ngantuk banget tidur dulu agh," Ara pun melompat ke atas kasurnya.


"Nak," panggil Bu Mia yang mengecek keadaan Ara.Ia membawakan obat untuk mengobati luka anaknya. Tapi ia melihat Mutiara sudah tertidur pulas dengan posisi tengkurap di atas kasurnya.


Kemudian Bu Mia mematikan lampu kamar anaknya itu dan menutup pintu kamarnya. Bu Mia kembali ke kamar setelah mengunci semua pintu rumahnya.


Sementara itu Radith membuat kopi hangat dan mengambil camilan dari dalam kulkas untuk dinikmati sambil menonton acara kesayangannya.


"Ara-Ara dasar gadis bego lo pikir dengan elo diem aja gue gak bisa mengenali elo," Radith menarik ujung bibirnya.


Ia menyeruput kopi yang ia buat sambil memikirkan Ara. Entah apa yang ia pikirkan sehingga membuatnya ingin selalu mengganggu Ara. Baginya itu seperti candu.


"Dia gak tahu apa gue sengaja ninggalin kembaliannya supaya dia balik lagi ke sini besok," gumam Radith.

__ADS_1


...***...


Terima kasih udah baca sampai episode 9 nantikan episode selanjutnya ya.


__ADS_2