Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 103. Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Hyuna pun menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk segera diurut. Bu Tika menyuruh Hyuna untuk memperbaiki posisi duduknya lalu dia mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipakainya dalam proses mengurut.


Bu Tika memulai pekerjaannya, Hyuna nampak di wajahnya berusaha untuk menahan rasa ngilu, sakit dan perih dari pergelangan kakinya.


"Aaaaahhh Abang Guntur!!" Teriaknya Hyuna saat diurut.


Teriakannya Hyuna membuat semua orang tercengang karena baru kali ini mendengar orang yang berteriak-teriak kesakitan menyebut nama kekasih idaman hatinya itu. Satu sama lain saling berpandangan dan tidak menyangka jika reaksi Hyuna akan seperti ini.


"Apakah mencintai seseorang seperti itu yah? Sampai-sampai saat kesakitan pun nama yang disebut adalah nama pria yang disayangi," gumamnya Jingga.


"Ternyata putriku sudah kembali mencintai Tuan Muda Guntur, ini awal yang bagus, dan aku akan beritahu Nyonya Rima secepatnya kalau seperti ini," batinnya Pak Hasan


Hyuna saat menyadari jika dirinya sudah diperhatikan oleh semua orang yang kebetulan berada di dalam rumahnya Bu Rita dan duduk di dalam ruang tamu mengarahkan pandangannya ke arah Hyuna saat ia menjerit kesakitan.


"Hehehehe! Maaf!," Ucapnya Hyuna disertai dengan tawa cengengesannya.


Dastan tersenyum melihat tingkah adik kembarnya. Seolah-olah senyuman itu mampu membuatnya bersyukur dan bangga karena masih bisa dipertemukan kembali dengan adik kembarnya.


"Berbahagialah selalu adikku, Abang tidak akan membiarkan kamu terluka dan bersedih lagi, cukup Bagas yang pernah menorehkan luka dan sakit hati di dalam hidupmu, Abang yang akan menghadapi siapa pun orang yang berani melakukan itu padamu," batin Dastan.


Pak Hasan segera pamit ke belakang, karena ia ingin memberikan informasi kepada Nyonya Besar Rima tentang kabar mengenai perkembangan hubungan antara Guntur Bumi Triyoga dengan Hyuna anak angkatnya. Pak Hasan segera menekan tombol hpnya untuk mencari nomor hp Bu Rima.


Tut.. Tut.. tut…


"Kok telponnya enggak diangkat yah? Apa Nyonya sedang sibuk," cicitnya Pak Hasan yang keheranan karena tumben By Rima terlambat mengangkat telponnya.

__ADS_1


Hanya operator seluler yang berulang kali menjawab panggilannya Pak Hasan. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, coba beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah nada bit berikut.


"Aku kirim pesan chat saja kalau begini, daripada menelpon tapi gak dijawab juga," cercanya Pak Hasan.


Beliau pun mulai mengetik beberapa kata setelah selesai barulah dia mengirimkan pesan tersebut.


Berselang beberapa saat kemudian, Hyuna sudah baikan kakinya pun sudah tidak bengkak dan memar lagi setelah diobati, dipijit dan diurut oleh Bu Rita Ibu angkatnya Hyuna.


"Bu Rita! kami pamit pulang dulu, insya Allah kapan-kapan jika kami ada waktu luang insya Allah akan datang lagi menjenguk Mbak Hyuna," tuturnya Jingga yang merendahkan suaranya yang meminta pamit ijin pulang kepada Bu Rita.


"Iya Bu, kami undur dulu karena sudah lama juga disini, takutnya orang tua kami di rumah khawatir," timpal Vanesa yang ikut berdiri lalu meraih tangannya Bu Rita secara bergantian untuk mereka cium punggung tangannya.


"Enggak apa-apa kok Non, Ibu sudah sangat bahagia dan bersyukur karena kalian sudah mengantarkan pulang putrinya Ibu dengan selamat, masalah yang tadi siang dilupakan Saja Non jangan dijadikan beban fikiran karena setiap orang pasti tidak akan ada yang menginginkan untuk mengalami dan mendapati musibah ataupun kecelakaan saat berkendara untuk bepergian," jelasnya Bu Rita dengan panjang lebar.


Jingga pun mendekati Hyuna yang berusaha untuk berdiri dari tempat duduknya, "Mbak tidak perlu repot-repot untuk berdiri kami saja yang ketempatnya Mbak," cegah jingga.


"Tumben ini anak berbicara lembut dan sopan, mimpi apa dia semalam? padahal tadi dia cukup heboh dan tidak terkendali, tapi bagus sih kalau seperti itu, aku sedikit setuju dan suka dengan sifatnya yang seperti itu," Dastan membatin.


Austin pun demikian halnya,ia juga sungguh terheran-heran dan tidak menduga jika dua gadis secantik yang ada di depannya itu mampu dan bisa juga bersikap lemah lembut tanpa ada aura arogansi dari mereka berdua. Hingga matanya Austin melotot, mulutnya menganga membentuk sebuah huruf O besar.


"Kalau seperti ini aku bisa pertimbangkan perasaanku padamu Vanessa gadis kecilku," gumam Austin yang diam-diam memuji kecantikan dan sifatnya Vanessa.


"Mungkin sebaiknya aku memperbaiki diriku, dan merubah semua sifat dan kelakuan jelekku dan mulai detik ini aku harus belajar untuk melupakan kakak Austin, hampir enam tahun aku selalu mendekati dan mengejarnya tapi, selalu juga aku kecewa dan lagi lagi berujung dengan sakit hati dan kecewa yang tidak berkesudahan," Vanessa membatin sembari terus menatap intens ke arahnya Austin.


Vanesa berusaha untuk menahan laju air matanya dengan cara sesekali menatap ke arah langit-langit rumahnya Pak Hasan ataupun mencoba untuk tersenyum walaupun hatinya kecewa dan terluka.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa untuk Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul yang insya Allah ceritanya tidak kalah keren..



Pesona Perawan


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….

__ADS_1


Tetap Dukung Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Komen dan Gift Poin/Koinnya seikhlasnya.


__ADS_2