Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 107. Pertemuan


__ADS_3

Tangis sedih, pilu, ratap yang tidak berkesudahan itu dialami dan dirasakan oleh Livia hingga hampir dua tahun lamanya dan disaat itu pula lah dia dijodohkan dengan pria yang rela menerima segala sesuatu kekurangannya.


"Bawa mereka ke rumah ayah kandungnya dan berikan surat ini!!" Perintah Pak Hamilton Duxton.


Anak buahnya yang diperintahkan oleh Pak Hamilton segera melaksanakannya dan mengantar kedua bayi tidak bersalah itu. Tetapi diluar dugaan dan kendali ternyata, sesampainya di rumah besar itu ternyata bayinya malahan tanpa sepengetahuan papa kandungnya, bayi malang itu malah dibawah ke panti asuhan.


Flashback off..


"Ya Allah.. tolong pertemukan aku dengan kedua anak kembar ku jika memang mereka masih hidup, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan mereka tapi hingga detik ini juga, Engkau masih enggan mempertemukan aku dengan mereka," batinnya Bu Livia.


Langkahnya yang perlahan menapaki lantai salah satu Mall terbesar yang ada di Ibu Kota Jakarta itu. Pikirannya yang kalut, hatinya sedih dilanda rasa rindu yang sudah tidak terbendung lagi. Entah sampai kapan rasa sedih akan merindukan sosok kedua buah hatinya itu sirna dan pupus dalam kehidupannya.


Nyonya Livia berjalan ke arah kiri Mall yang seharusnya ke arah kanan. Dua sudah tidak fokus berjalan karena pikirannya sudah terbagi-bagi dan bercabang.


Prang!!!!!!!


Suara benda jatuh yang kemungkinan bahannya terbuat dari besi itu terjatuh ke atas lantai keramik. Bu Livia karena berjalan dengan pikirannya yang tidak fokus mengakibatkan terjadinya tabrakan dirinya dengan seseorang yang berjalan sambil memainkan gawainya.


Mereka berdua sama bersalah satu sama lainnya. Bu Livia yang berjalan salah arah dan tidak peduli dengan langkah kakinya sedangkan orang yang hpnya terjatuh hingga layarnya retak pun bersalah karena terlalu serius memperhatikan layar HPnya saat membaca dan tanpa sengaja melihat history Whatsappnya Jingga.


Jingga membuat caption dan foto terbarunya baru beberapa menit yang lalu di dalam fotonya itu ia memakai pakaian yang tertutup dengan hijab warna navi senada dengan baju dan celananya itu. Matanya hampir melotot saat melihat kenyataan tersebut.


"Cantik," gumamnya yang bersamaan dengan hpnya yang terlepas dari tangannya hingga terpanting di atas lantai marmer.


Bu Livia segera jongkok lalu memungut hp tersebut walaupun kondisinya masih terkejut dengan kejadian tersebut. Dia berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang berkecamuk.


Dastan yang tersadar dari kekagumannya itu refleks ikut berjongkok di hadapan Bu Livia untuk meraih hpnya tersebut. Dastan segera memeriksa hpnya yang sudah mati total.


"Maafkan saya Bu, saya tidak sengaja menabrak ibu tadi, ini semua terjadi gara-gara keteledoran aku yang berjalan tanpa memperdulikan situasi dan langkah kakiku," ujarnya Dastan sambil memohon maaf kepada Bu Livia tanpa menolehkan wajahnya ke arah Bu Livia.

__ADS_1


Sedangkan Bu Livia yang mengarahkan pandangannya ke arah wajahnya Dastan terkejut bukan main.


"Ya Allah… kenapa wajahnya sangat mirip dengan Papi Hamilton!" Lirihnya saat berulang kali memperhatikan dengan seksama wajahnya Dastan.


Dastan yang baru tersadar jika ibu-ibu yang ditabraknya tersebut terdiam membisu sehingga difikirannya mengatakan jika Bu Livia orangnya bisu dan gagu. Dastan pun berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat saja.


"Kenapa aku melihat dalam wajahnya pemuda di depanku aku ini mirip Sekali dengan Papi Hamilton dikala waktu dia masih muda," batinnya Bu Livia lalu segera merogoh tasnya untuk mengambil hpnya.


Dengan tergesa-gesa,ia membuka tasnya lalu mengambil hpnya. Beliau kemudian menyalakan layar hpnya dan membuka beberapa galeri foto lamanya. Kebetulan di galeri album fotonya pernah sekali waktu itu ia memasukkan beberapa foto lama Papi dan maminya itu.


Bu Livia tidak butuh waktu lama lalu menemukan foto yang dicarinya itu. Ia menutup mulutnya saking tidak percayanya saat secara bergantian dia memperhatikan dengan seksama wajahnya pemuda yang ada di depannya dengan wajahnya Papinya itu.


Bahkan Nyonya Livia mengarahkan layar hpnya tepat di samping wajahnya Dastan. Ia menutup mulutnya,air matanya menetes membasahi pipinya tanpa aba-aba. Kebetulan itu tidak mungkin terjadi tanpa sebab.


"Ya Allah… kenapa wajahnya Papi dengan pemuda di hadapanku ini! Ada apa kemiripan dari wajah mereka berdua, hanya saja warna rambut hingga warna mata mereka yang berbeda tapi selebihnya mirip, apa yang terjadi disini sebenarnya ya Allah," Bu Livia membatin.


Apa yang dilakukan oleh Nyonya yang masih cantik diusianya yang sudah senja dan paruh baya itu membuat Dastan tidak habis fikir dan sedikit mengernyitkan dahinya dan kedua alisnya.


Tapi lagi-lagi Bu Livia hanya terdiam dan tidak bergeming diposisinya itu. Air matanya meleleh membasahi wajahnya tanpa terkendali lagi. Bu Livia menangkup kedua tangannya di depan pipinya Dastan.


"Dastan! Putranya Mami!" Cicitnya yang masih mampu di dengar dan ditangkap oleh panca indera pendengarannya Dastan dengan cukup baik.


Dastan yang mendengar hal tersebut bukan main terkejutnya hingga dia shock. Karena pencariannya yang hampir sepuluh tahun lebih itu hampir membuahkan hasil yang maksimal.


"Kamu Dastan putranya Mami sayang, ini Mami!" Tuturnya Bu Livia yang semakin terisak dalam tangisnya.


Sedangkan Dastan yang diperhatikan seperti itu hanya terdiam dan menatap intens ke arah wajahnya Bu Livia dengan seksama.


"Apa benar dia Mama aku yang selama ini aku cari, apa benar dia adalah wanita yang melahirkan aku 25 tahun yang lalu?" Batinnya Dastan yang timbul berbagai macam pertanyaan yang menghampiri hati dan pikirannya tersebut.

__ADS_1


Bu Livia refleks langsung memeluk tubuhnya Dastan dalam posisi berlutut di atas lantai. Banyak pengunjung Mall yang memperhatikan apa yang mereka berdua lakukan. Sedangkan beberapa ajudan, anak buahnya dan sekretarisnya yang tadi sempat berbeda arah jalan dan haluan sudah berdiri di sekitar mereka berdua.


"Mami!!" Pekik seseorang yang sudah terbakar amarah melihat Mamanya sedang berpelukan dengan seorang pria yang sama sekali tidak diketahui.


Orang itu sangat marah menurutnya apa yang dilakukan oleh maminya itu sudah diluar batas mengingat usianya yang sudah tua sedang asyik berpelukan di depan orang banyak di tempat umum lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa untuk Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul yang insya Allah ceritanya tidak kalah keren..



Pesona Perawan


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....

__ADS_1


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….


Tetap Dukung Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Komen dan Gift Poin/Koinnya seikhlasnya.


__ADS_2