Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 114. Pertemuan Kembali


__ADS_3

Hyuna, Dastan, Pak Fuad duduk fi dalam ruangan tamu rumahnya pak Hasan. Mereka berbicara dari hati ke hati tentang permasalahan dan kemelut yang mereka hadapi itu. Setelah pak Hasan Ishaaq sebagai pemilik rumah yang mereka datangi malam itu menjadi penengah pembicara mereka.


"Saya tidak menyangka jika papa biologis kami adalah Anda, tapi saya heran kenapa Anda tidak mencari keberadaan kami ini sejak kecil sejak kami lahir,apa memang kehadiran kami ini tidak pernah ada inginkan!?" Ketusnya Dastan anak sulungnya Pak Fuad Rahmany Osman.


Hyuna memegangi punggung tangan kakaknya itu, "Abang, beliau benar papa kandung kita berdua mau tidak mau kita harus mengakui dia adalah papa kita berdua, bagaimana pun Abang mengingkarinya dan tidak mau menerimanya itu tetaplah jadi kenyataannya," ujarnya Hyuna.


Dastan menghela nafasnya dengan cukup keras," baiklah besok pagi kita akan bertemu dengan Mama Livia Almira Duxton bersama-sama di kafetaria Xx fi jalan x, Abang yang akan menjadi menjemputmu besok," ujarnya Dastan sebelum meninggalkan rumahnya Bu Tika malam itu.


Dastan sama sekali tidak memeluk tubuh Papanya, bukannya tidak bahagia ataupun bersyukur bertemu dengan papa kandungnya, tetapi yang hatinya masih sedih dan kecewa karena keberadaannya tidak pernah diharapkan oleh pak Fuad.


Hyuna mengantar kepergian kakaknya itu sampai tidak kelihatan mobilnya, Hyuna masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Pa, maafkan Abang yah, dia tidak bermaksud untuk melukai hatinya Papa, mungkin saja Abang belum siap menerima kenyataan yang begitu cepat yang membuatnya terkejut," imbuhnya Hyuna.


Pak Fuad memeluk tubuh anak perempuannya itu yang sangat mirip dengan wanita yang sangat dicintainya sejak masih muda hingga saat ini.


Pak Fuad menggelengkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari putrinya itu," tidak apa-apa Nak, itu wajar kok Abang melakukannya, lagian kalau papa yang berada di posisinya Abang pasti akan bersikap tegas dan tentunya menolak kehadiran pria yang begitu tega menelantarkan darah dagingnya sendiri tanpa berperasaan," tuturnya pak Fuad.


Hyuna mengelus punggung lebar papanya yang masih tetap tegap diusia senjanya yang bekerja sebagai dokter bagian dalam.


Berselang beberapa menit kemudian, orang yang sejak tadi yang ketiga orang tersebut tunggu akhirnya datang juga. Bu Livia sama sekali tidak mengetahui jika kekasihnya semasa mudanya yang membuatnya hamil hingga terpaksa meninggalkan anaknya karena permintaan kedua orang tuanya di panti asuhan juga hadir di tempat pertemuan tersebut.


Pak Fuad yang membelakangi pintu itu tidak menyadari kedatangan Livia perempuan yang begitu disayangi dengan tulus,tapi harus terpisah karena sesuatu dan lain hal yang memang harus mereka lakukan.

__ADS_1


"Maafkan Mama yang terlambat datang, kena macet soalnya maklum sudah lama tidak balik ke Jakarta jadi tidak banyak mengetahui jalan-jalan yang tidak padat kendaraan," imbuh Bu Livia yang langsung menarik sebuah kursi tepat berhadapan dengan Pak Fuad.


Hyuna berdiri dari duduknya sambil tersenyum penuh kelembutan dan kasih sayang menyambut kedatangan mamanya itu.


Mereka cipika cipiki sebelum duduk kembali," putriku memang cantik, kamu pasti sudah tahu dari Abang kalau saya mamamu," ucapnya Bu Liviana dengan memperlihatkan senyuman teduhnya itu.


"Makasih banyak atas pujiannya ma, Alhamdulillah saya sudah tahu kok dan sangat bersyukur karena saya dan Abang masih punya orang tua kandung dua-duanya masih lengkap dan hidup itu sebuah anugerah terindah dalam hidupku ma," timpalnya Hyuna dengan senyuman penuh kebahagiaannya.


"Livia," sapanya Pak Fuad yang sejak tadi seolah kehadirannya sama sekali tidak diketahui oleh Bu Livia mantan pacarnya dimasa mudanya dulu ketika kuliah fi luar negeri


Bu Livia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, betapa terkejutnya ia melihat siapa sosok pria yang memanggil namanya. Matanya terbelalak sempurna melihat siapa orang itu.

__ADS_1


"Mas Fuad," beonya Bu Livia.


__ADS_2