
Hyuna hanya berharap suatu saat nanti bagas suaminya melihatnya dan menyayanginya serta perhatian kepadanya setulus hati.
Walaupun Bagas telah berselingkuh, tapi Hyuna tidak mampu untuk membenci suaminya itu.
Keesokan paginya Hyuna seperti biasanya, setiap pagi hari Hyuna pasti akan ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk sarapan suaminya.
Walaupun selama ini mereka menikah sedikitpun bagas tidak pernah menyentuh makanan yang dimasak oleh tangannya, walaupun secuil saja.
Sama sekali hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya, dimakan atau tidak aku tidak oleh Bagas. Dia tetap memasak dan itu dia lakukan setiap hari.
Hyuna berharap suatu saat nanti, Bagas akan berubah pikiran dan mulai bersedia menyantap dan menikmati masakannya. Hyuna memasak karena hobby dari sejak dahulu dia sudah terbiasa.
Aroma masakan yang dimasaknya itu tanpa sengaja tercium hingga ke Indra penciumannya.
"Wanginya, siapa yah masak makanan pagi-pagi buta begini?" Tanyanya yang terus melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur rumahnya Bagas.
Bu Sulis ingin mengetahui siapa orangnya karena cukup penasaran dengan orang tersebut.
Ibu Sulistyowati tersenyum melihat punggung seseorang yang sedang memasak.
__ADS_1
Dia sangat hafal dengan pemilik punggung itu dan tersenyum bangga karena menantu kesayangannya lah yang sedang memasak.
"Hyuna kamu masak apa nak pagi ini? aromanya wangi banget loh, sampai tercium hingga ke depan rumah," ucap ibu mertuanya yang memuji hasil kreasi jari jemarinya di atas alat masak.
Hyuna menoleh ke arah ibu mertuanya dan tersenyum manis melihat kedatangan ibu mertuanya itu.
"Alhamdulillah, kalau ibu suka dengan masakan Hyuna, kebetulan hari ini Hyuna masak sup ayam sama ayam lalapan, karena cuma bahan untuk buat masakan itu saja yang tersedia di lemari pendingin," jawabnya sambil menolehkan wajahnya ke arah Bu Sulis.
"Wooo sepertinya enak banget masakan kamu, ibu tidak sabar untuk mencicipinya loh Nak," ujarnya yang memuji-muji masakan Hyuna.
"Maaf Hyuna hanya masak makanan yang sederhana saja," ucap Hyuna yang kembali menatap ke arah Ibu mertuanya dengan merendah.
"Ibu bangga padamu nak, Ibu sangat bahagia memiliki menantu sepertimu, semoga saja Bagas bisa mencintaimu dengan setulus hatinya,"Ibu Sulis membatin.
Walaupun pernyataan itu tidak terlontar ke luar dari mulutnya Ibu Sulistiawaty, tapi Hyuna sudah bahagia karena ke dua mertuanya menyayanginya seperti anaknya sendiri.
Sesakit apapun yang dirasakan oleh Hyuna tidak membuat Hyuna down dan cengeng. Apalagi untuk mengeluh dan harus larut dalam kesedihannya.
Satu keyakinannya jika suatu saat nanti Bagas akan berubah dan menyayanginya.
__ADS_1
Begitulah karakter dan sifat Hyuna yang selalu tegar dan kuat di mata orang lain, walaupun di dalam hatinya begitu rapuh dan butuh sandaran untuk berbagi dan keluh kesahnya.
Banyak orang yang tidak percaya, jika Hyuna memiliki keterampilan memasak bahkan hasil masakan dari tangannya bisa menciptakan masakan yang termasuk sangat enak.
Orang-orang tahunya kalau Hyuna dalam kesehariannya hanya sibuk bekerja dan bekerja saja. Karena itu lah banyak orang yang tidak percaya jika Hyuna jago masak.
Hyuna mencepol rambutnya secara asal saja, dan banyak anak rambutnya yang tergerai menutupi sedikit leher jenjangnya, leher jenjangnya terekspos dengan sempurna.
Sehingga penampilan sederhananya itu mampu membuat Bagas dengan susah payah untuk menelan air liurnya sendiri.
"Kenapa hari ini aku lihat dia sangat cantik dan seksi kalau diperhatikan lebih lama lagi semakin tidak membosankan untuk dipandangi," Bagas membatin dan melihat Hyuna dengan tatapan yang takjub.
Penampilan Hyuna mampu membuat Bagas tergoda. Hal tersebut diketahui oleh Diandra, sehingga diandra langsung menginjak kaki bagas yang ada di bawah meja.
"Aauhhh," ucap Bagas yang mengeluh karena kakinya diinjak oleh Diandra dengan sekuat tenaga yang menggunakan slop sepatunya.
Diandra memelototkan matanya ke arah Bagas saat mengetahui apa yang dilakukan Bagas saat melihat Hyuna yang sedang memasak.
Diandra menatap jengah dan penuh amarah ke arah Bagas, Ia yang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Diandra langsung berusaha menenangkan Diandra agar tidak marah. Tetapi kedatangan pak Handoko membuatnya mengurungkan niatnya itu.
__ADS_1