
Hyuna pun menoleh dan memperhatikan ke arah luar dan mencoba mencari mobil Diandra yang biasa dia pakai ke mana pun dirinya pergi, tapi Hyuna hanya melihat mobil suaminya saja yang terparkir di garasi. Hyuna pun berjalan ke arah kamarnya untuk menyimpan tas kerja dan dan jasnya.
Hyuna mengendus jasnya Bagas setelah tanpa sengaja mencium bau parfum seorang perempuan dari jasnya Bagas. Ia tidak ingin berburuk sangka terhadap apa yang dia temukan.
Hyuna tidak ingin berpikiran buruk dan jelek tentang hal tersebut dan segera menghilangkan pikiran negatif nya tentang kelakuan suaminya di luar sana.
Tepat jam 07.00 malam mereka sudah berkumpul di ruang tengah untuk makan malam, mereka sudah duduk di kursi meja makan. Berbagai jenis makanan yang sudah dimasak oleh Hyuna tersaji di atas meja tersebut dan tertata dengan rapi.
Semua makanan yang dimasak oleh Hyuna selalu menggiurkan dan membuat selera makan ibu dan Ayah mertuanya semakin bertambah.
Hyuna kembali mendapatkan berbagai macam pujian dari kedua mertuanya, hal ini yang membuat Diandra semakin benci dan marah kepada Hyuna, sehingga wajahnya tampak seperti nenek lampir saja.
"Seharusnya aku yang duduk di sana dan mendapatkan pujian itu bukan dia, si perempuan kampungan," Diandra bersungut-sungut kesal mendengar berbagai pujian itu sehingga membuat kupingnya terasa panas saja.
__ADS_1
"Kamu memang pintar masak nak," puji ibu Sulistyowati.
"Iya dari kue hingga semua makanan yang tersaji di hadapan kita rasanya memang sangat enak dan pantas mendapatkan berbagai pujian dan tentunya makanan ini membuat perut kita tidak lapar lagi," ucap canda pak Handoko.
"Alhamdulillah kalau ibu dan Ayah menyukai semua masakan Hyuna, sangat senang mendengarnya," ucap Hyuna yang tersenyum malu-malu.
Diandra sejak tadi tidak menyukai dengan sikap kedua calon mertuanya yang terlalu ramah terhadap Hyuna, bahkan kasih sayang mereka curahkan hanya untuk Hyuna seorang sedangkan untuk dirinya hanya sekedar basa-basi saja.
Hal itu membuat Diandra sangat marah sehingga telinganya sudah panas mendengar berbagai pujian yang dilontarkan kepada masakan Hyuna.
" Diandra, Kamu juga makan yang banyak, tante lihat badan Kamu kok tambah kurus yah? tidak seperti terakhir tante lihat Kamu loh?" ucap ibu Sulistyowati yang mengambil makanan untuk Diandra.
" Makasih banyak tante," ucap Diandra yang ucapannya dibuat lebih lembut di hadapan ibu dari kekasihnya tersebut.
__ADS_1
" iya Diandra badan Kamu terakhir kalinya aku juga lihat nggak kayak gini deh, ayo nambah makannya tidak usah malu-malu kok, anggap saja di sini rumah Kamu sendiri," ucap tulus Hyuna.
"Ini semua gara-gara Kamu perempuan sial, andai saja Kamu menolak perjodohan kalian waktu itu pasti aku tidak akan seperti ini," umpatnya Diandra.
Diandra ngomel-ngomel menahan amarahnya sambil mengaduk-aduk makanannya yang ada di atas piringnya dengan sendoknya.
Apa apa yang dilakukan oleh Diandra mendapat perhatian khusus dari Bagas, segera berusaha menghentikan reaksi dan tingkah laku darinya.
Bagas ketakutan jika sikap dari Diandra terus berlangsung hingga menimbulkan kecurigaan dari kedua orang tuanya.
Mereka makan malam dengan penuh nikmat, tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka lagi, hanya menikmati makanan yang tersaji di hadapannya.
Tetapi, ada sedikit rasa curiga yang muncul di dalam lubuk hatinya setelah melihat interaksi antara Bagas dengan Diandra di mata ibu Sulistyowati, tapi kembali lagi ibu Sulistyowati tidak ingin suudzon terhadap putranya sendiri.
__ADS_1
"Ya Allah... semoga apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, moga hanya kecurigaanku semata saja," batinnya Hyuna.