
Jingga menaiki undakan tangga dengan perlahan. Langkah kakinya lemah, seakan-akan seolah-olah dia belum makan seharian saja. Raut wajahnya menyiratkan bahwa ada banyak pikiran yang sedang dia pikirkan tentang kehidupan nasib percintaannya itu.
Sedangkan masih dalam Mall, Dastan masih dibuat pusing karena hingga banyak kali nomor hpnya Jingga belum aktif juga. Austin yang melihat hal tersebut hanya terdiam seolah tidak terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu.
"Mungkin saya harus mengatakan kepadanya bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki, kasihan juga dengan Jingga jika harus berharap terus dengan cintaku, tidak mungkin aku memaksakan mencintainya sedangkan cintaku sudah aku serahkan semuanya untuk perempuan lain," gumam Dastan.
Austin dan Dastan segera menjalankan mesin mobilnya menuju kembali ke perusahaan Saiden group TBK.
"Kenapa pikiranku terus tertuju pada Vanesa, apa aku sudah menerimanya atau hanya sekedar rasa iba yang ada di dalam hatiku ini," batinnya Austin.
Sedangkan Dastan masih fokus dengan kemudi mobilnya, ia tidak ingin konsentrasinya terpecah dengan laju mobilnya dengan pikirannya yang terbang kemana-mana.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di lobby Perusahaan. Baru saja mematikan mesin mobilnya, HPnya kembali berdering. Dastan segera meraih hpnya yang berada di atas dasboard mobilnya.
"Pak Charles!" Cicitnya Dastan.
"Aku duluan yah, ada kerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya, Tuan Muda Guntur sudah minta dikirimkan filenya," tuturnya Austin.
"Oke," Dastan menjawabnya singkat tanpa menolehkan kepalanya ke arah Austin.
Austin pun berjalan tergesa-gesa ke dalam ruangannya. Dastan segera mengangkat telponnya karena ia sudah yakin jika telpon itu penting.
"Sore Pak Dastan," sapa Pak Charles dibalik telpon.
"Sore juga Pak Charles, sepertinya ada yang penting sehingga Bapak meneleponku," ujarnya Dastan yang sekedar berbasa-basi saja.
__ADS_1
"Saya sudah mendapatkan informasi dan bukti siapa Nyonya Livia itu Tuan, jawabannya ada di dalam file yang aku kirim beberapa detik yang lalu kedalam email Tuan," jawabnya Pak Charles.
"Oke, thanks Pak Charles, aku akan transfer sisa pembayarannya setelah aku mengecek dan memeriksa seluruh email yang bapak kirm seperti biasa," jelasnya Dastan lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa menunggu tanggapan atau pun reaksi dari Pak Charles.
Dastan tidak menunggu waktu lama, ia segera memeriksa email-nya hingga matanya berkaca-kaca dan tanpa disadarinya meneteskan air matanya hingga membasahi pipinya itu.
"Mami!" Lirihnya sebagai sesekali mengusap air mata bahagianya itu.
Dastan segera memutar balik mobilnya menuju ke rumahnya Pak Hasan. Ia ingin segera menyampaikan berita besar tersebut kepada adik kembarnya itu.
"Aku yakin Hyuna pasti akan bahagia jika aku mengabarkan tentang berita penting ini padanya," gumamnya Dastan yang tersenyum sumringah dengan kabar yang sungguh luar biasa dalam hidupnya.
Informasi itu adalah tentang siapa Nyonya Livia hingga siapa Papanya pun sudah diketahui dan mengantongi info sangat penting tersebut.
"Pak Fuad adalah Papa kandungku pantesan wajahnya ada kemiripan denganku dan Hyuna padahal selama ini dugaanku mengatakan jika hal itu hanya sekedar kebetulan semata saja," batinnya Dastan.
Sore hari itu jalanan cukup ramai dipadati oleh mayoritas kendaraan roda empat, baik besar maupun kecil. Dastan membelokkan mobilnya ke arah jalan tol agar perjalanannya lebih cepat, terkendali, aman, tanpa hambatan yang berarti yang bebas melaju dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Syukur Alhamdulillah, makasih banyak ya Allah atas segala informasi yang aku dapatkan, berkat kemurahan dan kasih sayang Engkau ya Allah aku mampu dan bisa mendapatkan informasi yang sangat penting ini di dalam genggaman tanganku," lirihnya Dastan.
Sedangkan di dalam sebuah kamar yang terbilang kecil, sederhana, dan cukup minimalis itu dengan cat temboknya berwarna kuning peach blossom. Seorang perempuan duduk di dekat jendela kamarnya. Ia berdiri di depan jendela kamarnya sambil menikmati indahnya pemandangan sore hari itu.
Warna jingga cahaya matahari kala itu mampu membuat perasaannya sedikit bisa terhibur dengan kegalauan dan rasa kecewa yang sedang mendera dan melanda hatinya itu.
"Abang Guntur, siapa sebenarnya perempuan yang Abang panggil sayang dan apa sesibuk itukah hingga sampai detik ini Abang tidak mengirim pesan chat ataupun meneleponku," Hyuna membatin dengan deraian air matanya yang mulai perlahan menetes membasahi pipinya itu.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa untuk Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul yang insya Allah ceritanya tidak kalah keren..
Pesona Perawan
Kau Hanya Milikku
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta CEO Pesakitan
Ketika Kesetiaan Dipertanyakan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....
Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….
__ADS_1
Tetap Dukung Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Komen dan Gift Poin/Koinnya seikhlasnya.