Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 62. Reaksi Guntur


__ADS_3

"Maaf.. ini semua terjadi karena kebodohanku di masa lalu yang harus pergi dari hidupmu tanpa sepatah kata pun," lirihnya Guntur hingga tetesan air matanya perlahan membasahi pipinya.


Bu Rima yang melihat keterpurukan putra pertamanya segera mendekati dan memeluk tubuh jangkung putranya itu dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan Mama yang belum bisa mengatakan kepada kamu, jika Hyuna sudah berpisah dari suaminya, maafkan Mama yang sudah lancang mencari tahu siapa sosok perempuan yang selalu membuatmu untuk menolak semua perempuan yang aku dijodohkan denganmu," gumam Nyonya Rima.


Berselang beberapa saat kemudian, lampu operasi pun mati pertanda operasinya sudah selesai. Beberapa tim Dokter yang menangani Hyuna sudah membuka semua masker dan penutup kepalanya sambil berjalan beriringan.


Guntur yang melihat hal itu segera mendekati salah satu dari mereka. Dia tidak sabar ingin segera bertanya tentang kondisi kesehatan dari Hyuna.


"Dokter Jailani, bagaimana kondisinya Hyuna Dok?" Tanyanya dengan raut wajahnya yang masih nampak khawatir dan cemas sedari tadi.


Dokter Jailani tersenyum ramah sebelum menjawab pertanyaan dari pemilik saham dan rumah sakit tempat dia mencari nafkah," Alhamdulillah operasinya berjalan lancar walaupun tadi sempat ada sedikit halangan, tapi secara keseluruhan semuanya aman terkendali dan kondisi Hyuna sudah melewati masa kritisnya, tapi…"


Ucapan dokter tersebut membuat Guntur defresi dan semakin cemas serta ketakutannya menyelimuti hati dan pikirannya.


"Tapi apa? Apa yang terjadi dengannya Dokter?" Tanyanya Guntur yang sudah memegang erat kedua lengan dokter Jailani.


Pak Fuad dan Bu Rima segera berjalan mendekati mereka. Mamanya segera mengambil tangan putranya karena yakin pasti cengkraman tangannya Guntur cukup kuat. Mengingat Guntur jago taekwondo juga.


"Sayang, istighfar Nak ingat jika kamu seperti ini sama saja kamu akan membuat dokter kesakitan lihat tangannya Pak Dokter gara-gara ulahmu," bujuk Bu Rima yang berusaha mengingatkan putranya untuk segera tersadar dari emosinya.


Pak Jailani hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Bu Rima. Dia sama sekali tidak berniat untuk melawan atau pun berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya Guntur dari lengannya. Baginya hal yang dilakukan oleh Guntur masih wajar saja dan juga jika dia melakukan hal itu agar dia tidak dipecat dari pekerjaannya.


"Tidak apa-apa kok Nyonya, wajarlah kalau Tuan Muda bersikap seperti itu karena khawatir dengan istrinya," tuturnya Dok Jailani dengan wajahnya yang nampak sudah memerah menahan rasa sakit dan ngilu akibat pegangan tangannya Guntur yang terbilang kuat itu.


"Guntur Bumi Triyoga!! Dengar Mama Nak!" Ucap Bu Rima dengan sedikit mengeraskan volume suaranya yang tidak menyangka jika reaksi anak keduanya akan seperti ini.

__ADS_1


"Istri!" Guntur membeo.


"Iya istri Tuan Muda baik-baik saja tapi calon bayi Tuan, Maaf kami tidak bisa selamatkan," ujarnya dokter Jailani yang bisa bernafas lega karena tangannya sudah bisa terbebas dari amukan Guntur.


Dokter Jailani mengira jika Hyuna adalah istrinya Pemilik rumah sakit salah satu terbesar di Ibu Kota Jakarta. Walaupun beliau jelas sangat tahu jika, Guntur belum menikah sekalipun.


Kehidupan pergaulan anak muda zaman sekarang bebas jadi pikirannya dokter Jailani mungkin main duluan nikahnya nyusul. Itu lah anggapan Pak Dokter.


Guntur yang mendengar perkataan dari Dok Jailani tentang istri segera berlari secepatnya menuju ruangan operasi. Dia tidak peduli dengan tatapan dan tanggapan dari Mama, paman, dokter dan pengunjung rumah sakit lainnya.


Dia membanting pintu ruangan tersebut lalu menyelonong masuk ke dalamnya. Matanya langsung menangkap tubuh seseorang yang terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus dan selang pernafasan yang terpasang di hidung mancung nan bangir miliknya itu.


Ia segera memperlambat laju langkah kakinya lalu mendekati ranjang bangkar Rumah sakit tersebut di mana ada Hyuna di atasnya. Ia spontan menggenggam tangan Hyuna dan menumpahkan air matanya.


"Maafkan aku sayang, ini semua gara-gara aku yang terlalu egois dan pencemburu yang memilih meninggalkan kamu seorang diri," lirihnya dengan penuh penyesalan.


Guntur meraih kepalan tangannya Hyuna kemudian mengecupnya dengan penuh perasaan entah sudah bercampur berbagai rasa yang ada.


Sedangkan di luar ruangan, Bu Rima merasa bersalah dan tidak enak hati karena ulah putranya sehingga dokter Jailani sedikit terluka dibagian lengannya.


"Maafkan putraku dokter, semoga dokter tidak marah dan menaruh dendam pada sikap dan kelakuannya yang impresif seperti itu, saya akan mengganti kerugian yang diakibatkan oleh sikap kasar putraku," jelas Bu Rima.


"Ohh tidak perlu Nyonya, saya tidak merasa dirugikan kok, lagian siapa pun yang berada di posisi Tuan Muda! saya yakin akan melakukan hal yang sama," sanggah Dokter termuda yang ada diantara rombongan dokter tersebut.


"Rizal! Tolong berikan bonus kepada semua dokter dan perawat yang terlibat dalam menyelamatkan calon menantuku," perintah Nyonya Rima dengan wajahnya yang serius dan tegas.


"Baik Nyonya!" Jawabnya Rizal.

__ADS_1


Dokter Fuad segera meninggalkan tempat tersebut setelah mendapatkan telpon dari dokter yang mengambil darahnya tadi. Dokter Fuad merasakan ada keanehan saat sepintas lalu melihat wajahnya Hyuna. Jadi, dia mencoba untuk melakukan saran dari sahabatnya yang kebetulan melihat hasil tes darahnya yang sama dengan yang dimiliki oleh Pak Fuad yang kebetulan satu hari sebelumnya melakukan general cek up.


...****************...


Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Cinta dan Dendam


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan


__ADS_1


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….


__ADS_2