
Semua hanya tentang waktu, tunggulah dan tetap doakan, jangan berubah atau menyerah.
I Swear i'll love you in a different way..
Aku bersumpah akan mencintaimu dengan cara yang berbeda..
Ibu Sulistyowati mengambil kotak p3k, yang tersimpan di rak di atas meja nakas ranjangnya Hyuna.
Ibu Sulistiawaty berjalan ke arah ranjang di mana Hyuna berada. Hyuna terduduk memegang ke dua kakinya sedangkan dagunya bertumpu di atas lututnya.
Sesekali ia masih menangis sesegukan. Terkadang terdiam dan tiba-tiba bereaksi dengan mencakar seluruh tubuhnya yang menurutnya sudah kotor. Ibu Sulistiawaty sangat sedih dan khawatir melihat keadaan Hyuna yang tidak stabil.
"Sayang, ingat Allah SWT itu adil dan tidak mungkin memberikan ujian ini jika kamu tidak sanggup menahannya," tutur ibu mertuanya yang berusaha memberikan nasehat kepada anak menantunya itu.
Beliau berusaha untuk mengingatkan dan menyadarkan dengan apa yang dilakukan oleh Hyuna. Ibu Sulistiawaty memeluk tubuh menantunya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Ia sangat sedih dan penuh penyesalan dengan apa yang terjadi di antara mereka.
"Teruslah beristigfar sayang, ingat ada calon bayi Kamu yang tidak bersalah sedikit pun, jika Kamu seperti ini, dia juga pasti akan ikut sedih," bujuk Bu Sulis.
Ibu Sulistiawaty berusaha menenangkan Hyuna, beliau ingin menghubungi nomor hp dokter pribadinya, tapi dicegah dan dilarang oleh Hyuna. Ia buru-buru memegang tangan Bu Sulis untuk tidak menelpon Dokter. Dia tidak ingin memberikan beban fikiran dan merepotkan lagi Bu Sulis.
"Astaugfirullah, astaugfirullah…" Hyuna terus beristigfar dan tidak henti-hentinya mengucap istighfar tersebut agar hati dan pikirannya bisa lebih tenang.
Perkataan itu yang sedari tadi diucapkan oleh Hyuna untuk mengusir rasa kecewa dan sedihnya yang dia rasakan.
"Ya Allah maafkanlah Aku yang sudah terlalu banyak dosa, bantu Aku ya Allah agar lebih kuat menjalani hidup ini," batinnya Hyuna.
Sesekali Hyuna menghapus jejak air matanya mengalir membasahi pipinya. Sesekali ia lukai dirinya, tapi berkat kehadiran mertuanya bersamanya di dalam ruangan itu sehingga Hyuna tidak terlalu menyakiti dirinya.
"Sayang obati luka-lukamu terlebih dahulu, bahaya kalau dibiarkan terus menerus nanti infeksi," terang Ibu Sulistiawaty.
Hyuna hanya menatap ke arah Ibu mertuanya dan lewat matanya mewakili permintaan ibu mertuanya.
Ibu Sulistiawaty segera membersihkan terlebih dahulu lukanya dengan meneteskan obat merah, lalu memasang plaster obat.
__ADS_1
"Ibu sudah mengobati semua luka yang ada di atas permukaan kulitmu, kalau Kamu ngantuk silahkan tidur saja Nak," pinta Ibu Sulistiawaty.
Baru ingin merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, Pintu rumahnya tiba-tiba digedor dengan sangat kuat oleh seseorang. Mereka saling bertatapan tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Hingga suara ribut yang cukup keras membuat mereka terkejut. Mereka saling berpandangan dan saling melempar pertanyaan satu sama lainnya.
"Ibu apa yang terjadi di depan, kenapa ada suara seseorang yang berteriak?" tanyanya Hyuna yang keheranan dengan suara itu.
"Kamu istirahat saja nak, biarkan ibu yang melihatnya, kira-kira apa yang terjadi, di depan" balasnya.
Hyuna hanya menganggukkan kepalanya, lalu menarik selimutnya yang sudah bersiap untuk istirahat.
Bibirnya tidak pernah berhenti untuk mengucap kata istighfar agar pikirannya bisa tenang dan sikapnya terkendali.
Ia berbaring memiringkan tubuhnya, lalu mengelus perutnya yang sudah sedikit membesar.
"Ya Allah maafkanlah Aku, aku sudah banyak dosa, tolonglah aku dan kuatkan hati ini untuk lebih kuat menghadapi semua ujian dan cobaan yang Engkau berikan untukku," lirihnya.
Ibu Sulistiawaty segera berjalan ke arah luar. Ibu Sulistiawaty terperangah melihat apa yang terjadi sebenarnya di depan pintu.
"Ada apa ini? kenapa kalian berbondong-bondong mendatangi rumah putraku?" tanyanya yang keheranan melihat begitu banyaknya orang yang berdiri di depan pintu.
Diandra tersenyum licik saat melihat jika mertuanya sudah datang dan berjalan menghampiri mereka. Ia kembali memulai aktingnya yang begitu selalu sempurna.
Dia segera berjalan ke arah ibu Sulistyowati dan memegang lengan ibunya. Diandra bersikap seperti itu berpura-pura sedih dan kecewa serta tidak tahu apa-apa yang terjadi.
"Ibu masyarkat datang ke rumah kita, mereka marah-marah dan ngomel-ngomel Bu, bahkan mereka menghina kita," jelasnya disertai dengan air mata buayanya.
Diandra memandang seorang ibu-ibu yang memakai hijab yang cukup besar dan memakai masker serta daster batik membungkus tubuh gemuknya. Ia memberikan kode agar segera memulai aktingnya.
"Akhirnya Ibu pemilik dari rumah ini sudah muncul, maafkan atas kelancangan dan kedatangan Kami yang tiba-tiba ini," ujar ibu-ibu itu.
"Kami ke sini setelah mendengar kabar dan informasi jika menantu Ibu ada yang hamil tapi bukan putra ibu yang menghamilinya," timpal ibu-ibu itu.
__ADS_1
Perkataan dari Bapak tersebut membuat Ibu Sulistiawaty terheran dan terkejut.
"Dari mana mereka tahu, dan gimana berita tersebut secepat itu mereka tahu, siapa yang membocorkan rahasia keluarganya," Bu Sulis membatin.
Ibu Sulistiawaty memandang penuh selidik ke arah Diandra sedangkan yang ditatap seperti itu kembali berpura-pura dan segera mengeluarkan air mata palsunya.
"Aku yakin dengan sangat jika semua ini ada campur tangan wanita ular jadi-jadian itu," cicitnya Bu Sulis.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you...