
Ibunya mengikuti arah telunjuk putranya tersebut.
"Apapun yang Ibu lakukan, Saya tetap tidak bisa mencintainya Ibu, hati ini hanya untuk satu orang saja, bukan untuk wanita lain dan selamanya akan seperti ini adanya," jawabnya.
"Bagas nak," ibunya memegang pundak putra sulungnya itu dengan penuh bijaksana.
"Apa Kamu sudah mencoba untuk membuka hatimu untuk Hyuna nak? apa Kamu pernah sedikitpun berfikir untuk menyayanginya seperti apa yang Kamu rasakan padanya?" tanya ibunya lagi.
Ibu Sulistiawaty berusaha untuk membuat pemikiran anaknya terbuka dan berusaha untuk mencoba untuk mencinta Hyuna.
"Maafkan putramu ini Bu, Bagas Sudah pernah mencoba, tapi Bagas tidak bisa, menyentuhnya saja sedikit pun Aku tidak ada rasa untuk melakukannya apalagi untuk membuka hati ini untuknya," terangnya yang masih berlutut dan menenggelamkan kepalanya di kedua kaki ibunya.
Perkataan dari Bagas membuatnya terpojok dan kebingungan dengan seribu pertanyaan yang muncul di dalam benaknya.
"Kalau malam itu bukanlah Mas Bagas lalu siapa yang melewati malam itu bersamaku ya Allah? ini tidak mungkin aku berhubungan dengan pria lain yang bukan Suamiku, Aku sangat kotor, aku tak menyangka jika pria malam itu bukanlah Mas Bagas," Hyuna membatin.
Kepalanya tiba-tiba serasa berputar, pusing dan matanya berkunang-kunang hingga perlahan pandangannya kabur. Tidak ada seorangpun yang melihat kondisi terakhir dari Hyuna yang sudah memegang kepalanya.
Penuturan putranya barusan membuatnya menutup mulutnya saking tidak percayanya, jika Bagas belum pernah menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami kepada Hyuna sedikit pun.
Air matanya semakin menetes membasahi pipinya yang sudah nampak keriput itu di makan usia senjanya.
"Bagas putranya Ibu kalau emang Kamu belum pernah menyentuhnya, kalau gitu mulai sekarang tidurlah bersama dengan Hyuna, apa bedanya Hyuna dengan wanita itu, lebih cantik Hyuna jika dibandingkan dengan Wanita itu," ujarnya sambil memegang tangan Bagas dengan penuh kasih sayang lemah lembut.
Ibunya tidak ingin menghadapi permasalahan putranya dengan gegabah atau pun dengan kekerasan. Dia berusaha membujuk putranya dengan penuh kelembutan agar hati putranya yang sudah membatu itu tergerak sedikit saja untuk membuka pintu hatinya untuk Hyuna.
Ibu sangat berharap jika Kamu bisa mendengarkan perkataan Ibu, dan ibu sangat yakin jika putra Ibu adalah anak yang baik dan penurut, tolong penuhi permintaan Ibu nak untuk kali ini saja, Ibu mohon dengan sangat," ucapnya yang berlutut di depan putranya.
Mereka sama-sama berlutut dengan deraian air mata yang sedari tadi tidak berhenti sedikitpun.
Diandra yang mendengar perkataan dari Ibu mertuanya langsung mulutnya komat-kamit dengan wajahnya yang sudah menampilkan kilatan kemarahan dengan emosi yang sudah membuncah di dadanya.
"Mas Bagas jangan dengarkan perkataannya, jika mas Bagas mendengarkan dan memenuhi permintaan dari ibunya bisa gawat dan hancur rencanaku selama ini yang sudah berjalan mulus."
Wajahnya memancarkan kebencian terhadap Ibu mertuanya karena berusaha membujuk Bagas untuk berpaling darinya.
__ADS_1
"Maafkan Bagas Bu, kali ini Bagas tidak bisa memenuhi permintaan dari Ibu, mungkin Bagas akan dicap anak durhaka yang tidak berbakti kepada Ibu, tapi hati ini tidak mungkin bisa menduakan Diandra Bu, cintaku terlalu besar untuk Diandra seorang hingga akhir hayatku selamanya akan seperti ini," jelasnya agar ibunya mengerti dengan semua ini.
Diandra yang mendengarnya tersenyum penuh kemenangan karena Bagas tidak memenuhi permohonan ibunya itu.
Sedangkan Hyuna nafasnya tercekat, wajahnya memucat, kepalanya pusing pandangannya sudah kabur dan rumah ini di penglihatannya sudah kabur dan akhirnya tumbang juga ke atas lantai keramik.
Pingsannya Hyuna membuat Ibu Sulistiawaty berteriak keras.
"Hyuna!! putri Ibu," lalu berjalan tergesa-gesa untuk menolong Hyuna.
Bagas dan Diandra sedikit pun tidak berinisiatif untuk menolong Hyuna, mereka hanya menatap saja. Ibu Sulistyowati sudah duduk di hadapan Hyuna yang pingsan dan terbaring di atas lantai.
"Hyuna sayang, ini Ibu Nak, apa yang terjadi padamu sayang, ayo bangun Nak," ucapnya sambil memeriksa keadaan Hyuna.
Diandra ingin berteriak kegirangan melihat kondisi Hyuna yang mengenaskan itu, Tapi Diandra berusaha untuk menahannya sekuat tenaga jika tidak Bagas akan mengetahui kebusukannya selama ini.
"Bagas! apa yang Kamu lakukan di sana hahaha! apa Kamu ingin melihat kondisi Hyuna terusan seperti ini?" teriak ibunya ke arah Bagas.
Bagas pun berjalan ke arah ibunya, tapi tangannya ditarik oleh Diandra lalu menggelengkan kepalanya. Bagas menatap dengan memelas ke arah Diandra.
"Untuk kali ini saja sayang, kasihan juga dia jika kita tidak menolongnya, anggap saja ini yang pertama dan terakhirnya Mas lakukan untuk menolongnya," ucapnya yang setengah berbisik di telinga Diandra.
"Baringkan tubuh Hyuna di atas ranjangnya, cepat hubungin nomor dokter pribadi agar segera datang ke sini," titahnya pada anaknya.
Ibu Sulistiawaty memberikan minyak angin, minyak kayu putih juga di kepala Hyuna serta menggosokkan di dadanya. Bagas segera melaksanakan perintah ibunya itu.
Tidak butuh waktu lama, Dokter sudah hadir di tengah-tengah mereka dan sedang memeriksa kondisi Hyuna yang sangat nampak pucat, lemah belum sadarkan diri hingga sekarang.
Dokter lalu memeriksa tubuh Hyuna dengan seksama hingga tersenyum dan pandangannya dia alihkan ke arah Bagas. Bagas yang melihat raut wajah dokter tidak mengerti dengan maksud dari senyumannya itu.
"Bagaimana dengan kondisi menantuku Dokter?" tanya ibu Sulistiawaty yang tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter.
Dokter pun berdiri dan merapikan kembali peralatan medisnya ke dalam tasnya.
"Selamat Nyonya, menantu Ibu hamil Sudah dua bulan," jawab Ibu Dokter.
__ADS_1
Pernyataan dari dokter membuat mereka tidak menyangka dengan apa yang mereka dengar.
Bu Sulistiawaty sangat bahagia mendengar perkataan dan penjelasan dari dokter Keluarganya.
"Apa!!, itu tidak mungkin Dokter?" teriak mereka secara bersamaan.
......................
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all Readers..
__ADS_1
Semoga selalu suka dan tidak bosan bacanya yah...
Mohon maaf atas typo atau kesalahan dalam penulisannya..