Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 108. Kembali Terluka Dengan Kenyataan


__ADS_3

"Mami!!" Pekik seseorang yang sudah terbakar amarah melihat Mamanya sedang berpelukan dengan seorang pria yang sama sekali tidak diketahui.


Orang itu sangat marah menurutnya apa yang dilakukan oleh maminya itu sudah diluar batas mengingat usianya yang sudah tua sedang asyik berpelukan di depan orang banyak di tempat umum lagi.


Suara teriakan dari Vanessa mampu membuat berapa pengunjung Mall menolehkan kepalanya ke arahnya tanpa terkecuali dengan Dastan dan Bu Livia.


"Vanesa!" Lirihnya Bu Livia.


Dastan segera melepaskan pelukan Nyonya Livia yang dianggapnya adalah Mama kandungnya itu.


"Abang Dastan!" Cicitnya Jingga.


Mereka terkejut melihat ternyata pria yang berpelukan dengan maminya adalah Dastan pria yang disukai oleh Jingga. Jingga menutup mulutnya saking tidak percayanya melihat siapa sosok pria yang sudah membuat Vanessa marah dan m terbakar api emosi.


"Apa gara-gara Aunty Livia sehingga Abang Dastan sama sekali tidak peduli dan membalas cintaku yang tulus, suci dan murni hanya untuknya seorang," batinnya Jingga yang matanya sudah berkabut dan berembun siap untuk menetes.


Vanessa menatap ke arah sahabatnya itu, ia kemudian memegang tangan teman terbaiknya itu yang memilih jalan untuk hijrah memperbaiki penampilannya dan sifat serta karakternya yang selama ini kurang baik dan tidak pantas. Harus kembali menelan pahitnya rasa kecewa dan sedih melihat pria yang dipuja-pujanya dan dicintainya itu berpelukan dengan wanita lain di depan matanya dan yang paling parahnya adalah perempuan itu Maminya Vanessa sahabatnya sendiri.


Dastan yang menyadari kedatangan Jingga dibuat terkesima, terpukau dan terpesona dengan penampilan barunya Jingga yang begitu sopan dan bernuansa islami itu.


"Cantik… semoga jalan yang kamu pilih ini bisa bertahan untuk selamanya, bukan hanya pilihan sesaat dan akan cepat usang dimakan waktu," Dastan membatin.


Jingga sudah tidak sanggup melihat kondisi tersebut dan semakin terbakar rasa cemburu dan amarahnya dikala mendengar desas desus dari beberapa bibir orang yang berada di sekitar lokasi tempat itu.


"Apa pria itu tidak habis pikir, ganteng iya tapi sayangnya seleranya sangat rendah dan tidak masuk akal lebih memilih wanita yang sepatutnya jadi mamanya saja dibandingkan dengan kekasihnya," tutur perempuan yang berbaju hitam itu

__ADS_1


"Benar sekali apa yang kamu katakan, dimana otaknya laki-laki itu disimpannya, dengan kasat mata kasar saja sudah ketahuan kalau perempuan itu sudah tua walaupun masih sangat cantik diusia senjanya," timpal yang berambut pendek.


"Tapi,kalian jangan terlalu terkejut begitu, selow dan suntuy, apa kalian lupa kita hidup di zaman apa?? Sekarang mau masih muda, tua punya suami atau istri tidak jadi halangan jika mereka kaya dan keturunan sultan, pasti mereka melupakan norma adat dan sopan santun karena gara-gara harta dan uang semata," sahutnya yang berambut pendek.


Jingga semakin sedih dan kecewa mendengar orang-orang berbisik-bisik tetangga di dekatnya pas tidak terlalu jauh dari telinganya itu. Hatinya hancur semakin hancur mengetahui hal tersebut yang belum tentu sesuai dengan fakta yang ada.


"Aku tidak boleh berada di sini terus jika tidak ingin semakin kecewa dan sedih yang tidak bertepi," gumamnya Jingga.


Jingga perlahan melepaskan pegangan tangannya Vanesa kemudian berlari dari tempat tersebut. Air matanya yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh juga membasahi pipinya. Ia tidak kuasa membendung laju air matanya.


Tatapan dan pandangan orang-orang terhadapnya sama sekali tidak dihiraukannya lagi. Yang ada dalam pikirannya adalah harus bisa pergi secepatnya dari dalam Mall tersebut.


Vanessa Hudgens yang menyadari jika Jingga sudah melepaskan pegangan tangannya dan berlari dari sana ingin mengejar sahabatnya itu,tapi rasa marah, penasaran, serta keponya lebih besar dari niatnya untuk mengejar Jingga yang sudah terlanjur menjauh dari sana.


"Aku harus bertanya kepada mereka apa sebenarnya yang terjadi?" Lirihnya Vanessa yang melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Mami dan Dastan berada.


"Aaahhhhhh!! Tidak!!!" Pekiknya sambil memukul setir mobilnya hingga tangannya terasa panas, sakit, ngilu dan memerah akibat dari pukulannya sendiri.


"Mulai detik ini, namamu harus aku hapus dalam hatiku, aku akan menyetujui permintaan dari Mami untuk menerima perjodohan dengan Bastian," Cicitnya lalu menyalakan mesin mobilnya untuk pulang ke rumahnya.


Jingga membuang simcardnya ke atas aspal. Ia sudah bertekad untuk memulai hidup baru dengan menerima dan bersedia menikah dengan laki-laki pilihan kedua orang tuanya.


"Mami!! Katakan padaku apa hubungannya Mami dengan Abang Dastan Pria yang lebih muda dan pantas jadi anaknya Mami ini?" Tanyanya Vanessa dengan bernada menghina keduanya.


Tatapan matanya nyalang dan tajam kearah mereka yang berdiri mematung dan terdiam seribu bahasa di tempatnya.

__ADS_1


......................


Jangan lupa untuk Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul yang insya Allah ceritanya tidak kalah keren..



Pesona Perawan


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….

__ADS_1


Tetap Dukung Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Komen dan Gift Poin/Koinnya seikhlasnya.


__ADS_2