Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 81. Terpesona


__ADS_3

Mereka sama-sama lulusan SD, smp, SMA bahkan dari kampus Oxford university's dan mereka bersamaan juga lulusnya jadi sarjana S2 hingga sekarang. Mereka sudah dekat sejak kecil hingga mereka banyak yang menduga mereka adalah kembar Siam saja.


Guntur dan kedua orang tuanya sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut karena mereka bersyukur dan berterima kasih kepada ibunya Austin yang dengan ikhlas menjaga dan merawat kakek dan neneknya Guntur hingga mereka wafat tanpa mengeluh sedikit pun.


"Aku penasaran dengan wajahnya yang sekarang apa masih sama seperti dulu tapi apa masih kampungan yah?" Gumamnya Austin yang membuat senyuman tipisnya di wajahnya yang cukup ganteng tapi belum bisa mengalahkan kegantengannya Guntur yang cetar membahana.


"Hyuna sini sarapan dulu lah Nak sebelum berangkat!" Pinta Bu Tika yang sedikit berteriak ke arah kamar putrinya.


"Iya Bu tunggu sebentar lagi," jawabnya Hyuna dari dalam kamarnya yang membereskan berkasnya lalu memeriksa penampilannya.


Pak Hasan sudah duduk di kursi meja makan siap untuk menyantap sarapan paginya yang dibuat khusus penuh cinta dan kasih sayang oleh istrinya tercinta. Ada sayur bening, perkedel jagung, udang tepung terigu dengan sambal terasi yang wajib ada di meja makan.


Hyuna berjalan perlahan ke arah kedua orang tua angkatnya itu dengan senyum simpulnya itu. Bu Tika yang melayani suaminya menyempatkan dirinya untuk menolehkan kepalanya ke arah Hyuna yang penampilannya berubah tidak seperti awal dia datang. Hyuna terlihat cantik, girly, feminim dan pastinya cantik.


"Putriku sangat cantik, aku sangat beruntung jadi seorang Ibu jika seandainya dia adalah darah dagingku sendiri, tapi sebagai Ibu angkatnya saja aku sudah sangat bahagia," gumam Bu Tika yang menatap tidak berkedip ke arahnya Hyuna.


Pak Hasan yang sedari tadi menunggu nasi menyentuh permukaan piringnya. Ia menolehkan wajahnya ke arah atas karena tiba-tiba Bu Tika terdiam mematung dengan centong nasi menggantung di atasnya.


"Ibu! Apa yang kamu lakukan kenapa gak dituang nasinya?" Tanyanya Pak Hasan yang keheranan dengan sikap dari Bu Tika yang menjadi patung.


Pak Hasan pun menatap ke arah istrinya dan mengalihkan pandangannya ke arah yang ditatap oleh Ibu Tika. Beliau pun tidak jauh berbeda dengan apa yang sedang melanda Bu Tika istrinya itu.


"Hyuna sangat cantik, aku yakin dia tidak akan lama mengakhiri masa jandanya itu, tapi kenapa sepertinya aku pernah melihat wajahnya tapi, dimana yah karena aku merasa familiar dengan wajah cantiknya, ya Allah… semoga aku bisa mengingatnya siapa dia," Pak Hasan membatin.


Bu Tika sampai-sampai tidak berkedip saking terpesona melihat putrinya itu yang tersenyum lebar kearahnya. Senyuman ramah tamah selalu membuat beberapa pria yang melihatnya selalu terpesona dan klepek-klepek.


"Subhanallah sungguh indah dan cantiknya mahakaryaMu ya Allah… eloknya wajahnya yang ayu itu," pujinya Bu Tika yang pujiannya meluncur begitu saja.


Hyuna yang mendengar pujian dari Bu Tika tersenyum manis lalu mendudukkan tubuhnya ke atas kursi.

__ADS_1


"Ibu apa mau berdiri terus saja atau bagaimana nih?" Tanyanya Pak Hasan yang lebih bernada sarkas dibandingkan bertanya dengan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari istrinya itu.


Mereka lalu menyantap dan menikmati makanan yang tersedia di depannya dengan penuh hikmah. Tapi, kekaguman yang dirasakan oleh Bu Tika belum bisa sirna dari pikirannya.


"Masakan Ibu selalu yang paling enak dan lezat dan tidak ada duanya," pujinya Hyuna yang sesekali menyendok makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Syukur Alhamdulillah kalau kamu menyukai masakan Ibu, apa kamu ingin bawa bekal atau gimana?" Tanyanya saat menyelesaikan acara sarapan paginya itu.


Hyuna melihat sepintas lalu ke arah ibunya," tidak perlu repot-repot Bu, kemungkinannya siangan saya sudah pulang."


"Kalau gitu semangat untuk ikut tesnya dan ingat jangan lupa berdoa dan serahkan semuanya kepada Allah SWT yang penting kamu sudah berusaha," tutur Bu Tika.


"Siap Ibuku yang paling cantik dan baik sedunia," balasnya Hyuna sembari menyunggingkan senyumnya.


"Jangan lupa obatnya Nak kamu minum sebelum pergi," ujarnya Pak Hasan sebelum meninggalkan ruangan dapur minimalis itu.


"Insya Allah, siap Pak komandan," jawab Hyuna dengan gaya ala-ala anggota tentara saja.


Berselang beberapa saat kemudian, Hyuna sudah berangkat menuju Perusahaan Global Utama TBK dengan penuh semangat dan keyakinan yang kuat.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Hyuna sesaat sebelum memarkirkan motornya ke tempat parkiran khusus motor roda dua.


Hyuna menatap ke arah atas gedung pencakar langit yang sangat tinggi itu. Gedung dengan lantai lebih 30 itu adalah pusat dan center dari beberapa anak atau cabang perusahaan Global Utama TBK yang ada di dalam tanah air dan beberapa cabang lainnya yang tersebar di luar negeri.


Hyuna tersenyum ramah ke arahnya Security yang berjaga. Ia pun berjalan ke arah dalam Lobi Perusahaan dan berencana akan bertanya kepada resepsionis. Dia melirik ke arah jam tangannya yang melingkar di lengan tangannya bagian kiri.


"Ya Allah… dua belas menit lagi acara penyerahan berkasnya ditutup dan dilanjutkan dengan beberapa tes untuk pelamar yang lulus sesi pertama yaitu sesi kelengkapan berkas tersebut hampir dimulai, semoga saja aku tidak terlambat," cicitnya yang menambah kecepatan langkah kakinya berlari ke arah lift.


Dia melihat ada di depannya yang tidak jauh dari Lift. Ia pun semakin menambah kekuatan dan kecepatan larinya hingga selangkah lagi dia berada di dalam lift. Andai saja dia terlambat sedetik saja pasti dia akan ketinggalan lift, tapi untungnya ada tangan kekar yang sedikit panjang menarik tubuhnya hingga dia lolos masuk ke dalam ruangan lift.

__ADS_1


Tangan pria itu terlalu kuat sehingga tubuhnya tertarik dengan kuat dan menabrak tubuh seseorang yang berdiri tegak di dalam lift itu.


Mereka saling berpelukan hingga menjadi tontonan gratis dari beberapa pengguna lift. Hyuna belum membuka matanya yang terpejam sedari tadi sedangkan pria yang dipeluk oleh Hyuna tersenyum kegirangan.


Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Cinta dan Dendam


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....

__ADS_1


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….


Tetap Dukung Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Komen dan Gift Poin/Koinnya seikhlasnya


__ADS_2