
"Untuk sementara biarkan Hyuna tinggal disini sampai dia melahirkan, kasihan sama anaknya yang tidak berdosa itu," pinta Bu Sulis dengan menghibah.
"Apa!! Apa yang dipikirkan Mas sebenarnya? apa Mas Bagas tidak mengindahkan peringatan dan perkataan dari orang-orang tadi?" Geram Diandra yang mulai tersulut emosinya.
Diandra tidak menduga jika suaminya mengambil keputusan seperti itu. Bahkan apa yang dia pikirkan berbeda dengan apa yang dia dengarkan.
"Tapi Mas!!! bagaimana jika gara-gara keputusan Mas membuat calon bayi kita nantinya ikutan sial dan pihak kepolisian datang ke rumah kita," sanggah Diandra.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, Mas yakin kalau masyarakat pasti mengerti dengan jalan yang aku ambil, aku akan berbicara dengan Pak RT setempat," tutur Bagas.
Bagas yakin dengan pilihannya, Bagas juga tidak boleh egois Apa lagi selama ini keluarga angkatnya Hyuna, sangat banyak membantu hidup keluarganya hingga detik ini.
"Alhamdulillah makasih banyak nak, Ibu sangat bersyukur dan bahagia dengar apa yang Kamu pilih," ucap ibunya dengan merasa lega atas keputusan yang diambil oleh putranya itu.
Ibunya sedikit bisa tersenyum lega mendengar penuturan putra tunggalnya itu.
"Tapi Mas!!" Tolak Diandra.
Diandra terdiam sesaat mendengar suaminya yang berteriak di depannya. Diandra ingin menyanggah penjelasan Suaminya, tapi pasti akan sia-sia belaka.
"Stop Diandra!!!" Bentak Bagas dengan wajahnya yang mulai memerah menahan amarahnya.
Diandra terdiam sesaat dan tidak berniat untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Mas mohon hormati keputusanku kali ini, Mas lakukan ini demi kebaikan kita sendiri, jadi Mas mohon jangan coba-coba untuk menentang semua ini," terang Bagas yang memohon kepada Diandra dengan wajah memelasnya.
Bagas berlalu dari hadapan Diandra setelah berbicara seperti itu. Diandra mengepalkan tangannya saking marahnya. Diandra sangat marah dengan sikap Bagas yang tidak seperti biasanya.
Ibu mertuanya juga sudah pergi dari tempat tersebut. Tinggallah Diandra seorang diri berdiri mematung. Ia pun mengambil hpnya lalu segera menelpon antek-anteknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hyuna masih terjaga dan belum tertutup matanya.
Sedari tadi dia berusaha untuk memejamkan matanya tetapi, tidak berhasil. Hyuna lalu melirik ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya.
"Sudah jam 12 malam, mungkin mereka sudah tertidur."
Hyuna membuka lemari pakaiannya dan mengambil tas ransel kecilnya yang berada di rak paling bawah lemarinya.
Hyuna mengambil semua berkas penting di dalam laci lemarinya. Buku tabungan dan beberapa potong pakaiannya.
Air matanya terus menetes membasahi pipinya.
"Maafkan Hyuna Bu, ini jalan yang terbaik untuk kalian, aku tidak ingin gara-gara kehadiran dan kehamilanku membuat Ibu dan Mas Bagas sial dan menderita menahan malu."
Hyuna menatap mengelilingi seluruh ruangan kamar tidur yang hampir setahun ini dia tempati.
__ADS_1
"Maafkan Hyuna Mas, maafkan Hyuna Bu, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, ini jalan yang terbaik untuk kita bersama."
Hanya sedikit pakaian yang dia bawa. Barang-barang yang dibelikan oleh Ibu mertua dan suaminya.
Hyuna menarik laci meja nakasnya. Dan mencari buku dan bolpoin karena akan menulis surat khusus untuk ibu mertua dan suaminya.
"Ibu makasih banyak atas kasih sayang dan perhatian yang ibu berikan khusus untuk Hyuna, maafkan Hyuna ibu, belum bisa membalas kebaikan ibu dan bapak. Maafkan Hyuna sudah mengecewakan ibu dan belum bisa memenuhi keinginan ibu dan bapak."
Hyuna melipat kertas yang khusus untuk ibu mertuanya. Air matanya seakan tidak berhenti menetes membasahi wajahnya. Hyuna merobek selembar kertas lalu kembali menulis surat untuk Suaminya.
"Maafkan Hyuna Mas, setelah Mas baca surat ini, mungkin Hyuna sudah pergi jauh dari sini dari kehidupan mas dan yang lainnya. Jika mas ingin menceraikanku, Hyuna tidak marah, atau pun akan dendam. Aku tidak ingin menyusahkan Mas dengan kehadiranku terus di rumah ini, kalau Mas ingin bercerai dengan Hyuna, perlihatkan saja kertas ini insya Allah mereka akan mengabulkan keinginan dan tuntutan Mas Bagas di Pengadilan. Selamat tinggal Mas, aku bahagia sudah menikah dengan mas, maafkan Hyuna mas atas banyaknya masalah yang ditimbulkan oleh ku, semoga kepergian Hyuna membuat kalian bisa tenang dan bahagia."
Hyuna menyimpan dua buah kertas itu ke atas mejanya. Lalu perlahan berjalan ke arah luar. Hyuna celingak-celinguk melihat keadaan di sekelilingnya, dia tidak ingin ada yang melihatnya kabur dari sana.
"Maafkan bunda sayang, ini yang terbaik untuk Kita berdua, bunda janji akan menjaga dan merawatmu dengan baik."
Dia mengelus perutnya yang sudah perlahan membesar di usia kehamilannya yang sudah jalan tiga bulan. Hyuna menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara apa pun.
Untungnya, Hyuna memiliki satu kunci cadangan yang bisa dia pakai minggat dari sana. Berat hatinya untuk meninggalkan rumah yang begitu banyak memberikan sejuta kenangan untuknya.
Baru beberapa langkah Hyuna meninggalkan rumah besar itu, seseorang masuk ke dalam kamarnya.
Bila memang engkau tak lagi cinta
Lebih baik engkau katakan saja
Meninggalkan luka di dalam hati
Cukup sudah kau lukai hatiku
Yang selalu tulus mencintaimu
Ku iklaskan semua yang terjadi
Kuakhiri, cukup sampai disini
Pergilah engkau bersamanya
Anggaplah diriku yang tak pernah ada
Aku mohon, jangan lukai hatinya
Cukup aku saja,
Bila nanti engkau tak bahagia
__ADS_1
Kembalilah pintu selalu terbuka
Namun, hati takkan bisa kembali
Seperti dulu lagi
Cukup sudah kau lukai hatiku
Yang selalu tulus mencintaimu
Ku ikhlaskan semua yang terjadi
Kuakhiri, cukup sampai disini
Pergilah engkau bersamanya
Anggaplah diriku yang tak pernah ada
Aku mohon, jangan lukai hatinya
Cukup aku saja.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love