
"Aku yakin dengan sangat jika semua ini ada campur tangan wanita ular jadi-jadian itu," cicitnya Bu Sulis.
"Kami ke sini setelah mendengar kabar dan informasi jika menantu Ibu ada yang hamil tapi bukan putra ibu yang menghamilinya," jelas Bapak itu dengan melirik ke arah Diandra berada sembari tersenyum penuh arti.
Perkataan dari Bapak tersebut membuat Ibu Sulistiawaty terheran dan terkejut. Dia tidak menyangka jika fakta yang baru beberapa menit yang lalu dia ketahui, ternyata beberapa tetangga sudah mengetahui kenyataan pahit tersebut.
"Dari mana mereka tahu, dan gimana berita tersebut secepat itu mereka tahu, siapa yang membocorkan rahasia keluarganya?" Batinnya Bu Sulis dengan raut wajahnya yang penuh curiga.
Ibu Sulistiawaty memandang penuh selidik ke arah Diandra sedangkan yang ditatap seperti itu kembali berpura-pura dan segera mengeluarkan air mata palsunya. Air mata buaya yang dikeluarkan oleh Diandra berhasil karena mampu membawa empati dari beberapa warga masyarakat yang kebetulan datang di rumah mereka.
Bagas menatap wajah ibunya dan meminta penjelasan dari apa yang mereka katakan. Bagas tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh ibunya.
"Ya Allah.. mereka kok bisa tahu semua ini padahal kejadiannya baru beberapa jam yang lalu," Bagas membatin dan tidak percaya dengan situasi apa yang terjadi saat itu.
"Maaf, apa yang anda katakan semuanya itu tidak benar, lagian info dari mana bapak-bapak dan ibu-ibu dapatkan?" tanya Ibu Sulistyowati yang ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Seperti yang dikatakan oleh Ibuku benar adanya, istriku tidak ada yang hamil dari pria lain, kalian jangan sembarang bicara ini sama saja dengan fitnah," kilah Bagas dengan nada suara yang cukup tegas.
"Ibu Sulistiawaty dan pak Bagas, tidak usah menutupi semua fakta yang ada, kami semua yang ada di sini sudah tahu kalau bapak memiliki dua istri dan salah satu dari mereka ada yang hamil, tapi bukanlah Bapak yang menghamilinya," balasnya Ibu-ibu yang memakai daster itu.
"Kami hanya meminta tolong kepada kalian untuk segera mengusirnya dari sini, Kami tidak ingin komplek perumahan Kami ternoda gara-gara kelakukan menantunya Ibu," jelasnya dengan wajah yang serius.
Diandra semakin dibuat tersenyum oleh perkataan mereka yang mampu langsung mengena ke intinya sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Mereka patut mendapat piala Oscar, tidak sia-sia aku keluarkan uang banyak kalau seperti ini," gumam Diandra disela tangisnya.
"Kami tidak ingin gara-gara kejadian ini lingkungan kita ini tercemar dan parahnya jika harus mendapatkan azab dari Allah," timpal si bapak itu dengan mulai marah dan seperti seseorang yang sedang mencari tempat pelampiasan saja.
"Kalian semua ini dapat informasi itu dari mana?" tanya Bagas dengan menatap satu persatu orang yang hadir di depan pintunya.
"Bapak Bagas tidak perlu tahu semua itu, yang paling penting di sini bapak mengusir dan menceraikan Hyuna segera agar Kompleks kita aman dari kutukan dan murka Allah SWT," sanggah Ibu yang memakai hijab besar.
Hyuna yang berdiri tidak jauh dari mereka terkejut dengan perkataan dari orang itu. Air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar serta tiba-tiba kakinya menjadi lunak dan tidak mampu menopang berat tubuhnya. Untung tangannya masih mampu meraih tembok sehingga bisa berpegangan.
"Ayo tambah semangat kalian untuk mengusir nyamuk betina itu dari sisi suamiku, biar dia tahu diri dan minggat angkat dari sini," umpat Diandra.
Diandra mengangkat jarinya ke arah mereka. Ia tersenyum penuh arti dan bahagia karena, sukses membuat orang-orang percaya dengan perkataannya. Mereka membantunya untuk mengusir Hyuna dari sini untuk selamanya, walaupun semuanya tidak gratis.
"Astagfirullahaladzim," ucap Ibu Sulistiawaty yang shock mendengar penuturan dari orang-orang dengan menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Kenapa kalian bersikeras untuk mengusir Hyuna dari sini, apa salah Hyuna pada kalian?" tanya Ibu Sulis yang sudah mulai emosi dan semakin tidak mengerti dengan sikap mereka semua.
"Bapak bagaimana caranya Kami mengusir Hyuna yang sedang sakit, di mana hati nuraninya bapak haaa!!" Bentak Bagas.
__ADS_1
Diandra tidak percaya melihat reaksi dari suami sirinya yang membela Hyuna. Ia jengkel karena Bagas membela istri sahnya.
"Mas!! aku takut jika semua perkataan dari mereka jadi kenyataan, apa yang akan kita lakukan kalau seperti itu," ucap Diandra yang memelas dan menangis sambil bergelantungan di lengan suaminya.
"Betul sekali yang dikatakan ibu Diandra, Kami pun takut jika hal tersebut terjadi," timpal Bapak yang perutnya membuncit.
"Jadi apa yang kalian inginkan?" tanya Bagas yang sudah kehabisan akal dan cara untuk meyakinkan mereka.
"Kami berikan waktu dua hari, jika Bapak dan ibu tidak mengusir dan menceraikan Hyuna, Kami akan bertindak lebih kasar dari ini, kemungkinan besar Kami akan menyeret dan memanggil polisi," terangnya dengan matanya yang seakan-akan ingin melompat dari kelopak matanya.
Setelah berbicara seperti itu mereka meninggalkan rumah Bagas. Diandra tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya perempuan itu akan pergi dari sini, sepertinya perlu dirayakan deh," batinnya Diandra dengan pongahnya.
Ibu Sulistiawaty dan Bagas saling berpandangan satu sama lain. Air mata ibunya menetes yang tidak menyangka jika hidup Hyuna sangat lah berat dan penuh dengan cobaan.
Hyuna berjalan tertatih ke dalam kamarnya. Hyuna tidak menyangka jika akan berakhir seperti ini rumah tangganya yang sudah dia pertahankan dengan mati-matian.
"Mungkin ini sudah jalannya, aku harus pergi dari sini demi kebaikan mereka," lirihnya Hyuna dengan deraian air matanya yang menetes membasahi pipinya.
Tak pernah terbayang
Akan jadi seperti ini pada akhirnya
Semua waktu yang pernah kita lewati Bersama nyata hilang dan sirna
Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Seribu satu cara kita lewati
Tuk dapatkan semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah
Aku akan tetap setia
Bila memang ini ujungnya
Kau akan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
__ADS_1
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau akan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah
Tapi aku tegar menjalani kosongnya hati Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi Tersimpan tuh jadi history
Hitam putih berlalu
Janji kita menunggu
Seribu satu cara kita lewati
Tuk dapatkan semua jawaban ini.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love