
Penampilan Hyuna mampu membuat Bagas tergoda. Hal tersebut diketahui oleh Diandra, sehingga diandra langsung menginjak kaki bagas yang ada di bawah meja.
"Aauhhh," ucap Bagas yang mengeluh karena kakinya diinjak oleh Diandra dengan sekuat tenaga yang menggunakan slop sepatunya.
Diandra memelototkan matanya ke arah Bagas saat mengetahui apa yang dilakukan Bagas saat melihat Hyuna yang sedang memasak. Diandra geram dan jengkel melihat tatapan matanya Bagas.
Diandra menatap jengah dan penuh amarah ke arah Bagas, Ia yang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Diandra langsung berusaha menenangkan Diandra agar tidak marah. Tetapi kedatangan pak Handoko membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Pak Handoko tiba-tiba datang dan bergabung duduk dengan mereka, sehingga Bagas langsung bergeser posisi duduknya dan sedikit menjauh dari Diandra.
Hal tersebut tidak luput dari pandangan pak Handoko, beliau sempat mengerutkan keningnya, tapi langsung membuang prasangka jeleknya tersebut dari pikirannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya dengan putraku dan kakak sepupunya Hyuna, kenapa sejak kemarin aku perhatikan sepertinya ada yang aneh, tapi semoga saja firasatku ini tidak benar adanya dan hanya sekedar feeling yang tidak akan jadi kenyataan." gumam Pak Handoko.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Hyuna pun menyelesaikan masakannya dan segera menyajikan masakan tersebut di atas meja.
"Aku tidak bisa membohongi diriku jika hari ini dia sangat cantik, apa karena selama ini aku tidak pernah memperhatikannya dan menatap saja aku enggan padahal sebenarnya aku tidak bakalan rugi," Bagas diam-diam membatin.
Yang lainnya pun sudah duduk di depan meja makan dan bersiap untuk menikmati semua masakan yang dimasak oleh Hyuna.
"Diandra maaf ya, saya hanya bisa masak makanan seperti ini, semoga Kamu suka dengan masakan sederhana saya," ucap Hyuna saat sudah mendudukkan bokongnya dengan sengaja berkata seperti itu.
"Siapa yang bilang nak masakanmu itu sederhana? menurut ibu masakanmu ini sudah luar biasa, jarang loh ada perempuan yang bisa masak bahkan mereka bisa dihitung dengan jari," terang ibu Sulis sembari melirik ke arah Diandra yang dari raut wajahnya sudah kelihatan dia sangat marah.
"Kenapa semua orang berlomba-lomba untuk memujinya padahal hanya masakan rumahan yang dia masak," umpatnya Diandra dengan menggertakan giginya hingga berbunyi gemelatuk seirama dengan sendok makan yang dia bunyikan.
Bu Sulis tertawa melihat tingkahnya Diandra yang seperti itu.
__ADS_1
"Tapi, biasanya perempuan itu hanya pintar memegang alat makeup saja, tapi kamu mampu menjadi istri yang sholehah yang pintar memasakkan makanan untuk suami Kamu dan semoga Bagas selalu menyukai masakanmu," terang Ibu Sulistiawaty.
Ibu Sulistyowati melirik ke arah Diandra dengan jengah. Firasat Ibu Sulistiawaty semakin kuat saja dan sangat yakin jika ada hubungan yang tidak biasa yang terjalin antara Diandra dengan Bagas putra sulungnya.
"Apa Diandra adalah cewek yang dikatakan oleh Bagas saat menolak untuk dijodohkan dengan Hyuna waktu itu? Semoga saja dugaan ku salah." Batinnya Bu Sulis yang menduga.
Ibu Sulistiawaty menatap secara bergantian ke arah Hyuna, Bagas dan Diandra. Ibu Sulistiawaty menangkap ada yang tidak beres dengan pernikahan anaknya.
"Diandra seharusnya tempat duduk itu adalah kursi untuk Hyuna Sang istri pemilik rumah ini sekaligus Nyonya rumah ini bukannya kamu, seharusnya kamu duduk disana, ingat batasanmu itu hanya tamu di sini," sanggah ibu Sulistyowati yang merasa jengkel dengan sikap yang ditunjukkan oleh Diandra.
Diandra langsung berdiri dan bertukar posisi dengan Hyuna, Bagas hanya bisa melihat tidak tidak mampu untuk menentang keinginan dari ibunya itu.
"Aku akan berusaha membuat kamu pergi dan angkat kaki dari sini," lirihnya Bu Sulis.
__ADS_1